PROBACA.COM – Fenomena kemunculan sinkhole atau lubang raksasa di area persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mendadak menjadi perbincangan hangat masyarakat. Kejadian alam yang muncul sejak awal Januari 2026 ini tidak hanya mengejutkan warga setempat, tetapi juga menarik perhatian publik luas setelah viral di media sosial.
Unggahan akun Instagram @pembasmii.kehaluan pada Senin, 12 Januari 2026, memperlihatkan kondisi sinkhole yang kini berubah menjadi objek wisata dadakan. Setiap harinya, ratusan orang datang ke lokasi hanya untuk melihat langsung lubang raksasa tersebut, bahkan menimba air dari dalamnya meski area sekitar telah dipasangi palang peringatan.
Fenomena ini memunculkan beragam respons, mulai dari rasa takjub, keyakinan mistis, hingga kekhawatiran serius terkait keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Sinkhole di Situjuah Batua Jadi Wisata Dadakan
Keberadaan sinkhole di tengah sawah membuat lokasi tersebut tampak tidak biasa. Air di dalam lubang raksasa itu awalnya berwarna cokelat keruh, lalu perlahan berubah menjadi biru jernih. Perubahan warna inilah yang memicu spekulasi warga bahwa air tersebut memiliki khasiat khusus.
Sebagian pengunjung bahkan datang membawa galon lengkap dengan keran untuk mengisi air dan membawanya pulang. Mereka meyakini air sinkhole mampu menyembuhkan berbagai penyakit, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Antusiasme warga yang tinggi membuat kawasan persawahan yang sebelumnya sepi mendadak ramai. Sayangnya, kondisi ini juga meningkatkan risiko kecelakaan karena struktur tanah di sekitar sinkhole belum diketahui tingkat kestabilannya.
Keyakinan Khasiat Air Sinkhole dan Respons Warganet
Kepercayaan terhadap khasiat air sinkhole menyebar cepat dari mulut ke mulut. Banyak warga menganggap air tersebut sebagai “air alam” yang belum tersentuh bahan kimia, sehingga dinilai lebih murni dan menyehatkan.
Namun, di kolom komentar media sosial, tidak sedikit warganet yang menyuarakan kekhawatiran. Sebagian mempertanyakan keamanan tanah di sekitar lubang yang bisa saja ambles sewaktu-waktu. Ada pula yang mengingatkan risiko kesehatan akibat mengonsumsi air yang belum diuji secara medis.
Komentar-komentar ini menunjukkan adanya perbedaan sudut pandang antara kepercayaan tradisional dan pendekatan ilmiah yang mengedepankan keselamatan.
Peringatan BBPOM: Air Sinkhole Berpotensi Berbahaya
Menanggapi fenomena tersebut, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) memberikan peringatan tegas. Air yang berasal dari sinkhole berpotensi mengandung bakteri berbahaya, logam berat, hingga zat kimia alami yang tidak aman bagi tubuh manusia.
BBPOM menegaskan bahwa air sinkhole belum melalui uji klinis maupun penelitian ilmiah yang melibatkan manusia. Tanpa proses pengujian yang memadai, air tersebut tidak dapat diklaim aman atau berkhasiat sebagai pengobatan alternatif.
Jika dikonsumsi secara terus-menerus, air dari lubang ambles berisiko menimbulkan gangguan kesehatan seperti diare, infeksi saluran pencernaan, hingga keracunan logam berat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mengonsumsi air dari sumber alam yang belum terverifikasi keamanannya.
Apa Itu Sinkhole? Pengertian dan Karakteristiknya
Sinkhole adalah lubang atau cekungan besar yang terbentuk akibat runtuhnya permukaan tanah. Menurut laporan National Geographic, sinkhole umumnya terjadi karena proses pelarutan batuan dasar oleh air hujan yang bersifat asam.
Lubang ambles paling sering ditemukan di wilayah karst, yaitu daerah yang memiliki batuan karbonat seperti kapur dan dolomit, atau mineral evaporit seperti garam dan gipsum. Jenis batuan ini mudah larut dalam air, sehingga rentan membentuk rongga di bawah permukaan tanah.
Ketika air tanah meresap melalui retakan batuan dan mengendap dalam waktu lama, proses pengikisan pun terjadi. Rongga bawah tanah semakin membesar hingga akhirnya lapisan tanah di atasnya tidak lagi mampu menahan beban, lalu runtuh dan membentuk sinkhole.
Proses Terbentuknya Sinkhole Secara Alami
Proses pembentukan sinkhole berlangsung secara perlahan dan sering kali tidak terdeteksi dari permukaan. Erosi pada lapisan bawah tanah dapat memakan waktu ratusan hingga ribuan tahun sebelum akhirnya menunjukkan dampak nyata.
Pada tahap awal, partikel tanah jatuh ke dalam celah batuan yang terkikis air. Seiring waktu, celah tersebut melebar dan membentuk gua bawah tanah. Ketika atap gua menjadi terlalu tipis, runtuhan pun terjadi.
Dalam banyak kasus, sinkhole baru terlihat setelah tanah amblas secara tiba-tiba, sehingga sering mengejutkan masyarakat di sekitarnya.
Faktor Alam dan Aktivitas Manusia Pemicu Sinkhole
Selain proses alami, beberapa faktor dapat mempercepat terbentuknya sinkhole. Kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat atau kekeringan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko runtuhan tanah.
Aktivitas manusia juga berperan besar, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan, pembangunan konstruksi berat, serta perubahan tata guna lahan. Pompa air tanah yang masif dapat mengosongkan rongga bawah tanah lebih cepat, sehingga memperbesar kemungkinan amblesan.
Di daerah persawahan seperti Nagari Situjuah Batua, perubahan aliran air dan struktur tanah akibat aktivitas pertanian juga patut diperhatikan sebagai faktor pendukung.
Jenis-Jenis Sinkhole yang Perlu Diketahui
Secara umum, terdapat dua jenis sinkhole yang paling sering terjadi. Pertama adalah sinkhole penurunan permukaan lambat atau slow-growing cover-subsidence sinkholes. Jenis ini berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari hingga tanah mulai menurun.
Kedua adalah sinkhole runtuhan atau cover-collapse sinkholes. Jenis ini jauh lebih berbahaya karena dapat muncul secara tiba-tiba dalam hitungan jam. Runtuhan terjadi ketika atap gua bawah tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.
Sinkhole di Nagari Situjuah Batua masih memerlukan kajian geologi lebih lanjut untuk memastikan jenis dan tingkat risikonya.
Pentingnya Edukasi dan Kewaspadaan Masyarakat
Fenomena sinkhole di Sumatera Barat ini menjadi pengingat pentingnya edukasi kebencanaan berbasis sains. Keingintahuan masyarakat terhadap fenomena alam memang wajar, namun harus diimbangi dengan pemahaman risiko yang menyertainya.
Pemerintah daerah, akademisi, dan pihak terkait perlu segera melakukan penelitian mendalam serta memberikan informasi yang jelas kepada warga. Pembatasan akses ke lokasi berbahaya juga harus ditegakkan demi mencegah jatuhnya korban.
Alih-alih mempercayai klaim khasiat yang belum terbukti, masyarakat sebaiknya mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Fenomena alam seperti sinkhole bukan untuk dieksploitasi, melainkan dipahami dan diantisipasi dengan bijak.
Dengan pendekatan ilmiah dan kesadaran kolektif, fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua dapat menjadi pelajaran berharga tentang hubungan manusia dengan alam, sekaligus pentingnya menghormati proses alam yang tidak selalu bisa diprediksi.
***
















