
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n
Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n
Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n
Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n
Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n
Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n
Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n
Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n
Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n
Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n
Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n
Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n
Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n
Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n
Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n
Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n
Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n
Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n
Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n
Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n
)* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika ada masyarakat yang membutuhkan, maka sebisa mungkin harus dibantu.<\/p>\n\n\n\n Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Sebab bagi Rahman, membantu masyarakat bukan sekadar tentang mendapatkan pujian. Bukan pula tentang bagaimana namanya disebut atau seberapa banyak orang yang mengetahui apa yang telah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika ada masyarakat yang membutuhkan, maka sebisa mungkin harus dibantu.<\/p>\n\n\n\n Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ia tetap berjalan, membantu, menyapa masyarakat, dan membuka ruang kepedulian kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa melihat siapa orangnya dan dari mana ia berasal.<\/p>\n\n\n\n Sebab bagi Rahman, membantu masyarakat bukan sekadar tentang mendapatkan pujian. Bukan pula tentang bagaimana namanya disebut atau seberapa banyak orang yang mengetahui apa yang telah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika ada masyarakat yang membutuhkan, maka sebisa mungkin harus dibantu.<\/p>\n\n\n\n Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Salehe berada di tengah situasi itu. Namun menariknya, berbagai isu yang beredar tidak membuat langkahnya untuk terus berbuat baik kepada masyarakat Bolaang Mongondow Timur (Boltim) berhenti.<\/p>\n\n\n\n Ia tetap berjalan, membantu, menyapa masyarakat, dan membuka ruang kepedulian kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa melihat siapa orangnya dan dari mana ia berasal.<\/p>\n\n\n\n Sebab bagi Rahman, membantu masyarakat bukan sekadar tentang mendapatkan pujian. Bukan pula tentang bagaimana namanya disebut atau seberapa banyak orang yang mengetahui apa yang telah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika ada masyarakat yang membutuhkan, maka sebisa mungkin harus dibantu.<\/p>\n\n\n\n Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ada kalanya seseorang diuji bukan ketika hidupnya sedang baik-baik saja, melainkan ketika badai datang dari berbagai arah. Ketika nama mulai diperbincangkan, ketika isu mulai beredar, ketika suara-suara dari luar mulai bermunculan, di situlah keteguhan seseorang benar-benar terlihat.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe berada di tengah situasi itu. Namun menariknya, berbagai isu yang beredar tidak membuat langkahnya untuk terus berbuat baik kepada masyarakat Bolaang Mongondow Timur (Boltim) berhenti.<\/p>\n\n\n\n Ia tetap berjalan, membantu, menyapa masyarakat, dan membuka ruang kepedulian kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa melihat siapa orangnya dan dari mana ia berasal.<\/p>\n\n\n\n Sebab bagi Rahman, membantu masyarakat bukan sekadar tentang mendapatkan pujian. Bukan pula tentang bagaimana namanya disebut atau seberapa banyak orang yang mengetahui apa yang telah dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketika ada masyarakat yang membutuhkan, maka sebisa mungkin harus dibantu.<\/p>\n\n\n\n Di tengah dunia yang terkadang begitu cepat memberikan penilaian, perbuatan justru membutuhkan waktu untuk membuktikan dirinya.<\/p>\n\n\n\n Hari ini seseorang bisa dipuji, besok bisa dicaci. Seseorang bisa dianggap baik, besok namanya bisa dibicarakan dengan berbagai cerita.<\/p>\n\n\n\n Tetapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan oleh kata-kata adalah apa yang benar-benar dilakukan seseorang kepada sesamanya.<\/p>\n\n\n\n Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang dari apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan orang lain.<\/p>\n\n\n\n Isu boleh beredar, sorotan boleh datang, orang boleh memiliki penilaian masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Tetapi Rahman Salehe seolah memilih menjawab semuanya dengan satu cara: tetap berbuat baik.