PROBACA.ID –
Bagaimana jika obat yang membantu menurunkan berat badan juga membuat seorang anak makan lebih sedikit—termasuk lebih sedikit nutrisi penting? Di sinilah persoalan baru mulai terlihat. Bukan berarti obat GLP-1 pasti berbahaya, tetapi penggunaannya pada anak membawa kebutuhan tambahan: perhatian lebih serius terhadap asupan makanan.
Dalam sebuah studi yang dikutip ScienceDaily, hampir satu dari enam anak yang menggunakan obat GLP-1 mengalami kekurangan nutrisi dalam satu tahun pertama terapi. Masalah yang paling sering ditemukan adalah kekurangan vitamin D, yang tercatat pada 12,4 persen anak.
GLP-1 merupakan kelompok obat yang digunakan untuk membantu mengendalikan diabetes dan menurunkan berat badan. Obat ini dapat memengaruhi nafsu makan serta jumlah makanan yang dikonsumsi. Pada orang dewasa, hal itu mungkin terdengar seperti bagian dari tujuan pengobatan. Namun pada anak dan remaja, tubuh sedang berada dalam fase “renovasi besar-besaran”—tulang tumbuh, tubuh berkembang, dan pubertas membawa banyak perubahan biologis.
Karena itu, vitamin D, zat besi, dan kalsium menjadi perhatian khusus. Ketiganya berkaitan dengan kesehatan tulang dan perkembangan tubuh. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi selama masa pertumbuhan, dampaknya bisa berlangsung panjang.
Temuan ini berasal dari analisis data klaim kesehatan nasional yang dikumpulkan pada 2017–2022. Tim peneliti yang dipimpin Justin Ryder, PhD, dari Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital of Chicago dan Northwestern University Feinberg School of Medicine, menelusuri data 2.031 pengguna GLP-1 berusia 10–17 tahun. Anak-anak tersebut sebelumnya belum didiagnosis mengalami kekurangan nutrisi.
Liraglutide—dipasarkan antara lain sebagai Victoza dan Saxenda—menjadi obat yang paling banyak digunakan, mencakup 78,6 persen resep. Berikutnya dulaglutide atau Trulicity sebesar 10,4 persen, dan semaglutide—Ozempic serta Wegovy—sebesar 9,1 persen.
Yang menarik, dukungan gizi ternyata belum banyak diberikan sejak awal. Hanya 5 persen pasien yang mendapat konseling nutrisi dalam 30 hari setelah memulai terapi. Dalam enam bulan, angkanya masih kurang dari 25 persen.
Menurut Ryder, pendampingan nutrisi sebaiknya dimulai bersamaan dengan terapi, bukan menunggu sampai kekurangan gizi terdeteksi. Jadi, persoalannya bukan sekadar “berat badan turun”, melainkan apakah tubuh yang sedang tumbuh tetap memperoleh bahan bakar yang cukup. Di situlah letak aha-nya: pada anak, keberhasilan obat bukan hanya diukur dari angka timbangan, tetapi juga dari apakah pertumbuhan tetap berjalan sehat.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber ScienceDaily
















































