FLASH NEWS

Saat Obat Baru Ternyata Menangani Efek Samping Obat Lama

PROBACA.ID – Pernahkah kamu mendapat obat baru setelah mengeluhkan gejala yang muncul belakangan? Bisa jadi itu memang langkah yang tepat. Namun, ada kemungkinan lain yang sering luput: obat kedua ternyata diberikan untuk mengatasi efek samping obat pertama.

Pola ini disebut potentially inappropriate prescribing cascade (PIPC), atau “kaskade peresepan yang berpotensi tidak tepat”. Sederhananya, efek samping dari satu obat disangka sebagai penyakit baru. Lalu, resep tambahan diberikan untuk mengatasinya. Padahal, bisa saja yang perlu dievaluasi justru obat pertama.

Bayangkan keran yang bocor lalu kita menaruh ember tanpa pernah memperbaiki kerannya. Kalau air terus menetes, kita mungkin menambah ember lagi dan lagi. Dalam pengobatan, “ember tambahan” itu bisa berupa obat baru yang sebenarnya tidak perlu—dan obat tersebut juga berpotensi menimbulkan efek samping lain.

Salah satu contoh yang ditemukan peneliti berkaitan dengan obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, yang umum digunakan untuk meredakan nyeri. Obat ini dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Jika kenaikan tersebut langsung dianggap sebagai hipertensi baru, pasien mungkin diberi obat penurun tekanan darah, alih-alih mengevaluasi kembali obat pereda nyerinya.

Baca Juga

Penelitian yang diterbitkan di BMJ ini dipimpin Dr. Paula Rochon, Direktur Riset Weston and O’Born Center for Mature Women’s Health di Sinai Health, Toronto. Timnya melibatkan pakar dari Amerika Serikat, Belgia, Italia, Israel, dan Irlandia. Mereka membandingkan daftar 65 kemungkinan kaskade peresepan dengan data resep populasi dari ICES, lembaga data kesehatan Ontario.

Hasilnya, peneliti mengidentifikasi 24 kaskade yang sering terjadi dan berpotensi membahayakan. Mereka menilai seberapa sering obat pertama diresepkan, seberapa sering obat kedua menyusul, serta seberapa kuat hubungan keduanya.

Risiko ini terutama penting bagi lansia dan perempuan usia matang. Mereka cenderung memiliki lebih banyak penyakit kronis, menggunakan lebih banyak obat, dan mengalami lebih banyak kejadian buruk terkait obat. Ketika daftar obat makin panjang, hubungan antara gejala dan obat penyebabnya pun makin mudah tersamarkan.

Dr. Rochon menekankan pentingnya mengetahui obat apa yang diminum, kapan mulai digunakan, dan untuk alasan apa. Teknologi juga bisa membantu: sistem pendukung keputusan klinis dapat memberi peringatan ketika obat baru tampak ditujukan untuk mengatasi efek samping obat lama. Apoteker pun dapat dilibatkan lebih aktif untuk membaca pola tersebut bersama dokter.

Jadi, resep yang bertambah belum tentu berarti penyakitnya bertambah. Kadang, jawabannya bukan menambahkan obat, melainkan mundur sejenak dan bertanya: “Gejala ini sebenarnya mulai muncul setelah obat yang mana?”

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement