\n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n\n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

BERITA TERBARU

\n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n\n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n\n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n\n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n\n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n\n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n\n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n\n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n\n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n\n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n\n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n\n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n\n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n\n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n\n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n\n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n\n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n\n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n\n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n\n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n\n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n\n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n\n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n\n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n\n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n\n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n\n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n\n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n\n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n
\"\"<\/figure>\n \n\n\n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n\n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n\n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n\n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n\n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n\n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Musim kebakaran mulai terlihat dari satelit<\/strong><\/h3>\n \n\n\n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n \n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kebakaran gambut juga menghasilkan sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak.<\/p>\n \n\n\n

Musim kebakaran mulai terlihat dari satelit<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n \n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Berdasarkan salah satu estimasi yang dikutip dalam laporan ScienceDaily<\/a>, kebakaran gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.<\/p>\n \n\n\n

Kebakaran gambut juga menghasilkan sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak.<\/p>\n \n\n \n

Musim kebakaran mulai terlihat dari satelit<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n \n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Api dapat terus bergerak di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan sekaligus menghasilkan polusi dalam jumlah besar.<\/p>\n \n\n\n

Berdasarkan salah satu estimasi yang dikutip dalam laporan ScienceDaily<\/a>, kebakaran gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut juga menghasilkan sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak.<\/p>\n \n\n \n

Musim kebakaran mulai terlihat dari satelit<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n \n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

PROBACA.COM <\/strong>- Kebakaran gambut tropis merupakan salah satu jenis kebakaran paling berbahaya dan sulit ditangani. Tidak seperti kebakaran yang menjalar cepat melalui pohon dan tumbuhan, api gambut membara di dalam tanah lahan basah yang telah mengering serta tumpukan gambut dalam suhu relatif rendah.<\/p>\n \n\n\n

Api dapat terus bergerak di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan sekaligus menghasilkan polusi dalam jumlah besar.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan salah satu estimasi yang dikutip dalam laporan ScienceDaily<\/a>, kebakaran gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut juga menghasilkan sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak.<\/p>\n \n\n \n

Musim kebakaran mulai terlihat dari satelit<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Musim kebakaran Indonesia 2026 telah berlangsung ketika instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS pada satelit Aqua milik NASA mengambil gambar wilayah Indonesia pada 1 September 2026.<\/p>\n \n\n \n

Dalam peta yang menyertai pengamatan tersebut, setiap titik merah menunjukkan satu deteksi kebakaran. Artinya, sensor satelit dan algoritma telah menemukan piksel dengan anomali suhu yang berkaitan dengan kebakaran.<\/p>\n \n\n \n

Namun, satu titik tidak selalu mewakili satu kebakaran. Satu peristiwa kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran gambut merupakan persoalan berulang bagi Indonesia. Negara ini memiliki sekitar 36 persen dari seluruh lahan gambut tropis dunia.<\/p>\n \n\n \n

Pada kondisi normal, bentang alam tersebut berada dalam keadaan basah. Namun, kekeringan parah dapat membuat lahan gambut mengering dan terbakar. Selama tiga dekade terakhir, kondisi serupa berulang kali memicu kebakaran berkepanjangan yang menyelimuti wilayah luas dengan asap selama berminggu-minggu serta mengganggu kehidupan jutaan orang.<\/p>\n \n\n \n

\"\"<\/figure>\n \n\n \n

El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n

Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n

Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n

Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n

Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n

Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n

\u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n

Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n

Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n

Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n

Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n

Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n

Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n

Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n

Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n

Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n

Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n

Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n

Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n

Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n

Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n

Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n

Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n

Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n

***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

Tag: Indonesia