Mengapa Ilmu “Parasut” Gagal Melindungi Serangga Tropis?

Foto: ScienceDaily
Foto: ScienceDaily
Foto: ScienceDaily
Foto: ScienceDaily

Pernah membayangkan melindungi hutan, tetapi hanya tahu sedikit tentang makhluk yang paling ramai di dalamnya? Itulah situasi yang kini disoroti para peneliti: lebih dari 80 persen spesies serangga dunia hidup di wilayah tropis, sementara sebagian besar pengetahuan konservasi justru berasal dari kawasan beriklim sedang.

Padahal, serangga bukan sekadar hewan kecil yang sesekali masuk rumah. Mereka membantu menyerbuki lebih dari 80 persen tumbuhan liar, menjadi makanan bagi 60 persen spesies burung, sekaligus menopang rantai makanan, perputaran nutrisi, dan produksi pangan global. Jumlah spesies serangga sendiri diperkirakan mencapai 14–30 juta, dan sebagian besar belum didokumentasikan secara resmi.

Penelitian internasional yang dipimpin Dr. Shawan Chowdhury, kepala Global Change Ecology Lab di Monash University, mengungkap empat penghalang utama konservasi serangga tropis: riset yang sudah ada sulit ditemukan, data masih berlubang-lubang, infrastruktur ilmiah terbatas, dan hasil penelitian terlalu jarang berubah menjadi tindakan perlindungan. Studi ini diterbitkan di jurnal BioScience.

Ketimpangannya terlihat jelas dalam Global Biodiversity Information Facility. Hampir 26 persen data persebaran serangga di sana berasal dari Inggris—padahal sebagian besar keragaman serangga dunia berada di kawasan tropis.

Baca Juga

Konten Tidak Tersedia

Namun, solusinya bukan sekadar mengumpulkan data baru sebanyak-banyaknya. Informasi penting mungkin sudah tersimpan di jurnal lokal berbahasa non-Inggris, koleksi museum, catatan pakar daerah, pengetahuan masyarakat, proyek sains warga, bahkan foto yang dibagikan di media sosial. Tantangannya seperti mencari barang berharga yang tersebar di banyak laci: semua perlu ditemukan, dihubungkan, lalu dipakai untuk mengambil keputusan.

Bangladesh menjadi contoh menarik. Peneliti menemukan 111 studi tentang kupu-kupu, tetapi hanya 34 yang terbit di jurnal internasional. Facebook bahkan memuat catatan untuk 167 dari 169 spesies kupu-kupu Bangladesh yang terancam. Meski begitu, dari 226 spesies kupu-kupu yang pernah dievaluasi, hanya satu yang terlindungi secara memadai dalam sistem kawasan konservasi negara itu.

Para peneliti menyerukan agar dunia meninggalkan “parachute science”—pola ketika ilmuwan dari luar datang mengambil data, lalu pergi, sementara ilmuwan dan komunitas lokal hanya diperlakukan sebagai sumber informasi. Riset ke depan perlu dipimpin lebih kuat oleh pihak lokal, didukung koleksi regional, keahlian identifikasi spesies, pemantauan jangka panjang, serta kemitraan internasional yang lebih adil.

Jadi, melindungi serangga tropis bukan cuma urusan menyelamatkan hewan kecil. Ini tentang menjaga mesin tak terlihat yang membuat ekosistem dan pangan kita tetap berjalan. Kalau mayoritas serangga hidup di tropis, maka pusat perlindungannya juga semestinya berada di sana—bersama ilmuwan dan masyarakat setempat.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Sumber: ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement