Supervolcano Kikai Diam-Diam Mengisi Ulang Magmanya

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Bayangkan sebuah tangki raksasa yang nyaris terkuras setelah dipakai dalam ledakan paling dahsyat di Bumi. Apakah tangki itu akan dibiarkan kosong selamanya? Ternyata tidak. Di bawah laut Jepang, salah satu sistem supervolcano paling kuat di planet ini sedang mengisi ulang persediaan magmanya.

Temuan ini datang dari kaldera Kikai, sebuah cekungan vulkanik luas yang sebagian besar berada di bawah laut. Sekitar 7.300 tahun lalu, Kikai mengalami letusan raksasa—yang diketahui sebagai letusan gunung api terbesar pada zaman Holosen, periode geologi yang dimulai sekitar 11.700 tahun lalu dan masih berlangsung hingga sekarang.

Letusan sebesar itu bisa mengubah wajah sebuah wilayah. Volume magma yang keluar bahkan begitu besar, sampai-sampai cukup untuk menimbun seluruh Central Park di New York dengan lapisan setebal kira-kira 12 kilometer. Setelah magma dalam jumlah kolosal meninggalkan ruang bawah tanah, batuan di atasnya dapat ambruk. Hasilnya adalah depresi luas dan relatif dangkal yang disebut kaldera.

Kaldera semacam ini menjadi jejak dari sejumlah letusan terbesar dalam sejarah Bumi. Contohnya Yellowstone di Amerika Serikat, Toba di Indonesia, dan Kikai di Jepang. Para ilmuwan tahu gunung api raksasa bisa meletus lebih dari sekali, tetapi mereka masih belum sepenuhnya memahami bagaimana magma sebanyak itu terkumpul kembali di bawah tanah.

Baca Juga

“Kita harus memahami bagaimana magma dalam jumlah sangat besar bisa terakumulasi untuk mengerti bagaimana letusan kaldera raksasa terjadi,” kata Nobukazu Seama, ahli geofisika dari Kobe University.

Menariknya, lokasi Kikai yang berada di bawah laut justru membantu penelitian. Dasar laut di sekitarnya memungkinkan para ilmuwan melakukan survei geologi berskala besar secara lebih sistematis.

Dalam penelitian ini, tim dari Kobe University bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology, atau JAMSTEC. Mereka menggunakan rangkaian meriam udara untuk menghasilkan denyut seismik yang merambat menembus kerak Bumi di bawah dasar laut. Gelombang tersebut kemudian direkam oleh alat bernama seismometer dasar laut.

Triknya mirip seperti mengetuk dinding untuk menebak apakah di baliknya ada ruang kosong atau benda padat. Gelombang seismik bergerak dengan cara berbeda saat melewati batuan keras dibandingkan ketika melewati wilayah yang mengandung material cair. Dari pola pergerakannya, ilmuwan bisa memetakan struktur bawah tanah yang tidak terlihat langsung.

Hasil pengukuran, yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment, menunjukkan adanya wilayah besar dengan kandungan magma tinggi tepat di bawah lokasi letusan raksasa Kikai pada 7.300 tahun lalu.

Dengan menganalisis data seismik, tim peneliti dapat memperkirakan ukuran dan bentuk ruang penyimpanan magma tersebut. Letak dan luasnya menunjukkan bahwa ruang itu merupakan sistem penyimpanan magma yang sama dengan yang terlibat dalam letusan kuno tersebut.

“Berdasarkan luas dan lokasinya, jelas bahwa ini memang reservoir magma yang sama seperti pada letusan sebelumnya,” ujar Seama.

Namun, bagian paling menariknya bukan sekadar menemukan ruang magma raksasa. Magma yang kini berada di bawah Kikai tampaknya bukan sisa magma lama yang tertinggal sejak letusan dahsyat ribuan tahun lalu.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa sebuah kubah lava mulai berkembang di dekat pusat kaldera selama sekitar 3.900 tahun terakhir. Kubah lava terbentuk ketika lava yang relatif kental menumpuk di sekitar saluran keluarnya, bukannya mengalir bebas ke seluruh permukaan seperti lava yang lebih cair.

Analisis kimia juga menunjukkan bahwa material vulkanik dari kubah tersebut dan aktivitas yang lebih baru memiliki komposisi berbeda dari material yang dikeluarkan saat letusan raksasa Kikai.

Perbedaan kimia ini menjadi petunjuk penting. Artinya, magma yang sekarang tersimpan di bawah gunung api kemungkinan berasal dari suntikan baru batuan cair yang naik dari bagian kerak Bumi yang lebih dalam atau dari mantel, bukan sekadar magma lama yang bertahan tanpa perubahan.

“Ini berarti magma yang kini berada di reservoir di bawah kubah lava kemungkinan merupakan magma yang baru disuntikkan,” kata Seama.

Jika diibaratkan, Kikai bukan seperti botol berisi sisa minuman lama. Lebih mirip tandon air yang perlahan-lahan diisi kembali dari saluran bawah tanah—sedikit demi sedikit, selama ribuan tahun.

Gabungan pengamatan seismik dan bukti kimia ini membantu ilmuwan menyusun gambaran yang lebih jelas tentang cara sistem vulkanik raksasa membangun kembali persediaan magmanya setelah letusan besar.

Tapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa letusan bencana akan segera terjadi. Pengisian ulang reservoir magma tidak berarti Kikai sedang berada di ambang letusan katastrofik. Temuan ini justru menunjukkan bahwa reservoir magma dapat diisi kembali secara bertahap dalam rentang ribuan tahun.

Proses semacam inilah yang perlu dipahami sebelum ilmuwan bisa menilai perilaku jangka panjang supervolcano dengan lebih andal. Polanya berpotensi menjelaskan bagaimana siklus penumpukan magma, aktivitas vulkanik, dan letusan besar berlangsung.

Dampaknya juga bisa melampaui Jepang. Menurut Seama, model penyuntikan ulang magma yang terlihat di Kikai sejalan dengan keberadaan reservoir magma besar dan dangkal di bawah kaldera raksasa lain, termasuk Yellowstone dan Toba.

Gagasan utamanya sederhana, meski proses di bawah tanah sangat rumit: setelah letusan raksasa mengosongkan sebagian sistem, magma baru dapat masuk perlahan dan mengisi kembali reservoir yang sama.

Para peneliti kini berharap dapat menyempurnakan teknik seismik yang digunakan di Kikai. Dengan metode yang lebih baik, mereka ingin mempelajari pergerakan serta penyimpanan magma secara lebih rinci, terutama bagaimana proses penyuntikan ulang itu berlangsung.

Nah, Kikai memberi kita gambaran langka tentang “kehidupan kedua” sebuah supervolcano: setelah mengeluarkan magma dalam jumlah luar biasa, sistemnya tidak benar-benar mati—ia bisa mengisi ulang dapurnya perlahan, jauh di bawah laut, selama ribuan tahun.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement