Obat Eksperimental Ini Membalikkan Penyakit Hati dari Dalam Usus

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Kalau hati sedang rusak, kita mungkin langsung membayangkan obat yang bekerja di hati. Tapi temuan terbaru justru mengajak kita melihat ke tempat lain: usus. Di sana, sebuah senyawa eksperimental bernama DT-109 tampaknya bisa memutus rantai kerusakan yang berujung pada penyakit hati berlemak parah.

Dalam penelitian yang diterbitkan di The Journal of Clinical Investigation, DT-109 berhasil membalikkan kondisi yang disebut metabolic dysfunction-associated steatohepatitis atau MASH pada hewan percobaan. MASH merupakan bentuk berat penyakit hati berlemak, ketika lemak menumpuk di hati lalu memicu peradangan dan kerusakan sel.

Masalahnya bukan sekadar hati berlemak. Seiring waktu, MASH dapat berkembang menjadi sirosis—jaringan parut luas pada hati—bahkan kanker hati dan gagal hati. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 7 persen populasi dunia. Meski pilihan pengobatan membaik dalam beberapa tahun terakhir, terapi yang benar-benar efektif masih terbatas.

“Kami melihat bukti jelas bahwa DT-109 melindungi penghalang epitel usus, sehingga mengurangi masuknya produk mikroba berbahaya ke seluruh tubuh,” kata Eugene Chen, M.D., Ph.D., penulis senior studi sekaligus Frederick G. L. Huetwell Professor of Cardiovascular Medicine di University of Michigan Medical School.

Baca Juga

Untuk memahami cara kerjanya, bayangkan usus seperti pos pemeriksaan. Makanan dan zat yang memang boleh diserap akan dilewatkan, sementara racun atau produk sampingan mikroba seharusnya ditahan. Pos pemeriksaan ini berupa lapisan pelindung di dinding usus.

Dalam penelitian tersebut, tim Chen menemukan salah satu biang masalahnya: pertumbuhan berlebihan bakteri Clostridium perfringens. Bakteri ini menghasilkan amonia di dalam usus. Jika kadarnya meningkat, amonia dapat merusak lapisan pelindung usus.

Ketika “pagar” usus melemah, zat berbahaya yang dihasilkan mikroba bisa lolos ke aliran darah dan mencapai hati. Di sana, zat-zat tersebut dapat memicu peradangan sekaligus mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu respons yang muncul adalah aktivitas berlebihan sel T CD8+, yaitu sel imun yang biasanya membantu menghancurkan sel terinfeksi atau sel abnormal. Jika terlalu aktif, sel ini justru dapat memperparah proses peradangan pada MASH.

Jadi, penyakit yang tampak berpusat di hati ternyata bisa dipengaruhi oleh kejadian di saluran pencernaan. Hubungan erat antara usus dan hati ini dikenal sebagai gut-liver axis, atau sumbu usus-hati. Zat yang diserap dari usus bergerak menuju hati melalui aliran darah, sehingga perubahan bakteri usus dan kondisi lapisan usus bisa berdampak langsung pada kesehatan hati.

Penelitian sebelumnya dari tim Chen telah menunjukkan bahwa DT-109 dapat memperbaiki MASH pada hewan. Namun, mekanisme pastinya belum jelas. Studi terbaru ini memberikan petunjuk: DT-109 tampaknya bekerja dengan mengganggu siklus kerusakan tersebut dari sisi usus.

Dalam percobaan pada tikus dan primata nonmanusia, senyawa ini mengurangi jumlah Clostridium perfringens sekaligus menurunkan produksi amonia di dalam usus. Lapisan usus pun menjadi lebih kuat, sehingga lebih sedikit zat mikroba berbahaya yang masuk ke tubuh dan berpotensi merusak hati.

Hasilnya cukup menjanjikan pada primata nonmanusia. Pada hewan-hewan ini, DT-109 mengurangi peradangan hati dan menurunkan tingkat keparahan MASH. Primata nonmanusia dianggap berguna dalam penelitian semacam ini karena biologi hati dan komunitas mikroba ususnya lebih mirip manusia dibandingkan tikus.

“DT-109 menghubungkan pengaturan mikrobiota dengan perlindungan hati dengan memulihkan keutuhan penghalang usus dan membatasi perpindahan amonia serta produk mikroba pemicu peradangan,” ujar Jifeng Zhang, Ph.D., penulis pendamping dan research professor bidang kardiologi di U-M Medical School.

Menariknya, DT-109 terutama bekerja di saluran pencernaan, tetapi dampaknya menjalar jauh hingga hati. Ibarat memperbaiki kebocoran pipa sebelum air kotor menyebar ke seluruh rumah, senyawa ini tidak hanya berusaha mengatasi kerusakan hati yang sudah terjadi, tetapi juga menahan sumber pemicunya.

Potensinya mungkin tidak berhenti pada penyakit hati berlemak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa DT-109 dapat mengurangi pembentukan plak aterosklerotik dan mencegah pengapuran pembuluh darah pada primata nonmanusia. Plak aterosklerotik adalah timbunan lemak dan zat lain di dinding arteri yang dapat menghambat aliran darah. Sementara itu, pengapuran pembuluh darah terjadi ketika kalsium menumpuk di dinding pembuluh, membuatnya lebih kaku dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Temuan-temuan itu membuka kemungkinan bahwa DT-109 kelak dapat digunakan untuk menangani masalah hati dan pembuluh darah sekaligus. Ini penting karena gangguan metabolisme sering kali tidak menyerang satu organ saja.

Para peneliti juga tertarik meneliti apakah senyawa tersebut bisa membantu penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD), yang mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Namun, penelitian yang dirangkum di sini masih berupa studi pada hewan. Belum ada bukti dari sumber ini bahwa DT-109 sudah terbukti aman atau efektif pada manusia.

Nah, pelajaran besarnya cukup mengejutkan: untuk melindungi hati, kadang kita perlu memperbaiki “pagar” di usus terlebih dahulu. DT-109 belum menjadi terapi untuk manusia, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa jalan menuju hati yang lebih sehat mungkin memang dimulai dari usus.

***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement