TANGERANG SELATAN, PROBACA.CO.ID — Bagi Imran, deru motor penggerak dan jalinan kabel rumit bukanlah benda mati yang membosankan. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ketertarikannya pada dunia robotika telah tumbuh menjadi sebuah gairah besar.
Ketekunan yang dipupuk selama bertahun-tahun itu kini berbuah manis, mengantarkannya terbang jauh menembus impian masa kecilnya. Siswa SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan ini resmi dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima Program Beasiswa Garuda Gelombang I Tahun 2026.
Melalui program ini, Imran akan melanjutkan studi di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), salah satu universitas sains dan teknologi terkemuka di Korea Selatan, dengan spesialisasi Electrical Engineering atau Teknik Elektro. Bagi anak muda seperti Imran, ruang kelas hanyalah sebagian kecil dari laboratorium belajarnya.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bereksplorasi, melakukan riset mandiri, dan melakukan praktik langsung demi mengasah keahliannya. Dari proses kreatif itulah lahir sebuah empati; ia menyadari bahwa teknologi tidak boleh sekadar menjadi pajangan yang canggih, melainkan harus mampu menjadi solusi konkret atas berbagai persoalan nyata di masyarakat.
Salah satu fokus kemanusiaan yang menjadi perhatian utamanya adalah pengembangan teknologi robotik untuk penanganan dampak bencana alam di tanah air. Imran bermimpi teknologi yang ia ciptakan kelak dapat mempermudah proses evakuasi maupun pemulihan pasca-bencana.
“Saya ingin membuat startup robotik semacam industri. Saya ingin berkontribusi besar dalam menciptakan inovasi dan invensi yang membantu penanganan bencana alam, sektor kesehatan, dan mungkin juga sistem pendidikan,” ujar Imran dengan mata berbinar seusai mengikuti tahapan pembekalan penerima Beasiswa Garuda Gelombang I di Jakarta.
Meski memiliki mimpi yang membubung tinggi, Imran tak menampik bahwa kekhawatiran finansial sempat membayangi langkahnya untuk kuliah di luar negeri. Biaya pendidikan internasional yang terbilang besar sering kali menjadi tembok tebal bagi anak-anak muda berbakat di Indonesia. Kehadiran beasiswa penuh dari pemerintah ini pun menjadi jawaban atas keraguannya selama ini.
“Untuk Beasiswa Garuda ini aku benar-benar apresiasi. Karena tanpa ini kemungkinan saya juga agak ragu untuk berkuliah di luar negeri, apalagi dengan biayanya yang cenderung lebih mahal daripada di Indonesia,” ungkapnya jujur.
Dukungan finansial menyeluruh yang diberikan program ini—mulai dari persiapan pralokasi seperti biaya buku hingga biaya hidup selama masa studi di Korea Selatan—memberikan ketenangan tersendiri bagi Imran. Rasa aman ini membuatnya bisa melepaskan beban pikiran dan fokus sepenuhnya mempersiapkan diri menghadapi tantangan akademik di KAIST.
Perjalanan Imran tidak hanya menjadi kisah sukses personal, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi generasi muda lainnya agar berani bersaing di panggung global. Dengan bekal ilmu dan pengalaman internasional, para penerima beasiswa ini diharapkan dapat kembali ke tanah air sebagai sumber daya manusia yang unggul dan siap membangun negeri sesuai keahlian masing-masing.
Menutup ceritanya, Imran menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada pihak-pihak yang telah membuka jalan bagi mimpinya. “Saya berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang sudah menyelenggarakan program ini, juga kepada Bapak Brian selaku Mendiktisaintek beserta jajarannya yang telah memberikan saya kesempatan untuk berkuliah di luar negeri,” pungkas Imran penuh harap. ***
















