Meta Luncurkan Muse untuk Mengejar Ketertinggalan dalam Persaingan AI

Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge

PROBACA.ID – Meta memperkenalkan Muse sebagai agen kecerdasan buatan personal yang ditujukan untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai pekerjaan sehari-hari. Peluncuran ini menjadi bagian dari perubahan strategi bernilai miliaran dolar yang dilakukan perusahaan untuk memperkuat posisinya dalam persaingan AI melawan OpenAI, Anthropic, dan Google.

Muse dirancang untuk menangani tugas seperti belanja daring, mengirim email, hingga merencanakan perjalanan. Setelah menerima tujuan dari pengguna, sistem tersebut diklaim dapat bekerja secara mandiri dengan membuka peramban, mengisi formulir, dan bahkan bernegosiasi atas nama pengguna.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan waktu lama, Meta menyebut Muse tetap dapat bekerja di latar belakang meski aplikasi telah ditutup. Agen itu akan kembali meminta perhatian pengguna apabila terjadi perubahan atau diperlukan persetujuan, termasuk ketika hendak melakukan pembelian.

Muse akan diluncurkan di Amerika Serikat melalui perangkat iOS, Android, dan situs muse.ai. Integrasi dengan kacamata AI Meta disebut akan tersedia “segera”. Layanan ini akan gratis bagi sebagian besar pengguna, sementara paket berlangganan berbayar disiapkan bagi “orang-orang yang ingin melakukan lebih banyak”. Meta belum menjelaskan harga maupun rincian batas penggunaan pada paket gratis.

Baca Juga

“Muse adalah langkah pertama: agen yang mengambil alih lebih banyak pekerjaan agar orang-orang dapat berfokus pada hal-hal yang penting bagi mereka,” kata Meta.

Meta memosisikan Muse sebagai agen AI personal yang dapat digunakan semua orang. Namun, produk tersebut hadir di tengah banyaknya asisten dan agen AI serupa yang dikembangkan perusahaan lain. Sejumlah layanan pesaing menyasar perusahaan atau pengguna dengan kemampuan teknis, antara lain ChatGPT Work dari OpenAI, Claude Cowork dari Anthropic, Copilot Tasks dari Microsoft, Grok Bot dari SpaceXAI, serta agen sumber terbuka Moltbot.

Google juga disebut membidik kelompok pengguna serupa melalui asisten Gemini Spark yang baru diumumkan. Meta berharap Muse dapat menonjol melalui kemudahan penggunaannya.

Perusahaan menyatakan, “Siapa pun dapat menggunakannya langsung tanpa pengalaman teknis,” serta mengklaim tidak ada kurva pembelajaran. Pengguna dapat berkomunikasi dengan Muse melalui aplikasi khusus maupun WhatsApp. Meta juga mengatakan Muse dapat mengingat detail yang disampaikan pengguna, termasuk informasi yang hanya disebut satu kali, sehingga mampu memberikan saran yang lebih baik dan tanpa diminta.

Aspek privasi menjadi bagian penting dari penawaran Muse. Meta menyebut pengguna dapat menolak penggunaan interaksi mereka untuk melatih model AI perusahaan, meski belum diketahui apakah pilihan tersebut secara bawaan akan aktif atau tidak. Pengguna juga dapat meminta Muse melupakan informasi tertentu yang telah dipelajarinya.

Akses agen AI terhadap informasi pribadi dan kredensial, seperti kata sandi serta data pembayaran, menimbulkan tantangan keamanan dan privasi. Untuk mengatasinya, Muse dijalankan pada komputer virtual di cloud yang dirancang agar data tetap terlindungi dan terpisah dari agen milik pengguna lain.

Menurut Meta, Muse tidak dapat melihat kata sandi maupun metode pembayaran. Komputer virtual tersebut juga diawasi agen AI lain bernama Sentinel, yang bertugas memastikan tindakan Muse tidak dapat terhubung ke internet tanpa persetujuan.

Meta berencana memperkenalkan versi komputer virtual “rahasia” yang lebih aman pada akhir tahun ini. Versi tersebut akan dienkripsi sehingga bahkan Meta tidak dapat mengaksesnya. Perusahaan juga menyatakan dukungan untuk 1Password dan Shop Pay sedang disiapkan, sedangkan pembayaran melalui Stripe Link sudah dapat dilakukan secara aman.

Muse ditenagai model internal Meta bernama Muse Spark dan diproyeksikan menjadi pusat strategi AI perusahaan ke depan. Dengan statusnya sebagai perusahaan teknologi dan media sosial yang dikenal luas, Meta memiliki peluang untuk menjangkau pengguna yang tidak terlalu berpengalaman dalam teknologi.

Meski demikian, Meta masih menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan. Perusahaan baru saja melewati persidangan panjang mengenai dampak media sosial dan sebelumnya menghadapi sejumlah masalah privasi, termasuk skandal Cambridge Analytica.

Produk AI Meta juga pernah menuai sorotan. Perusahaan sempat menghadirkan fitur “Discover” yang menampilkan perintah, percakapan, dan keluaran gambar milik pengguna lain. Selain itu, chatbot dukungan Meta disebut membantu peretas mengambil alih lebih dari 20.000 akun Instagram. Meta juga pernah meluncurkan umpan berita berbasis AI yang berumur singkat dan berisi umpan klik, yang disebut tampak melanggar kebijakannya sendiri terkait konten AI.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber Theverge

PILIHAN EDITOR

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.