PROBACA.ID – Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mendorong agar pembahasan RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan dimulai tahun ini. Ia menyebut regulasi tersebut diperlukan untuk merespons persoalan krisis iklim di tingkat nasional.
“Menurut saya the most consequential issue today globally in our generation adalah climate crisis. Semua merasakannya, semua terdampak olehnya, dan ini merupakan permasalahan kita bersama,” ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Eddy saat menghadiri Dialog Publik RUU Perubahan Iklim bertajuk ‘Perubahan Iklim, Keanekaragaman Hayati dan Keadilan Lingkungan’. Kegiatan tersebut berlangsung di Plataran Menteng, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/9).
Menurut Eddy, dampak krisis iklim terasa lebih nyata dibandingkan sejumlah disrupsi lain, seperti perkembangan kecerdasan buatan atau AI dan big data yang membantu meningkatkan produktivitas manusia. Ia juga menyinggung dampak perang di negara-negara yang berkonflik terhadap rantai pasok, termasuk kenaikan harga plastik.
Baca Juga
Eddy mengatakan krisis iklim cenderung tidak langsung disadari karena perubahannya berlangsung secara perlahan.
“Yang tidak kita rasakan itu adalah climate crisis. Karena apa? Datangnya itu lama, pelan-pelan.Kita tidak merasa hal itu berubah, tiba-tiba kita sudah berada di dalam kondisi yang boleh dibilang akut sekali. Ini yang menyebabkan pentingnya sosialisasi dan pemahaman bersama yang diperluas terkait permasalahan krisis iklim ini,” tuturnya.
Di tengah persoalan tersebut, Eddy melihat adanya perkembangan positif berupa menguatnya gerakan global untuk mendorong transisi energi. Negara-negara di dunia, menurut dia, berlomba-lomba menjalankan peralihan dari energi fosil karena penggunaan sumber energi tersebut menjadi persoalan bersama.
Ia juga menyebut biaya investasi transisi energi, khususnya di sektor kelistrikan, kini lebih murah. Untuk panel surya, Eddy mengatakan biaya pembelian perangkat untuk rumah lima tahun lalu dan saat ini dapat berbeda hingga 80 persen lebih rendah.
“Dan ini karena teknologi, ke depannya akan semakin murah dan semakin cost-efficient lagi. Kemudian peningkatan energi terbarukan, perkembangan dunia mencatat bahwa tahun lalu, untuk pertama kalinya, 50 persen pasokan energi dunia datang dari sumber
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber Detik.com
















































