Apple menghadirkan sejumlah pembaruan kamera pada iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, termasuk kontrol apertur manual dan iris mekanis yang dapat diatur. Meski demikian, fitur apertur variabel tersebut dinilai bukan bagian paling menarik dari kamera generasi terbaru itu. Apertur maksimum f/1.48 justru diperkirakan memberi dampak yang lebih terasa bagi pengguna.
Kedua model memiliki iris mekanis yang tertanam pada kamera utama. Komponen ini memungkinkan kamera mengatur jumlah cahaya yang masuk ke sensor melalui pilihan apertur f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.
Pengguna juga dapat membiarkan kamera menentukan apertur secara otomatis. Bagi yang menginginkan kendali lebih besar, aplikasi kamera bawaan iPhone 18 Pro menyediakan sejumlah pengaturan profesional, seperti kecepatan rana, keseimbangan putih manual, fokus manual, serta kontrol apertur.
Menurut Antonio G. Di Benedetto dari The Verge, rangkaian kontrol tersebut menjadi tambahan penting karena sebelumnya pengguna perlu memasang aplikasi kamera pihak ketiga seperti Halide untuk mendapatkan sebagian fitur serupa. Namun, ia mengingatkan agar ekspektasi terhadap apertur variabel tidak terlalu tinggi.
Alasannya, sensor kamera ponsel masih berukuran relatif kecil. Dalam banyak situasi, terutama pada jarak menengah dan jauh, sebagian besar objek sudah berada dalam fokus meskipun kamera digunakan pada apertur lebar.
Mengubah apertur ke f/4 memang dapat memperluas kedalaman bidang pada objek jarak dekat. Pengaturan itu juga berpotensi membantu membuat lebih banyak orang tetap fokus dalam foto grup, selama tersedia cukup cahaya dan posisi mereka tidak berada pada satu garis yang sama.
Apertur lebih kecil juga dapat berguna saat merekam video di kondisi yang sangat terang, misalnya di bawah sinar matahari langsung. Namun, situasi tersebut dinilai tidak akan muncul terlalu sering dalam penggunaan sehari-hari.
Selain itu, penggunaan apertur f/4 tidak selalu menghasilkan gambar yang lebih tajam. Difraksi lensa dapat membuat hasil foto pada apertur tersebut justru kurang tajam dibandingkan pengaturan f/1.8 atau f/2.8.
Sejumlah produsen lain, termasuk Samsung dan Xiaomi, sebelumnya juga pernah bereksperimen dengan apertur variabel pada ponsel. Akan tetapi, fitur tersebut kemudian tidak lagi menjadi bagian utama pada produk mereka.
Di Benedetto menilai apertur maksimum f/1.48 sebagai fitur yang lebih menjanjikan. Tahun sebelumnya, kamera iPhone Pro menggunakan apertur f/1.7. Dengan apertur baru tersebut, kamera iPhone 18 Pro diperkirakan mampu bekerja lebih baik dalam kondisi minim cahaya dan menghasilkan kedalaman bidang yang sedikit lebih dangkal.
Perbedaan antara f/1.48 dan f/1.7 kemungkinan tidak akan menghasilkan perubahan besar pada efek bokeh. Meski begitu, perbedaan kecil itu tetap dapat memberikan tampilan latar belakang yang lebih buram, karakter yang kerap disukai ketika memotret potret manusia.
Dalam artikel tersebut, Di Benedetto membandingkan karakter itu dengan pengalaman menggunakan kamera full-frame dan lensa 50mm dengan apertur maksimum f/1.2. Lensa dengan apertur sangat lebar dapat menghasilkan latar belakang buram yang membuat subjek tampak lebih terpisah dari lingkungan di belakangnya.
Ia menegaskan bahwa f/1.48 pada iPhone 18 Pro tidak dapat disamakan dengan f/1.2 pada kamera full-frame. Sensor berukuran besar tetap mampu menghasilkan efek kedalaman bidang yang lebih kuat. Namun, tampilan seperti itulah yang selama ini berusaha ditiru melalui fitur Portrait Mode pada ponsel.
Secara keseluruhan, iPhone 18 Pro diperkirakan tetap menawarkan kemampuan kamera yang kuat, sebagaimana lazimnya ponsel kelas atas. Kontrol manual yang tersedia langsung di aplikasi bawaan juga dinilai menarik, meski tidak semua pengguna akan memakainya setiap kali mengambil foto.
Di Benedetto menyimpulkan bahwa pengguna mungkin hanya bereksperimen dengan pengaturan apertur pada masa awal memakai ponsel. Setelah itu, fitur tersebut bisa saja jarang digunakan. Sebaliknya, apertur f/1.48 diperkirakan tetap memberi manfaat dalam pemotretan minim cahaya dan menghasilkan karakter gambar yang lebih disukai pengguna.
Artikel ini ditulis Antonio G. Di Benedetto dan dipublikasikan The Verge pada 10 September 2026 pukul 10.00 UTC.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber Theverge

