<\/p>\n\n\n\n Ia tidak harus membalas setiap suara dengan suara yang lebih keras. Tidak harus menjawab setiap tudingan dengan kemarahan. Tidak harus berdiri di setiap panggung untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab terkadang, jawaban paling kuat bukanlah kata-kata.<\/p>\n\n\n\n Jawaban paling kuat adalah konsistensi, ketika seseorang tetap membantu meski dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, di situlah keteguhan diuji.<\/p>\n\n\n\n Ketika seseorang tetap peduli kepada masyarakat meski tidak semua orang menyukainya, di situlah ketulusan mulai terlihat.<\/p>\n\n\n\n Dan ketika seseorang mampu memisahkan persoalan pribadi dengan kepeduliannya terhadap sesama, di situlah jiwa sosial menemukan maknanya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan tentang dirinya.<\/p>\n\n\n\n Ia juga tidak bisa menghentikan setiap isu yang beredar. Namun ia masih bisa menentukan bagaimana dirinya bersikap. Dan pilihannya adalah tetap hadir untuk masyarakat tanpa pandang bulu.<\/p>\n\n\n\n Bagi sebagian orang, mungkin kebaikan mudah dilakukan ketika keadaan sedang nyaman, ketika nama sedang dipuji, dan ketika banyak orang berdiri di belakang.<\/p>\n\n\n\n Tetapi kebaikan yang dilakukan ketika seseorang sedang diterpa badai adalah cerita yang berbeda. Sebab di saat seperti itu, seseorang bisa saja memilih mundur.<\/p>\n\n\n\n Tetapi ketika seseorang tetap memilih membantu, maka ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: jangan biarkan kebisingan dunia mematikan suara hati.<\/p>\n\n\n\n Di Boltim, masyarakat tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mendukung, ada yang bertanya, ada pula yang mungkin memiliki penilaian sendiri.<\/p>\n\n\n\n Itu bagian dari kehidupan. Namun di atas semua perbedaan itu, masyarakat juga berhak melihat sebuah hal secara jernih: apa yang dilakukan seseorang untuk sesamanya. Sebab jangan kita terlalu sibuk mendengar cerita tentang seseorang, sampai lupa melihat perbuatannya.<\/p>\n\n\n\n Jangan sampai kita lebih cepat percaya pada kabar yang belum tentu seluruhnya benar, tetapi lambat melihat kebaikan yang nyata di depan mata.<\/p>\n\n\n\n Dan jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seseorang hanya karena mendengar satu sisi cerita. Waktu akan selalu punya cara untuk memisahkan antara kata dan kenyataan. Yang hanya mengandalkan kata-kata akan berhenti ketika suara itu selesai.<\/p>\n\n\n\n Tetapi orang yang meninggalkan jejak melalui perbuatan akan tetap dikenang oleh mereka yang pernah merasakan manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe memilih berjalan di jalan itu. Jalan yang mungkin tidak selalu mudah, jalan yang terkadang penuh sorotan, jalan yang mungkin membuatnya harus menerima berbagai penilaian.<\/p>\n\n\n\n Namun selama masih ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, ia memilih untuk tidak menutup pintu.<\/p>\n\n\n\n Karena kebaikan tidak mengenal musim. Tidak mengenal siapa yang sedang memuji, tidak mengenal siapa yang sedang mencibir, dan tidak mengenal apakah kamera sedang menyorot atau tidak.<\/p>\n\n\n\n Kebaikan yang tulus tetap akan menjadi kebaikan, meskipun tidak semua orang mau mengakuinya.<\/p>\n\n\n\n Mungkin hari ini ada yang sibuk mencari kekurangan. Ada yang sibuk menghitung kesalahan. Ada pula yang sibuk membangun opini.<\/p>\n\n\n\n Tetapi biarlah masyarakat menilai dengan mata mereka sendiri. Sebab manusia boleh berbicara apa saja. Namun jejak perbuatan akan berbicara lebih lama daripada suara manusia.<\/p>\n\n\n\n Rahman Salehe tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa berbuat baik. Ia hanya perlu tetap menjadi manusia yang mau peduli.<\/p>\n\n\n\n Karena di tengah kehidupan yang semakin keras, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat juga membutuhkan orang yang mau turun tangan. Mau mendengar, Mau membantu, dan mau hadir ketika orang lain membutuhkan.<\/p>\n\n\n\n Apabila badai adalah ujian, biarlah waktu yang menjadi saksi. Jika isu adalah suara, biarlah perbuatan menjadi jawabannya. Walaupun ada yang memilih melihat dari sisi gelap, biarlah kebaikan tetap berjalan dari sisi yang lain.<\/p>\n\n\n\n Sebab orang yang benar-benar ingin berbuat baik tidak akan berhenti hanya karena ada yang tidak menyukainya.<\/p>\n\n\n\n Dan mungkin inilah bagian paling penting dari kisah Rahman Salehe: \"ketika badai datang, ia tidak memilih membalas badai dengan badai, ia memilih tetap menanam kebaikan. Tidak semua kebaikan akan langsung dibalas. Tidak semua pertolongan akan berujung ucapan terima kasih.<\/p>\n\n\n\n Tetapi suatu hari nanti, ketika orang-orang mengingat siapa yang pernah hadir ketika mereka membutuhkan, mungkin bukan isu yang akan mereka ingat.<\/p>\n\n\n\n Bukan pula suara-suara yang pernah beredar. Melainkan satu hal sederhana: \"Dia pernah membantu kami ketika kami membutuhkan.\"<\/p>\n\n\n\n Dan terkadang, satu kalimat sederhana dari hati masyarakat jauh lebih berarti daripada seribu pujian yang datang hanya karena kepentingan. Diterpah badai, ia tetap memilih berbuat baik. