
Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n\n
Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n
***<\/em> Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n\n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n\n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n\n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n\n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n\n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n\n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n\n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n\n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n\n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n\n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n\n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n\n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n\n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n\n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n\n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n\n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n\n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n\n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n\n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n\n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n\n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n\n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n\n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n\n Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n\n Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n\n Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n\n Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em> Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun di Indonesia. Namun, beberapa musim kebakaran paling merusak dalam beberapa dekade terakhir berlangsung ketika terjadi El Ni\u00f1o, terutama pada 1997 dan 2015.<\/p>\n \n\n \n Pada Agustus 2026, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyatakan El Ni\u00f1o telah terjadi dan sedang menguat. Pola iklim tersebut biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara tajam di Indonesia.<\/p>\n \n\n \n Kondisi pengeringan dapat menjadi lebih parah ketika El Ni\u00f1o berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD. Fase positif IOD juga sedang terjadi pada periode tersebut.<\/p>\n \n\n \n Peneliti Universitas Columbia, Robert Field, mengatakan aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat tajam meskipun musim kebakaran baru berlangsung sekitar tiga pekan. Polanya dinilai serupa dengan situasi pada 2015.<\/p>\n \n\n \n Menurut Field, El Ni\u00f1o yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran. Kondisi tersebut kemudian memperburuk aktivitas kebakaran, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n Perbandingan dengan 2015 menjadi perhatian karena kebakaran pada tahun itu berlangsung lebih dari tiga bulan. Kebakaran tersebut menghasilkan sekitar 1,75 miliar ton emisi setara gas rumah kaca, lebih besar dibandingkan emisi tahunan Jepang.<\/p>\n \n\n \n Hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Emisi yang dihasilkan diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah emisi selama krisis kebakaran 2015.<\/p>\n \n\n \n Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada 2026, menyerupai keadaan pada 2015. Data badan meteorologi Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen wilayah negara menerima sedikit hujan atau tidak mengalami hujan pada awal Agustus.<\/p>\n \n\n \n Dalam kondisi normal, endapan gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api bergerak di bawah tanah. Kekeringan mengubah keadaan tersebut dan memungkinkan api masuk ke lapisan gambut serta terus membara di bawah permukaan.<\/p>\n \n\n \n \u201cKetika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti,\u201d kata Field.<\/p>\n \n\n \n Ia memperkirakan kebakaran bawah tanah dapat terus berlangsung sampai hujan turun pada Oktober atau November.<\/p>\n \n\n \n Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan satelit NASA dan NOAA untuk memantau kebakaran aktif hampir secara langsung. MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS menjadi dua instrumen utama yang digunakan.<\/p>\n \n\n \n Platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS. Sistem tersebut mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.<\/p>\n \n\n \n Pemantauan melalui satelit memiliki keterbatasan. MODIS dan VIIRS dapat mengalami kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal atau awan, berada di bawah tajuk hutan, maupun membara di dalam lapisan gambut.<\/p>\n \n\n \n Ketika kebakaran di Indonesia menjadi semakin intens, jumlah api yang terdeteksi MODIS atau VIIRS terkadang justru menurun. Hal itu terjadi karena asap kebakaran menghalangi pandangan satelit.<\/p>\n \n\n \n Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science, mengatakan peristiwa asap terburuk secara paradoks dapat menjadi kondisi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Cochrane telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.<\/p>\n \n\n \n Sebagian kerentanan Indonesia terhadap kebakaran saat ini dapat ditelusuri hingga beberapa dekade lalu.<\/p>\n \n\n \n Menurut Cochrane, pembangunan kanal irigasi secara luas dan pengeringan rawa gambut pada dekade 1990-an telah menurunkan muka air di kawasan lahan basah. Sebagian pembangunan tersebut dilakukan untuk membuka kawasan pertanian padi berskala besar.<\/p>\n \n\n \n Penurunan muka air membuat bentang alam menjadi lebih mudah terbakar. Perkebunan kelapa sawit dan tanaman kehutanan lainnya juga tersebar luas di wilayah tersebut.<\/p>\n \n\n \n Setelah musim kebakaran yang sangat buruk pada 2015, pemerintah dan sejumlah organisasi berusaha membalikkan sebagian kerusakan tersebut.<\/p>\n \n\n \n Berbagai proyek dilakukan dengan menutup kanal irigasi untuk membantu memulihkan lahan basah. Upaya lain meliputi penguatan kemampuan pemadaman serta peningkatan pencegahan terhadap penyulutan api secara tidak sengaja oleh manusia.<\/p>\n \n\n \n Mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland, Shi Jun Wee, menilai musim kebakaran 2026 akan menjadi ujian nyata bagi berbagai langkah perlindungan yang diterapkan setelah 2015.<\/p>\n \n\n \n Wee menjadi bagian dari tim yang bekerja sama dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan metode baru dalam mendeteksi kebakaran di bawah tajuk hutan yang mungkin tidak tertangkap MODIS dan VIIRS.<\/p>\n \n\n \n Pendekatan tersebut menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.<\/p>\n \n\n \n Selama musim kebakaran berlangsung, kondisi juga akan dipantau melalui peramban data Worldview milik NASA, Fire Information for Resource Management System atau FIRMS, pengamatan Harmonized Landsat and Sentinel-2, serta Global Fire Emissions Database.<\/p>\n \n\n \n Dampak asap telah dirasakan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga. Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.<\/p>\n \n\n \n Sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sembilan taman nasional ditutup, sedangkan beberapa penerbangan mengalami keterlambatan akibat asap tebal.<\/p>\n \n\n \n Cochrane mengingatkan bahwa perhatian terhadap kebakaran sering meningkat ketika terjadi musim kebakaran besar pada tahun El Ni\u00f1o, kemudian menghilang setelah keadaan membaik. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, termasuk pada tahun-tahun ketika kebakaran tidak berlangsung terlalu parah.<\/p>\n \n\n \n ***<\/em>
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n\n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n\n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n\n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n\n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};El Ni\u00f1o memperkuat musim kering<\/strong><\/h3>\n \n\n\n
Api dapat bertahan hingga hujan datang<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kebakaran terburuk justru sulit terlihat<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Kerentanan terbentuk sejak beberapa dekade lalu<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Ujian bagi perlindungan pasca-2015<\/strong><\/h3>\n \n\n \n
Sumber: ScienceDaily, \u201cIndonesia\u2019s Most Dangerous Fires Are Burning Underground\u201d, diterbitkan 6 September 2026. Materi berasal dari NASA Earth Observatory. Kutipan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah substansinya.<\/em><\/p>\n ","post_title":"Api Paling Berbahaya di Indonesia Membara di Bawah Tanah","post_excerpt":"Kebakaran gambut mulai meningkat pada awal musim kebakaran 2026. El Ni\u00f1o yang menguat dan kekeringan parah membuat lahan basah mengering, memungkinkan api membara di bawah permukaan selama berbulan-bulan.","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"api-paling-berbahaya-di-indonesia-membara-di-bawah-tanah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-07 23:11:20","post_modified_gmt":"2026-09-07 15:11:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3148","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};