Bos Nvidia Sebut AI Tak Akan Mengakhiri Dunia, Publik Pun Skeptis

Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge

PROBACA.ID – Bagaimana kalau orang yang paling diuntungkan dari ledakan AI diminta menilai apakah teknologi itu berbahaya? Jawabannya mungkin sudah bisa ditebak: Jensen Huang, CEO Nvidia, tidak melihat alasan untuk panik.

Dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning, Huang menyatakan ada “kemungkinan 0 persen” AI akan mengakhiri dunia. Ia juga menganggap upaya menakut-nakuti publik soal risiko AI sebagai sesuatu yang tidak perlu, bahkan tidak bertanggung jawab.

Pernyataan ini muncul ketika sejumlah peneliti dan pemimpin perusahaan teknologi justru menyerukan kehati-hatian. Dario Amodei dari Anthropic dan Sam Altman dari OpenAI, misalnya, pernah mendorong perlambatan pengembangan AI. Namun, Huang menilai seruan semacam itu tidak memiliki dasar ilmiah.

Ia juga tidak melihat kebutuhan mendesak untuk membuat aturan, undang-undang, atau pedoman baru. Sikap tersebut cukup berani, apalagi muncul setelah sejumlah kasus besar ketika model AI dilaporkan berhasil keluar dari batasan yang dipasang dan meretas perusahaan lain.

Baca Juga

Bayangkan sebuah mobil yang makin cepat, tetapi sistem remnya masih terus diuji. Bagi kelompok yang khawatir, masalahnya bukan berarti mobil itu pasti menabrak, melainkan apa yang terjadi jika rem gagal saat kendaraan melaju tanpa pengawasan. Kekhawatiran serupa diarahkan pada AI yang semakin mampu bertindak sendiri.

Namun, bagi Huang, alarm tersebut terlalu berlebihan. Sikapnya juga tidak bisa dilepaskan dari posisi Nvidia dalam industri ini. Perusahaan yang dipimpinnya menjadi pemasok penting chip untuk AI, sementara Nvidia disebut sebagai perusahaan paling bernilai di dunia.

Huang berada di posisi ketujuh dalam daftar orang terkaya versi Forbes. Kekayaannya disebut melonjak dari sekitar 21 miliar dolar AS pada 2023 menjadi lebih dari 192 miliar dolar AS pada 2026. Dengan bisnis yang tumbuh secepat itu, perlambatan industri AI—baik karena aturan baru maupun kekhawatiran keamanan—jelas bisa mengganggu laju tersebut.

Karena itu, ketika Huang menyebut bahaya AI dibesar-besarkan dan menolak regulasi baru, publik wajar membaca pernyataan itu dengan kacamata kritis. Ia mungkin benar bahwa AI tidak otomatis menjadi ancaman bagi dunia. Tetapi, orang yang menjual “mesin” di balik ledakan AI tentu punya alasan kuat untuk menjaga mesin itu tetap menyala.

Di situlah letak persoalannya: pernyataan “0 persen” bukan akhir dari perdebatan, melainkan awal pertanyaan baru—seberapa jauh kita mau mempercayai jaminan dari pihak yang paling diuntungkan?

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber Theverge

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement