PROBACA.COM – Bagaimana kalau sebuah perhitungan ilmiah meramalkan bahwa manusia akan “terjepit sampai mati” pada Jumat, 13 November 2026? Kedengarannya seperti sinopsis film kiamat murahan. Tapi ramalan ini pernah dianggap cukup serius untuk dibahas di majalah Time, The New York Times, buku teks, bahkan sidang parlemen dan perkara Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Untungnya, kemungkinan besar kita akan bangun pada 13 November 2026 dan menemukan hari biasa: alarm berbunyi, jalanan macet, dan mungkin harga makanan kembali bikin mengelus dada. Namun, kisah di balik ramalan ini menarik karena bukan sekadar lelucon. Ia lahir dari riset, data populasi, dan persamaan matematika yang—setidaknya untuk beberapa dekade—ternyata bekerja cukup baik.
Ramalan tersebut muncul dari artikel ilmiah yang ditulis Heinz von Foerster, profesor keturunan Austria-Amerika sekaligus pakar sibernetika, bersama dua mahasiswanya, Patricia M. Mora dan Lawrence W. Amiot. Artikel itu berargumen bahwa manusia mungkin berbeda dari populasi makhluk hidup lain.
Biasanya, populasi dibayangkan tumbuh secara eksponensial: jumlahnya meningkat berdasarkan jumlah yang sudah ada. Mirip bunga majemuk di rekening—semakin besar modal awal, semakin cepat pertambahannya. Gagasan ini berkaitan dengan pemikiran Thomas Malthus, yang melihat bahwa pertumbuhan penduduk pada akhirnya akan dibatasi oleh kemampuan manusia menyediakan makanan.
Namun, von Foerster dan rekan-rekannya melihat ada keunikan pada manusia. Kita bisa berkomunikasi, membentuk “koalisi”, dan bekerja sama menyelesaikan masalah. Dalam pandangan mereka, makin padat populasi manusia belum tentu hanya berarti makin banyak perebutan sumber daya. Kepadatan juga bisa berarti lebih banyak kesempatan untuk berkolaborasi.
Akibatnya, populasi manusia mungkin tumbuh bukan sekadar secara eksponensial, melainkan dengan laju yang terus meningkat. Untuk menguji gagasan itu, mereka menggunakan 24 perkiraan jumlah penduduk dunia sepanjang 2.000 tahun terakhir. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa jumlah manusia memang terus melampaui perkiraan sebelumnya.
Sampai di sini, artikelnya terdengar seperti riset demografi biasa. Lalu datang bagian yang membuat dunia menoleh.
Para penulis memproyeksikan angka-angka historis tersebut ke masa depan. Berdasarkan laju pertumbuhan yang terus meningkat, mereka menghitung bahwa pada 2026 jumlah manusia akan mendekati tak terhingga. Tanggal yang dipilih bahkan sangat spesifik: 13 November.
Istilah yang mereka gunakan bukan “mati kelaparan”. Menurut mereka, cicit-cicit kita tidak akan kelaparan, melainkan “terjepit sampai mati”. Populasi akan menjadi begitu besar sehingga tekanan terhadap ruang dan sumber daya mencapai titik ekstrem.
Tetapi ada jalan keluar yang mereka tawarkan. Kapasitas manusia untuk bekerja sama—kemampuan yang dianggap membantu pertumbuhan populasi sejak awal—juga bisa dipakai untuk mencegah bencana. Karena manusia kemungkinan tidak ingin memperpendek usia hidup, mereka menyarankan agar tingkat kelahiran global dikurangi setengahnya.
Artikel itu langsung memicu kegaduhan. Sejumlah matematikawan dan demograf menulis surat kepada jurnal Science untuk menyerang penelitian tersebut. Mereka menyebutnya “konyol” dan “jelas absurd”. Von Foerster dan rekan-rekannya tidak mundur. Mereka membalas dengan pembelaan penuh semangat, bahkan tetap mempertahankan matematika dan kesimpulan artikelnya.
Anehnya, gagasan itu tidak menghilang. Sepanjang 1960-an hingga 1980-an, “persamaan kiamat” tersebut berulang kali dikutip dalam buku teks genetika, ekologi, dan demografi. Ia juga muncul di tempat-tempat yang mungkin tidak kamu duga.
Pada 1963, seorang saksi dari industri kimia mengutipnya dalam komite parlemen Kanada sebagai alasan perlunya pestisida kimia: dunia harus bersiap menghadapi ledakan penduduk yang akan datang. Pada 1971, persamaan itu juga disebut dalam perkara aborsi di Mahkamah Agung Amerika Serikat yang kemudian berkaitan dengan perkara Roe v. Wade. Saat itu, ia dipakai untuk mendukung argumen bahwa pemerintah tidak punya alasan kuat untuk mendorong pertumbuhan populasi.
Ramalan tersebut terus bertahan bukan hanya karena terdengar dramatis. Perkiraannya memang cukup akurat—untuk sementara waktu. Sepanjang 1970-an dan 1980-an, persamaan inti artikel itu menghasilkan proyeksi yang lebih baik daripada sebagian besar perkiraan demograf.
Baru sekitar 1993, kira-kira ketika dunia sudah berada di separuh jalan menuju tanggal “kiamat”, prediksi itu mulai meleset. Jumlah penduduk dunia mulai berada di bawah angka yang diramalkan.
Penyebabnya justru agak ironis: dunia mulai melakukan hal yang disarankan von Foerster dan rekan-rekannya. Tingkat kelahiran global menurun. Saat ini, angka kelahiran dunia sedikit kurang dari separuh angka pada 1960.
Jadi, apakah 13 November 2026 akan menjadi hari kiamat? Hampir pasti tidak dalam arti yang dimaksud artikel tersebut. Tetapi kisah ini tetap penting karena menunjukkan betapa kuatnya sebuah gagasan ketika sains dan cara penyajiannya bertemu.
Heinz von Foerster sendiri pernah menjadi pesulap panggung. Dalam sulap klasik, sebuah ilusi biasanya memiliki tiga bagian: pembukaan yang menyiapkan penonton, perubahan luar biasa yang membuat mereka tercengang, lalu pengungkapan akhir yang mengembalikan semuanya ke keadaan normal.
Artikel “kiamat” itu bekerja dengan pola serupa. Isinya menggunakan riset dan argumen ilmiah yang serius, tetapi dibungkus dengan judul serta kesimpulan yang luar biasa. Hasilnya: persoalan pertumbuhan penduduk yang rumit mendadak menjadi tontonan global.
Ramalan itu akhirnya tidak terbukti secara harfiah. Namun justru karena dibangun di atas matematika yang tampak kokoh, ia sempat memengaruhi perdebatan publik selama puluhan tahun. Nah, pelajarannya bukan cuma bahwa kiamat bisa salah tanggal—melainkan bahwa cara menyampaikan sains dapat membuat sebuah ide biasa terdengar mengguncang dunia.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily















































