PROBACA.COM – Protokol kesehatan astronot NASA kembali diuji setelah masalah medis yang dinilai “serius” memaksa pembatalan rencana perjalanan luar angkasa di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2026. Kondisi ini juga sempat memunculkan opsi pemulangan kru lebih awal ke Bumi.
NASA menjelaskan, tidak ada dokter yang bertugas langsung di ISS. Sebagai gantinya, para astronot dibekali pelatihan penanganan darurat dan didukung layanan telemedisin untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis di Bumi. Setiap kru juga diawasi oleh seorang dokter penerbangan yang memantau kesehatan mereka sebelum, selama, dan setelah misi.
Peralatan Medis dan Opsi Evakuasi
ISS dilengkapi apotek dan peralatan medis yang cukup lengkap, dengan kru yang sudah terlatih menggunakannya. Dalam kasus tertentu, seperti pembekuan darah pada salah satu astronot, penggunaan obat diatur ketat agar kondisi tetap stabil hingga perjalanan aman dilakukan.
Jika situasi darurat tak bisa ditangani di orbit, evakuasi menjadi pilihan. Kapsul Soyuz atau Crew Dragon yang sedang berkunjung dapat difungsikan sebagai “sekoci penyelamat” untuk membawa kru kembali ke Bumi. Setibanya di darat, tim dokter dan petugas medis sudah siap menangani mereka.
Pelatihan dan Telemedisin Jadi Andalan
Setiap astronot ISS dilatih sebagai penolong medis dan dibekali perlengkapan trauma serta perangkat USG portabel untuk kondisi darurat. Melalui koneksi telemedisin yang aman, kru dapat berkonsultasi langsung dengan dokter penerbangan kapan pun dibutuhkan.
Astronot NASA, Tom Marshburn, menegaskan kesiapan tersebut. “Kami memiliki alat untuk melakukannya,” ujarnya, merujuk pada sistem medis dan dukungan yang tersedia di luar angkasa.
***












