PROBACA.COM – Bagaimana kalau membantu menurunkan tekanan darah tidak selalu harus menambah obat atau menjalani prosedur medis yang rumit? Para peneliti sedang menguji kemungkinan yang terdengar tak biasa: menstimulasi saraf di telinga dengan sinyal listrik lembut.
Hasil awalnya belum bisa disebut sebagai terobosan untuk semua orang. Dalam uji klinis SCRATCH-HTN, stimulasi tersebut tidak menurunkan tekanan darah secara signifikan dibandingkan alat plasebo pada seluruh peserta. Namun, ada petunjuk menarik pada pasien dengan hipertensi yang lebih parah—tekanan darah mereka tampak lebih banyak berkurang setelah menerima stimulasi aktif.
Teknik yang digunakan disebut transcutaneous autonomic neuromodulation (tAN). Namanya memang terdengar seperti istilah dari film fiksi ilmiah, tetapi idenya cukup sederhana: memberi sinyal listrik ringan melalui kulit untuk memengaruhi sistem saraf otonom, yaitu jaringan saraf yang otomatis mengatur fungsi tubuh seperti detak jantung, pencernaan, dan tekanan darah.
Bayangkan sistem saraf otonom seperti panel pengatur otomatis di rumah. Kita tidak perlu memencet tombol setiap kali jantung berdetak atau pembuluh darah menyesuaikan diri. Para peneliti berharap, rangsangan kecil di telinga dapat “mengirim pesan” ke sistem pengatur tersebut sehingga mekanisme alami tubuh dalam mengendalikan tekanan darah ikut berubah.
Perangkat yang dikembangkan Afferent Medical Solutions ini menggunakan dua klip kecil. Klip tersebut dipasang pada tragus, lipatan tulang rawan kecil yang berada tepat di depan lubang telinga. Pengguna dapat memberikan stimulasi sendiri tanpa harus datang ke klinik.
Uji coba yang didanai National Institute for Health and Care Research (NIHR) itu melibatkan 63 orang dengan hipertensi yang belum terkontrol. Semua peserta sudah mengonsumsi setidaknya satu obat penurun tekanan darah, tetapi hasil pengukurannya masih berada di atas tingkat yang direkomendasikan.
Peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Satu kelompok menggunakan perangkat yang memberikan stimulasi saraf aktif, sedangkan kelompok lain menggunakan perangkat tiruan atau sham sebagai pembanding. Dengan cara ini, peneliti bisa membedakan manfaat sinyal listrik dari sekadar memakai perangkat atau mengikuti rutinitas pengobatan.
Selama dua minggu pertama, peserta menggunakan perangkat selama 30 menit setiap hari. Setelah itu, selama 10 minggu berikutnya, penggunaannya dikurangi menjadi satu kali per minggu. Secara umum, alat tersebut aman dan cukup nyaman. Sebagian besar peserta juga mengikuti jadwal yang ditentukan, sebuah tanda bahwa teknologi ini mungkin praktis digunakan di rumah.
Masalahnya, ketika seluruh peserta dianalisis bersama, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok stimulasi aktif dan kelompok perangkat tiruan. Artinya, penelitian ini belum menunjukkan bahwa stimulasi telinga secara umum mampu menurunkan tekanan darah lebih baik daripada plasebo.
Petunjuk yang lebih menjanjikan muncul ketika peneliti melihat peserta yang sejak awal mengalami hipertensi lebih berat. Analisis subkelompok yang sudah direncanakan sebelum hasil diperiksa menunjukkan bahwa kelompok ini mengalami penurunan tekanan darah yang lebih besar saat menerima stimulasi aktif dibandingkan stimulasi tiruan.
Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa teknologi ini mungkin lebih cocok untuk orang-orang dengan tekanan darah yang sangat sulit dikendalikan. Namun, jumlah peserta penelitian masih kecil. Hasil pada subkelompok juga perlu diuji kembali dalam penelitian yang lebih besar sebelum efektivitasnya dapat dipastikan.
Dr. Ajay Gupta, peneliti utama sekaligus Clinical Reader di Queen Mary University of London dan dokter konsultan di Barts Health NHS Trust, menyebut teknologi ini menarik dan mudah diterima pasien. Menurutnya, meski hasilnya belum signifikan pada kelompok peserta secara keseluruhan, pasien dengan hipertensi lebih parah menunjukkan penurunan tekanan darah yang jelas pada kelompok stimulasi aktif dibandingkan kelompok tiruan.
Ia menilai temuan ini bisa mengarahkan penelitian baru tentang apakah neuromodulasi noninvasif—upaya memengaruhi kerja saraf tanpa operasi—dapat membantu kelompok pasien tertentu dengan hipertensi yang belum terkontrol.
Tekanan darah tinggi sendiri merupakan salah satu penyumbang penting penyakit kardiovaskular. Kondisi ini memberi beban tambahan pada jantung dan pembuluh darah, sehingga dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Obat membantu banyak pasien, tetapi sebagian tetap memiliki tekanan darah di atas target meski sudah menjalani pengobatan.
Di situlah stimulasi saraf telinga menarik perhatian. Perangkatnya kecil, tidak memerlukan pembedahan, dan bisa digunakan di rumah. Jika penelitian berikutnya membuktikan manfaatnya, pendekatan ini berpotensi menjadi tambahan bagi terapi yang sudah ada—bukan pengganti obat secara otomatis.
Untuk sekarang, alat tersebut masih berada pada tahap awal penelitian. Uji klinis yang lebih besar diperlukan untuk memastikan apakah hasil pada pasien dengan hipertensi berat benar-benar konsisten, sekaligus mencari tahu siapa yang paling mungkin merasakan manfaatnya.
Nah, telinga mungkin saja menjadi pintu kecil menuju sistem pengatur tekanan darah—tetapi penelitian ini baru menunjukkan celah harapan, belum memberikan jawaban final.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily
















































