PROBACA.COM – Pernah melewatkan penerbangan lalu langsung panik, marah, dan merasa semuanya berantakan? Atau justru bisa menarik napas, menerima situasi, lalu mencari penerbangan berikutnya? Keduanya sama-sama mengalami stres. Bedanya, ada orang yang lebih mudah mengubah cara berpikir dan bertindak ketika keadaan berubah.
Kemampuan itu disebut psychological flexibility, atau fleksibilitas psikologis. Sederhananya, ini adalah kemampuan untuk menyesuaikan pikiran, emosi, dan tindakan saat menghadapi situasi baru atau sulit. Bukan berarti seseorang tidak merasa stres sama sekali. Ia tetap bisa cemas atau kecewa, tetapi tidak sepenuhnya terseret oleh emosi tersebut.
“Kita mungkin mengenal seseorang yang tetap tenang di bawah tekanan,” kata Lina Begdache, profesor madya bidang studi kesehatan dan kebugaran di Binghamton University sekaligus penulis utama penelitian. Menurutnya, orang yang tampak tangguh itu bukan hanya memiliki ketahanan mental. Mereka juga punya fleksibilitas psikologis, sehingga mampu mengambil jarak sejenak dari masalah dan mencari respons yang lebih masuk akal.
Nah, dari mana kemampuan ini mungkin didukung? Penelitian baru dari Binghamton University menemukan kaitan antara kebiasaan hidup sehat dan fleksibilitas psikologis. Begdache bekerja bersama Jason Cherry, mantan profesor madya terapi fisik di Binghamton, serta mantan mahasiswa Alexander J. Talkachov.
Mereka menganalisis jawaban survei anonim dari sekitar 400 mahasiswa. Pertanyaannya mencakup pola makan, kebiasaan tidur, aktivitas fisik, dan berbagai faktor gaya hidup lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kebiasaan yang lebih sehat cenderung memiliki fleksibilitas psikologis dan ketahanan menghadapi stres yang lebih baik.
Salah satu kaitan yang terlihat cukup menarik adalah soal sarapan. Mahasiswa yang sarapan sedikitnya lima kali dalam seminggu cenderung menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi. Fleksibilitas psikologis tampaknya ikut menjelaskan hubungan tersebut.
Tidur juga memainkan peran penting. Mereka yang tidur kurang dari enam jam umumnya melaporkan tingkat ketahanan dan fleksibilitas psikologis yang lebih rendah. Sementara itu, aktivitas fisik selama 20 menit atau lebih berkaitan dengan fleksibilitas psikologis yang lebih besar dan kemampuan menghadapi stres yang lebih baik.
Asupan minyak ikan beberapa kali dalam seminggu juga dikaitkan dengan fleksibilitas psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, mahasiswa yang lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji dan kurang tidur cenderung menunjukkan “kekakuan psikologis”—kesulitan menyesuaikan pikiran dan perilaku ketika keadaan berubah.
Namun, ada catatan penting. Penelitian ini menggunakan jawaban survei, sehingga hasilnya menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa sarapan, olahraga, atau tidur cukup secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih fleksibel secara psikologis atau lebih tangguh menghadapi stres.
Lantas, mengapa fleksibilitas psikologis dianggap penting? Begdache menggambarkannya seperti kemampuan untuk mundur selangkah ketika pikiran sedang penuh. Saat stres, kita sering merasa seolah-olah “menyatu” dengan masalah—kita tidak hanya mengalami stres, tetapi seakan-akan hidup di dalamnya.
Fleksibilitas psikologis memberi ruang untuk berkata, “Aku merasa seperti ini karena alasan tertentu. Lalu, apa yang bisa kulakukan?” Dengan mengenali emosi, seseorang dapat melihat pilihan yang tersedia, alih-alih langsung bereaksi seperti panci yang tutupnya sudah bergetar karena tekanan.
Temuan ini juga melanjutkan penelitian Begdache sebelumnya, yang mengaitkan pola makan bergizi dengan ketahanan yang lebih tinggi, serta kebiasaan makan yang kurang sehat dengan ketahanan yang lebih rendah. Penelitian terbaru ini menawarkan kemungkinan penjelasan: diet dan gaya hidup mungkin tidak membuat seseorang tangguh secara langsung, tetapi membantu membangun fleksibilitas psikologis—dan kemampuan itulah yang kemudian mendukung pengelolaan stres.
Penelitian berjudul “Dietary and lifestyle factors and resilience: the role of psychological flexibility as a mediator” ini diterbitkan dalam Journal of American College Health.
Nah, sarapan bukan tombol ajaib penghapus stres. Tetapi rutinitas sederhana seperti makan lebih teratur, tidur cukup, dan bergerak setidaknya 20 menit mungkin berkaitan dengan kemampuan untuk tidak langsung terseret badai emosi. Kadang, menjadi lebih tangguh dimulai dari memberi tubuh dan pikiran ruang untuk beradaptasi.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily















































