PROBACA.ID – Polda Metro Jaya menemukan bukti transaksi keuangan yang mengarah pada dugaan perekrutan anak secara berulang dalam kerusuhan yang terjadi pada 27 Agustus 2026. Temuan tersebut diperoleh dari pemeriksaan terhadap sejumlah anak yang menjadi korban.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Metro Jaya Kombes Rita Wulandari Wibowo menyampaikan temuan itu dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Sabtu (12/9/2026).
“Dari beberapa anak korban yang kami lakukan pemeriksaan dari barang bukti yang ada, ada bukti transaksi yang mana ini menunjukkan bahwa rekrutmen terhadap anak bukan baru ini saja, tapi rupanya berulang,” kata Rita.
Bukti transaksi tersebut kemudian menjadi dasar bagi kepolisian untuk mengembangkan penyelidikan. Dalam perkembangan kasus, jumlah tersangka yang sebelumnya satu orang bertambah menjadi tiga orang dan seluruhnya telah resmi ditahan.
“Makanya kami melakukan banyak hal tadi, pendalaman dan kita mengembangkan sehingga dari satu nama berkembang menjadi tiga nama yang sudah kita lakukan penahanan, dan mungkin juga bisa berkembang karena kita akan terus bersama-sama dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum untuk mengungkap aktor intelektualnya,” ungkapnya.
Rita menjelaskan, anak-anak menjadi sasaran eksploitasi karena termasuk kelompok rentan yang mudah dipengaruhi dan diprovokasi.
“Kenapa merekrut anak? Ya, karena anak-anak ini rupanya sudah merupakan komunitas yang rentan, tadi kita katakan rentan. Karena dia mudah sekali terprovokasi,” tururnya.
Selain pengaruh kelompok, iming-iming uang puluhan ribu rupiah juga disebut dapat mendorong anak mengikuti ajakan perekrut. Rita menyebut nominal tersebut mungkin terlihat kecil bagi orang dewasa, tetapi bisa menjadi daya tarik bagi anak-anak.
“Mungkin bagi kita dengan nilai Rp 35.000, Rp 40.000, Rp 50.000 itu kecil, tapi ternyata itu sangat membuat anak-anak ini mudah sekali mengikuti kehendak daripada perekrut,” jelas Rita.
Ia menambahkan, keterlibatan anak tidak semata-mata dipengaruhi uang. Dalam proses pembentukan karakter, kebersamaan dengan kelompok sebaya juga dapat membuat anak mengikuti tindakan kelompok tanpa memahami kerentanan yang mereka miliki.
“Dan intinya anak-anak ini bukan dari nilai uangnya ya, tapi ketika mereka dalam proses pembentukan karakter diri kemudian berkumpul, di situlah ada satu hal yang dimaknai oleh anak-anak ini adalah kebersamaan. Padahal mereka tidak paham dengan kerentanan yang mereka miliki,” lanjutnya.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber Detik.com















































