\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

BERITA TERBARU

\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

Sekira enam hari sebelumnya, dia mengabari kalau saya dalam daftar peserta pelatihan jurnalis dari Tempo Institute.  <\/p>\n\n\n\n

Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201ciyo\u2026iyo\u2026\u201d hanya dua kata itu yang keluar dari mulutku.<\/p>\n\n\n\n

Sekira enam hari sebelumnya, dia mengabari kalau saya dalam daftar peserta pelatihan jurnalis dari Tempo Institute.  <\/p>\n\n\n\n

Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

\u201cSo di mana. Acara so mulai. Kamari jo?,\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201ciyo\u2026iyo\u2026\u201d hanya dua kata itu yang keluar dari mulutku.<\/p>\n\n\n\n

Sekira enam hari sebelumnya, dia mengabari kalau saya dalam daftar peserta pelatihan jurnalis dari Tempo Institute.  <\/p>\n\n\n\n

Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

\n

PUKUL <\/strong>09.00 Wita, Selasa 15 September 2026 telepon berdering. Di ujung sana suara Fauzi Permata, sahabat sekaligus Humas PT J Resources Bolaang Mongondow (JBRM).<\/p>\n\n\n\n

\u201cSo di mana. Acara so mulai. Kamari jo?,\u201d<\/p>\n\n\n\n

\u201ciyo\u2026iyo\u2026\u201d hanya dua kata itu yang keluar dari mulutku.<\/p>\n\n\n\n

Sekira enam hari sebelumnya, dia mengabari kalau saya dalam daftar peserta pelatihan jurnalis dari Tempo Institute.  <\/p>\n\n\n\n

Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.<\/p>\n\n\n\n

Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa. <\/p>\n\n\n\n

Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.<\/p>\n\n\n\n

Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15\u201317 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.<\/p>\n\n\n\n

Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling  untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n

Setelah...<\/h2>\n\n\n\n
\"dari
dari kiri: Purwani Dyah Prabandari, Philipu Parera, Gunawan Wicaksono dan Yudono Januar adalah mentor Tempo Institute <\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Setelah registrasi, mataku mencari kursi kosong, tertuju di meja bulat bagian kanan. Di kelompok ini Fauzi juga penghuninya, meski mantan Pemred Radar Bolmong tak banyak duduk tenang. Sebagai tuan rumah, ia lebih sering mondar-mandor memastikan kegiatan berjalan.<\/p>\n\n\n\n

Saya ketinggalan momen pembukaan oleh Presiden Direktur PT JRBM Anang Rizka Noor.<\/p>\n\n\n\n

Bukan saya paling terakhir masuk kelas. Menyusul Supardi Bado (Diding) yang sedang berjuang menyelamatkan kakaonya dari ganasnya musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Saya menoleh kebelakang, rupanya sosok berseragam JRBM yang buka acara tadi duduk di deretan kursi di sudut belakang ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Secarik kertas ditangannya. Sesekali ia menulis, kemudian mengangkat wajah mengamati isi ruangan.  Pembawaannya tenang, wajah menyimpan guratan pengalaman.<\/p>\n\n\n\n

Belakang saya tahu, kelas ini memang punya arti khusus baginya. Mantan Vice President Corporate Communications PT Pertamina itu seperti sedang membawa sebuah potongan masa lalu ke dalam ruangan kelas.<\/p>\n\n\n\n

Dan kami belum tahu bahwa kami semua akan menjadi bagian dari cerita itu.<\/p>\n\n\n\n

Hanya empat dari enam meja terisi peserta. Dua meja kabarnya tidak jadi datang. Meja di tengah itu kemudian ditempati oleh para mentor Tempo Institute. Membuat tata letak interaksi mentor dan murid lebih aktraktif.<\/p>\n\n\n\n

Kami dibagi dalam empat kelompok dengan nama-nama dalam bahasa Mongondow. Ada Motampot, yang berarti bagus atau baik. Di sinilah saya bersama Diding, Yunita Datalamon, Agung Dondo, Randi Manangin, Sandy Bawoel dan Gery Rayesaputra Liangga.<\/p>\n\n\n\n

Di depan kami ada Bulawan, yang berarti emas. Di sisi kiri depan, Due\u2019, durian. Sementara di belakangnya, Bantong, anoa.<\/p>\n\n\n\n

Specialist...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
Presiden Direktur J Resources Bolaang Mongondow Anang Rizkani Noor diskusi dengan peserta kelas Tempo Institute di sela-sela makan malam (kiri). Salah satu karyawan J Resources dikerjaain membuat semua tertawa. (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Specialist Corporate Communications J Resources, Lita Regina Lubis, Asti Sekar dan satu rekannya mengambil tempat di sudut kanan belakang justru tak kalah antusiasnya. Meski ikut mengurusi kegiatan, Regina haus belajar ilmu jurnalis dari Tempo Institute.<\/p>\n\n\n\n

Di depan fasilitator kegiatan Boi Hariyadi \u2013Mas Boi, sapaanya\u2014minta peserta menulis harapan dan kendala kami ikut kegiatan. Kertas-kertas kecil ditempel di \u201cDinding Belajar\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Tapi dari sanalah kelas ini mulai terlihat. Semua momen diabadikan oleh Oktav Singal dan Theza Gobel.<\/p>\n\n\n\n

