Crawzilla Kalah: Ilmuwan Menemukan Udang Karang yang Lebih Raksasa

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Kalau kamu menemukan udang karang sebesar telapak tangan di balik lumpur, mungkin kamu akan langsung merasa memegang rekor dunia. Itulah yang dirasakan Caitlin Bloomer ketika menarik seekor “Crawzilla” raksasa saat survei biologi di Kentucky.

Nama Crawzilla itu bukan julukan media—memang itulah nama umum hewan tersebut. Bloomer pun yakin temuannya adalah udang karang terbesar yang pernah terdokumentasi. Dengan bangga, ia membawanya ke kampus untuk diperlihatkan kepada seorang kolega.

Tapi respons sang kolega ternyata seperti teman yang langsung menyela cerita kemenangan: “Tidak mungkin, saya pernah menangkap yang lebih besar.”

Perdebatan kecil itu kemudian berubah menjadi perburuan nasional. Bloomer, yang merupakan asisten profesor pengajar di Department of Natural Resources and Environmental Sciences, University of Illinois Urbana-Champaign, menghubungi para ahli biologi dan kurator museum di berbagai penjuru Amerika Serikat.

Baca Juga

Konten Tidak Tersedia

Mereka diminta memeriksa koleksi masing-masing untuk mencari udang karang berukuran tak biasa. Dengan kaliper—alat untuk mengukur benda secara sangat presisi—para peneliti membandingkan spesimen yang sudah diawetkan.

Hasilnya? Terkumpul 20 individu luar biasa besar dari 18 spesies berbeda. Temuan ini kemudian diterbitkan di jurnal ilmiah Ecology.

Crawzilla milik Bloomer memang tidak menjadi juara pertama. Namun, ia tetap masuk daftar 20 besar. Bahkan, hewan itu menjadi satu-satunya udang karang penggali liang dalam daftar tersebut.

“Punyaku bukan yang terbesar, tapi masuk 20 besar, jadi saya sangat bangga,” kata Bloomer. Dalam persaingan seperti ini, rupanya masuk daftar saja sudah cukup untuk menjadi bahan pamer yang sah.

Gelar terbesar di Amerika Utara akhirnya jatuh kepada seekor Tennessee bottlebrush crayfish. Spesimen ini tersimpan di koleksi West Liberty University, West Virginia, dan memiliki panjang tubuh 86,6 milimeter—sekitar 3,4 inci—jika ekor, capit, dan antenanya tidak dihitung.

Yang menarik, sang juara bukan hasil tangkapan baru. Udang karang itu dikumpulkan pada 2011 oleh Dr. Zac Loughman bersama para mahasiswa West Liberty University. Artinya, rekor tersebut sudah lama “bersembunyi” di museum, menunggu seseorang mengukurnya dengan teliti.

Zackary Graham, asisten profesor biologi di West Liberty University, mengatakan bahwa koleksi Astacology mereka memang menyimpan beberapa udang karang berukuran sangat besar. Namun, ia tetap terkejut ketika mengetahui bahwa dua spesimen terbesar di Amerika Utara ternyata berada di sana.

Karapas—bagian keras yang menutupi tubuh—spesimen juara itu saja kira-kira sepanjang kartu kredit. Jika ekor dan capitnya ikut dihitung, ukurannya hampir selebar selembar kertas buku tulis. Dua raksasa tersebut kini dipajang di kantor Graham dan ditunjukkan kepada hampir semua orang yang datang.

Museum lain juga menyumbang temuan penting. Illinois Natural History Survey, bagian dari Prairie Research Institute di University of Illinois, menyimpan enam dari 20 udang karang terbesar. Sementara itu, National Museum of Natural History milik Smithsonian menyumbang empat spesimen.

Namun, penelitian ini bukan cuma soal menentukan siapa yang paling besar. Dari pengukuran tersebut, ilmuwan memperoleh salah satu perkiraan awal tentang batas ukuran maksimum udang karang Amerika Utara.

Polanya cukup mengejutkan. Walaupun hidup di spesies dan lingkungan yang berbeda, individu-individu terbesar cenderung berhenti di sekitar ukuran tubuh 80 milimeter.

Kenapa begitu? Pertanyaan ini terasa makin menarik karena beberapa spesies di wilayah lain—termasuk Tasmanian giant freshwater crayfish—bisa tumbuh jauh lebih besar.

Para peneliti sempat menguji beberapa kemungkinan. Apakah penyebabnya garis lintang? Ketersediaan oksigen? Atau tipe habitat tempat udang karang itu hidup? Mereka mencari hubungan antara faktor-faktor tersebut dan ukuran maksimum tubuh.

Tapi tidak ada pola yang jelas. Lokasi geografis, kadar oksigen, maupun jenis lingkungan tidak cukup menjelaskan mengapa sebagian udang karang tumbuh lebih besar daripada yang lain.

Hasil yang buntu itu justru mengarahkan ilmuwan pada dugaan lain: mungkin batas pertumbuhan tersebut lebih banyak ditentukan oleh tubuh udang karangnya sendiri daripada kondisi lingkungan.

Salah satu kemungkinan berkaitan dengan eksoskeleton, yaitu lapisan keras di luar tubuh yang berfungsi seperti “baju zirah”. Struktur cangkang atau susunan otot yang berbeda mungkin menciptakan batas fisik—semacam ukuran maksimum yang sulit ditembus.

Namun, ini baru hipotesis. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah struktur biologis tersebut benar-benar membatasi pertumbuhan udang karang Amerika Utara.

Menurut Bloomer, semuanya berawal dari sesuatu yang terlihat aneh di lapangan. Seekor Crawzilla yang tampak sangat besar memicu rasa penasaran, lalu mendorong para ilmuwan memeriksa koleksi museum di seluruh negeri.

Dan dari sana, mereka bukan hanya menemukan pemegang rekor. Mereka juga menemukan pertanyaan baru tentang fisiologi udang karang—cara tubuh hewan bekerja—serta alasan mengapa hewan yang akrab di sungai dan aliran air tawar ini tampaknya memiliki “plafon” ukuran.

Nah, Crawzilla memang bukan yang terbesar. Tapi justru dari kekalahan kecil itulah ilmuwan menemukan sesuatu yang lebih besar: batas tubuh udang karang Amerika Utara mungkin tersembunyi di balik cangkang dan ototnya sendiri.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement