PROBACA.ID – Muse, asisten kecerdasan buatan (AI) terbaru Meta, mampu menjalankan sejumlah tugas digital seperti mengelola email, berbelanja daring, merencanakan perjalanan, hingga membuat konten. Namun, dalam pengujian The Verge, kemampuan alat tersebut untuk mengakses dan menyimpulkan informasi pribadi pengguna justru menimbulkan kekhawatiran.
Meta meluncurkan Muse sebagai langkah awal perusahaan tersebut ke ranah perangkat produktivitas berbasis AI. Perusahaan menyebut agen AI itu dapat “mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin” pengguna. Muse bekerja melalui komputer virtual berbasis cloud yang dapat menjalankan tindakan di berbagai layanan.
Salah satu pengujian awal dilakukan dengan menghubungkan Muse ke akun Gmail. Agar dapat memilah dan menghapus email, pengguna harus memberikan izin kepada Muse untuk mengakses, membaca, serta menghapus pesan. Proses masuk melalui perangkat seluler sempat mengalami gangguan karena halaman login Google terus kembali ke situs Muse, bukan aplikasinya.
Setelah proses tersebut berhasil dilakukan melalui laptop, Muse menghapus ribuan email promosi dan pembaruan. Meski tugas itu berjalan baik, penguji mengaku tidak nyaman memberikan akses ke seluruh isi emailnya, terutama karena rekam jejak Meta terkait privasi.
Meta menyatakan Muse dirancang hanya untuk bertukar data dengan aplikasi pihak ketiga “yang diperlukan agar aplikasi tersebut dapat berfungsi untuk Anda.” Perusahaan juga mengatakan informasi pengguna tidak dibagikan kepada pengiklan.
Pengujian berikutnya dilakukan dengan menghubungkan akun Amazon. Muse diminta memilih pakaian olahraga berdasarkan ukuran, model, dan warna tertentu. Sebelum pembelian dilakukan, sistem mendeteksi barang lain yang ada di keranjang dan menanyakan apakah pengguna ingin menghapusnya. Setelah mendapat persetujuan, Muse berhasil membeli hanya kaus tanpa lengan yang dipilih.
Selain tugas produktivitas, Muse dapat membuat podcast berbasis AI seperti Gemini Notebook, menghasilkan gambar dan video, serta menyusun halaman web atau dokumen interaktif yang disebut “artifacts”. Namun, sistem menolak permintaan untuk membuat gambar “tikus kartun dengan celana merah” dan “pria kartun dengan topi merah, baju terusan biru, rambut cokelat, dan kumis”.
Di sisi lain, Muse bersedia membuat video dan sejumlah gambar mengenai acara peluncuran produk dengan perangkat berlogo Apple. Salah satu gambar menampilkan perangkat menyerupai iPhone lipat, Apple Watch, dan AirPods yang diletakkan di atas penyangga berlogo Apple.
Gambar tersebut juga menampilkan ikon aplikasi bawaan Apple pada ponsel fiktif. Namun, Muse melakukan kesalahan dengan menamai App Store sebagai “Photos”, sementara Maps, Music, dan aplikasi Photos yang sebenarnya disebut “Calender”. Muse tetap menolak permintaan untuk membuat gambar seorang “CEO Apple”.
Perhatian kemudian beralih ke fitur “Feed”, yang menghasilkan umpan berita berdasarkan perintah teks. Dengan menggunakan perintah bawaan Meta, “Buatkan saya feed tentang minat saya. Gunakan nada yang jelas dan langsung. Pastikan cepat untuk dipindai. Usahakan menghindari clickbait,” Muse menyusun sejumlah ringkasan peristiwa terkini.
Ringkasan itu mencakup acara peluncuran iPhone Duo dari Apple, gelombang selancar berbahaya di pesisir California, serta kapal tanker yang hancur dalam perang Iran. Muse juga menampilkan beberapa berita dari negara bagian tempat penguji sedang mengunjungi keluarganya. Sistem tersebut mengakui bahwa informasi lokasi itu diperoleh dari alamat pengiriman pada pesanan Amazon.
Ketika ditanya mengenai informasi yang dapat diketahui dari akun Instagram dan Facebook yang digunakan untuk mendaftarkan Muse, sistem itu menyebut berbagai minat yang sangat spesifik. Di antaranya adalah anime, CrossFit, anjing Labrador, satwa liar Florida, serta nostalgia era 1990-an dan 2000-an. Banyak topik tersebut juga kerap muncul dalam feed Instagram Reels milik penguji.
Muse kemudian menjelaskan sumber informasi tersebut. “Sejujurnya, Instagram tidak menampilkan daftar persis itu di mana pun dalam aplikasi — saya membacanya melalui data API akun, yang menampilkan lebih banyak informasi daripada antarmuka pengguna. Hal terdekat yang bisa Anda lihat sendiri adalah topik iklan… Daftar itu menunjukkan topik yang dapat ditargetkan pengiklan kepada Anda, dan Anda dapat menghapus topik yang tidak diinginkan atau memilih untuk melihat lebih sedikit topik tersebut,” tulis Muse.
Penguji lalu memeriksa daftar “Ad topics” di pengaturan Instagram. Daftar itu memang memuat sejumlah kategori umum, seperti olahraga, musik, dan elektronik, tetapi tingkat perinciannya tidak sama dengan informasi yang disampaikan Muse.
The Verge menghubungi Meta untuk meminta penjelasan mengenai data yang dapat diakses Muse dari Instagram dan Facebook. Hingga laporan tersebut diterbitkan, Meta belum memberikan tanggapan.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber Theverge
















