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak orang membicarakan dirinya, tetapi seberapa banyak kebaikan yang pernah ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya.<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Diterpa Badai, Rahman Salehe Tetap Memilih Berbuat Baik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"diterpa-badai-rahman-salehe-tetap-memilih-berbuat-baik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-28 10:32:46","post_modified_gmt":"2026-09-28 02:32:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=3849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1330,"post_author":"10","post_date":"2026-08-26 11:51:31","post_date_gmt":"2026-08-26 03:51:31","post_content":"\n Oleh: Rinto Lakoro<\/strong>*<\/p>\n\n\n\n Diantara kepentingan investasi dan kewajiban negara, ada suara masyarakat Dusun V Panang yang hanya ingin didengar dan dihargai.<\/p>\n\n\n\n Di Dusun V Panang, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) persoalan tanah bukan sekadar tentang batas, dokumen, atau kepentingan perusahaan Bernama PT Arafura Surya Alam (ASA).<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat, tanah adalah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak-anak, mencari rezeki, dan mempertahankan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n Puluhan tahun kehidupan telah berjalan di atas tanah itu. Di sana ada keringat yang jatuh, ada keluarga yang tumbuh, ada orang tua yang menua, bahkan ada generasi yang lahir dan mengenal tanah tersebut sebagai bagian dari kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n Kini, ketika kepentingan perusahaan hadir, muncul pertanyaan yang semakin berat dirasakan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Di mana posisi rakyat kecil dalam pertarungan antara kepentingan investasi dan kekuasaan negara?<\/p>\n\n\n\n Masyarakat bukan berarti menolak perusahaan. Mereka juga memahami bahwa investasi dapat membawa lapangan pekerjaan dan pembangunan.<\/p>\n\n\n\n Namun masyarakat ingin satu hal yang sederhana. Jangan sampai pembangunan membuat mereka kehilangan tempat untuk menghidupi keluarganya.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki kepentingan dan dasar hukum dalam menjalankan aktivitasnya. PT ASA yang bernaung dibawah PT United Tractors Tbk (UNTR) Astra Grup tentu menjunjung tinggi professional. Berpengalaman menyelesaikan kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan visi misi perusahaan.<\/p>\n\n\n\n Tetapi sebesar apa pun kekuatan perusahaan, tetap ada tanggung jawab untuk memastikan kehadirannya tidak menghapus ruang hidup masyarakat.<\/p>\n\n\n\n Dan pemerintah? Di sinilah harapan terbesar itu diletakkan. Pemerintah seharusnya menjadi jembatan ketika kepentingan perusahaan dan masyarakat bertemu. Bukan membiarkan rakyat merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan yang begitu besar.<\/p>\n\n\n\n Masyarakat Panang tidak meminta belas kasihan. Mereka meminta keadilan, keterbukaan, kepastian, dan ruang untuk didengar.<\/p>\n\n\n\n Sebab di balik setiap bidang tanah yang dipersoalkan, ada manusia. Ada seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya. Ada seorang ibu yang berharap dapurnya tetap mengepul.<\/p>\n\n\n\n Ada keluarga yang menggantungkan hidup dari tanah yang selama ini mereka kenal dan rawat. Maka jeritan masyarakat Panang sesungguhnya bukan sekadar jeritan tentang tanah. Ini adalah jeritan tentang masa depan.<\/p>\n\n\n\n Ketika perusahaan berbicara tentang investasi, pemerintah berbicara tentang aturan, dan masyarakat berbicara tentang kehidupan, ketiganya seharusnya tidak berdiri sebagai musuh.<\/p>\n\n\n\n Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang membuat satu pihak menang dan pihak lain kehilangan tempat berpijak.<\/p>\n\n\n\n Pembangunan adalah ketika perusahaan dapat berkembang, pemerintah dapat menjalankan kewajibannya, dan masyarakat tetap bisa hidup dengan tenang di tanah yang menjadi sumber penghidupannya.<\/p>\n\n\n\n Panang hanya ingin didengar. Bukan karena mereka ingin melawan pembangunan. Tetapi karena mereka juga bagian dari Indonesia yang berhak merasakan arti kemerdekaan: merdeka untuk hidup, merdeka untuk mencari rezeki, dan merdeka untuk berharap bahwa keadilan masih memiliki tempat bagi rakyat kecil. ***<\/p>\n\n\n\n )* Pemerhati dan Masyarakat Panang, Kotabunan, Boltim<\/p>\n","post_title":"Jeritan dari Panang: Ketika Tanah, Perusahaan dan Pemerintah Berhadapan dengan Hati Rakyat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"jeritan-dari-panang-ketika-tanah-perusahaan-dan-pemerintah-berhadapan-dengan-hati-rakyat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-09-01 15:25:10","post_modified_gmt":"2026-09-01 07:25:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=1330","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n
Sebab ia tahu, tidak semua benih akan langsung tumbuh.\"<\/p>\n\n\n\n