Boi dengan jam terbang tinggi selalu mencairkan suasana saat ngantuk menggantung di mata. Kala penentuan poin di kelompok, disinilah serunya. Aksi saling sindir antar kelompok, lemparan jokes bikin riuh.<\/p>\n\n\n\n

Permainan berhadiah bikin antusias. Saya dapat buku \u201cJejak Panjang Investigasi bersama Tempo\u201d dari tebakan: kata baku. Hadiah tumbler diborong dua penghuni Bulawan, Dori Djola dan Sintya Bojoh Ketua PWI Sulut sebagai peserta pertama hadir di kelas.<\/p>\n\n\n\n

Pemateri pertama dari eks Wartawan Senior Tempo  Yudono Januar: Kode Etik dan Prinsip Jurnalis. Mas Dodong mengingatkan para jurnalis tetap memegang teguh KEJ ditengah himpitan media sosial.  <\/p>\n\n\n\n

Karena paling banyak aduan di Dewan Pers adalah verifikasi, antaranya sumber merasa tidak pernah dikonfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Penguji komptensi jurnalis di LPDS Jakarta ini mengangkat contoh kasus: kepala desa yang enggan beri keterangan lewat telepon, ingin bertemu langsung dengan pewarta yang jaraknya cukup jauh.<\/p>\n\n\n\n

Bagaimana jika menghadapi situasi seperti itu? Apakah beritanya tetap tayang, ataukah harus menemui langsung ke sumber?. Kami diminta berpikir, berdebat dan menguji argumen.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBerhati-hati bukan berarti takut. Tetap berprinsip cover both side<\/em>, cek and ricek. Tidak berniat jahat,\u201d pesannya dengan latar belakang di layar dua cover Tempo \u201cPoles-Poles  Beras Busuk\u201d dan \u201cMain Serap Gabah Rusak\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Saat...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Suara heboh saat Kelompok Bantong mendapat penilai tertinggi (kanan) mentor secara bergiliran mendiskusikan tugas diberikan kepada peserta kelas Tempo Institute (foto: JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Saat sesi ritual ishoma. Hampir semua peserta merangsek tak sabar ke \u201carea hisap\u201d di balkon belakang. Tempat ini jadi ajang guyon. Terkadang percakapan jauh lebih liar daripada diskusi di dalam kelas. Sesekali mentor datang gabung. Menghabiskan satu-dua batang dengan kopi secangkir. Batas guru dan murid menjadi semakin tipis.<\/p>\n\n\n\n

Sesi kedua  liputan dan menulis berita oleh Eks Manging Editor TEMPO English, Purwani Dyah Prabandari \u2013Mbak Ndari\u2014.<\/p>\n\n\n\n

Materinya sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wartawan: 5W+1H, piramida terbalik, lead<\/em>, angle<\/em>, hingga memilih kutipan. Tetapi justru hal-hal dasar itulah yang sering perlu diingat kembali.<\/p>\n\n\n\n

 \u201cKami perlu merefresh, sebagai pengingat,\u201d kata Idham Malewa senior saya waktu kami di bawah payung Jawa Pos Grup.<\/p>\n\n\n\n

Mbak Ndari yang energik ini mengingatkan  straight atau hard news dan feature yang \u201cmemorable<\/em>\u201d karena reportingnya, kreativitas penulisnya, dan kaya dengan ekspresi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHard news bukan berarti tulisan yang kering \u2014 prioritasnya akurasi, kejelasan, dan relevansi.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Peserta langsung praktek menulis. Tulisan itu tidak sekadar dikumpulkan.  Dibedah satu per satu oleh ahlinya.<\/p>\n\n\n\n

Di situlah kami mulai merasa bahwa kami bukan sedang mengikuti pelatihan biasa. Kami sedang diajak masuk ke laut yang jauh lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n

Di hari kedua, Rabu 16 September 2026. Kami diminta mengevaluasi materi hari pertama. Masing-masing kelompok menunjuk \u201cguru\u201d yang harus menjelaskan kembali materi kepada anggota kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n

Suasana berubah kocak. Fahmi Ghazali Gobel pendiri Media Totabuan menjalankan peran sebagai guru dengan serius.<\/p>\n\n\n\n

Rahman...<\/h2>\n\n\n\n

Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan:  \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n

Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n

Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n

Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n

\u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n

Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n

Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n

Motampot...<\/h2>\n\n\n\n

Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n

Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh.  Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n

Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan gambar, kata Mas Gun,  adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n

Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi.  Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n

Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n

Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n

Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n

Agenda...<\/h2>\n\n\n\n
\"\"
(kiri) Philip Parera menyerahkan sertifikat kepada peserta. (kanan) Presdir JRBM Anang Rizkan Noor menyerahkan piagam penghargaan kepada enam peserta terbaik kelas Tempo Institute di Kotamobagu (foto\/JRBM)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n

Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n

Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n

Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan  ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n

Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan,  \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n

Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n

Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n

Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n

\u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n

Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n

Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n

\u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n

Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n

Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n

\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};

Tag: J Resources