OpenAI dan Microsoft Disebut Tahu AI Bisa Memicu “Kiamat” Web

Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge
Sumber Theverge

PROBACA.ID – Pernah mencari jawaban di Google, lalu berhenti di ringkasan AI tanpa membuka situs sumbernya? Praktis memang. Tapi coba bayangkan jika semakin banyak orang melakukan hal yang sama. Situs berita kehilangan kunjungan, pendapatan turun, lalu tak punya cukup biaya untuk membuat konten baru.

Inilah skenario “doom loop” atau lingkaran kehancuran yang disebut dalam dokumen pengadilan kasus The New York Times melawan OpenAI dan Microsoft. Dokumen yang baru dibuka itu menunjukkan bahwa kedua perusahaan sebenarnya sudah membahas risiko tersebut sejak awal.

Dalam salah satu dokumen internal Microsoft, strategi konten AI disebut bisa merusak kinerja model sekaligus seluruh web. Alasannya sederhana: model AI membutuhkan artikel, buku, dan berbagai konten internet sebagai “rantai pasokan” data. Namun, produk AI yang mengambil data itu juga bisa menggantikan sumber aslinya.

Analoginya seperti restoran yang mengambil semua bahan dari satu pasar, lalu menjual makanan yang membuat orang tak lagi datang ke pasar tersebut. Jika pasar sepi dan pedagang berhenti berjualan, restoran itu pada akhirnya kehilangan bahan makanan.

Baca Juga

Brent Hecht, Direktur Applied Science Microsoft, bahkan menyebut pengambilan data untuk melatih AI sebagai “pencurian tenaga kerja terbesar dalam sejarah manusia”. Ia juga menilai pembelaan Microsoft soal fair use—aturan penggunaan karya dalam kondisi tertentu—sebagai “olok-olok total”.

Microsoft berusaha menjaga jarak dari pernyataan itu. Juru bicara Alex Haurek mengatakan pandangan Hecht bersifat pribadi, akademis, dan bukan analisis hukum resmi perusahaan. Dalam dokumen lain, Microsoft juga menggambarkan Hecht sebagai sosok yang memiliki pandangan berbeda dan futuristis.

Namun, dokumen tersebut memuat kekhawatiran lain yang cukup sulit diabaikan. OpenAI disebut mengetahui bahwa ChatGPT bisa mengeluarkan kembali materi berhak cipta secara hampir kata demi kata. Pegawainya mengakui GPT-4 menyimpan banyak data sehingga sangat piawai melakukan “regurgitasi”, alias memuntahkan kembali teks yang pernah dipelajari.

Masalahnya tidak berhenti di sana. Seorang perwakilan OpenAI disebut tidak mengetahui adanya upaya untuk mendeteksi atau menghapus konten berbayar dari data pelatihan. Padahal, CEO Microsoft Satya Nadella pernah menyatakan bahwa konten berbayar seharusnya dilisensikan.

OpenAI juga disebut memahami bahwa chatbot mengurangi lalu lintas rujukan ke situs berita. Para ahli media dan ekonomi perusahaan memperkirakan kunjungan dari mesin pencari bisa turun hingga 60 persen. Nick Turley, pimpinan ChatGPT, bahkan mengatakan bahwa setelah pengguna mendapat jawaban dari chatbot, “tak ada alasan bagus” untuk mengeklik tautan sumber.

Di sinilah ironi besarnya: AI dibangun dari internet, tetapi bisa membuat internet kehilangan alasan untuk terus hidup. Kalau sumbernya mati, jawaban AI pun lama-lama hanya akan berputar di antara sisa-sisa informasi lama.

***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber Theverge

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement