
Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n
\u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan: \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"}; Rahman Ismail yang punya Telegrafnews lebih ekspresif lagi sampai muncul celetukan: \u201cGuru\u2026 angkat kami sebagai muridmu!\u201d tawa kembali memenuhi ruangan.<\/p>\n\n\n\n Giliran Philipulus Parera membawa materi feature dengan teknik storytelling. Gaya dan karakter majalah Tempo melaporkan sebuah berita yang kuat, berdampak membuat pembaca masuk ke dalamnya.<\/p>\n\n\n\n Menurut lulus Universitas Katolik Atmajaya, storytelling dengan plot yang membedakan dengan jurnalisme tradisional. Teknik bertutur memikat pembaca yang didalamnya jurnalisme naratif, bercerita karakter subjek, deskripsi dengan gaya penulisan fiksi.<\/p>\n\n\n\n Storytelling yang dibungkus feature perlunya angel, sudut pandang untuk memulai. Jurnalis menjukan kisahnya bukan menjelaskan. Dan semua panca indra difungsikan saat wawancara dan pengumpulan informasi.<\/p>\n\n\n\n \u201cHidupkan sifat manusia pada benda atau alam yang diliput,\u201d kata Bang Philip menunjuk tulisannya dilayar: \u201cBosnia-Herzegovina, Setelah 24 Tahun\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n Kalimat itu kemudian seperti tinggal di kepala saya. Karena tiba-tiba saya sadar: sebuah berita bukan hanya tentang apa yang terjadi<\/em>.<\/p>\n\n\n\n Tetapi tentang bagaimana pembaca bisa ikut merasakan apa yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n Seharian penuh materinya rada-rada hard<\/em>. Pembawaan Bang Philip yang telah menyelesaikan studi S2 International Communication di Leeds University, Inggris dengan gaya bertuturnya yang interaktif ini mampu kami dicerna mudah.<\/p>\n\n\n\n Apalagi kisah-kisah liputan Redaktur eksekutif koran Tempo ini jadi inspirasi. Seperti membongkar kasus besar \u201cjejak licin saudagar kaya\u201d. Hingga memburu sumber ke luar negeri hanya untuk konfirmasi.<\/p>\n\n\n\n Evaluasi materi Bang Philip dengan penugasan peserta mendeskripsikan objek di sekitar pelatihan dan menulis perencanaan peliputan konser artis. Para mentor mengulas semua hasil karya.<\/p>\n\n\n\n Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.<\/p>\n\n\n\n Sementara, Pak Anang \u2013sapaan kami\u2014 ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.<\/p>\n\n\n\n Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.<\/p>\n\n\n\n Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due\u2019 yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.<\/p>\n\n\n\n Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.<\/p>\n\n\n\n Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.<\/p>\n\n\n\n Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.<\/p>\n\n\n\n Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung<\/em> dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.<\/p>\n\n\n\n Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.<\/p>\n\n\n\n Agenda puncak dipimpin dan dipandu Pak Anang. Jumat, 17 September 2026 kelas TEMPO INSTITUTE eksplore budidaya kakao program pemberdayaan PT JRBM di desa lingkar tambang: Matali Baru dan Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolmong.<\/p>\n\n\n\n Mendengar, melihat dan merasakan kisah petani kakao serta pendamping program di tengah pohon kakao. Mbak Ndari dan Mas Dodong tak sabar mencicipi pulpa kakao yang manis.<\/p>\n\n\n\n Mas Gun sibuk dengan \u201csenjatanya\u201d, mengambil angel menarik. Mas Boi kecantol untungnya jadi petani kakao. Bang Philip seperti tak asing dengan kebun dan pupuk fermentasi. \u201cTak begitu bau (pupuk fermentasi). Tak seperti biasa,\u201d katanya setengah berbisik. \u201cTernyata, dicampur dengan kulit buah,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n Di tempat itu, teori storytelling yang kami pelajari selama berhari-hari seperti menemukan panggungnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ada manusia, tanah, masalah, ada perubahan dan ada cerita yang menunggu untuk ditulis.<\/p>\n\n\n\n Malam sebelumnya para mentor mengungkap kesan aneh saat hari pertama membaca \u201cDinding Belajar\u201d. Namun tiga hari berjalan, \u2018kenakalan\u2019 para murid merubah anggapan aneh menjadi kesan mendalam.<\/p>\n\n\n\n Regina dan Fauzi mengumumkan\u00a0 poin tertinggi diberikan kepada Kelompok Bantong.\u00a0 Tim terdiri Konni Balamba Ketua PWI Kotamobagu (totabuan.news), \u00a0Sujarpin Dondo (Tribun Manado), Yogi Mokoagow (info.kini), Iswahyudi Masloman, \u2060Reza Pahlevi Mooduto dan Abdul Marham Koikit.<\/p>\n\n\n\n Kelompok ini memang harus diakui kekompakannya. Kompaknya sampai di \u201cBabungkus\u201d. Peserta terbaik diberikan kepada enam orang.<\/p>\n\n\n\n Namun, malam itu bukan soal siapa yang menang. Karena sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih besar yang baru kami pahami.<\/p>\n\n\n\n Menutup malam ramah tamah, Pak Anang mengungkap tabir dibalik digandengnya Tempo Institute berbagi ilmu dengan jurnalis di BMR Sulut.<\/p>\n\n\n\n \u201cSebenarnya kalian ini adalah korban\u2026,\u201d kata Pak Anang mulai pembicaraan bikin penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDendam saya akhirnya terbalaskan,\u201d sambil tertawa meledek.<\/p>\n\n\n\n Rupanya, jebolan Univesitas Gaja Mada (UGM) itu punya cita-cita menjadi wartawan Majalah Tempo. Keinginannya itu tak kesampaian. Takdir Tuhan berkata lain, karena bakatnya itu kemudian membawanya jadi pakar komunikasi korporat.<\/p>\n\n\n\n Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai perusahaan multinasional dan BUMN seperti Chevron, Rio Tinto Group, Petrosea, dan Pertamina dengan memimpin tim manajemen krisis Pertamina pada insiden periode 2008\u20132010, termasuk penanganan kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara (2009).<\/p>\n\n\n\n Impian akhirnya terwujud dengan memboyong Tempo Institute ke tanah Totabuan.<\/p>\n\n\n\n \u201cPuas rasanya mendatangkan Tempo sampai ke Bolmong,\u201d ungkap Pak Anang disambut tawa mentor.<\/p>\n\n\n\n Malam itu saya akhirnya mengerti arti kalimat yang ia ucapkan di awal. Kami memang \u201ckorban\u201d. Tetapi bukan korban dari sebuah jebakan.<\/p>\n\n\n\n Kami adalah korban dari sebuah \u201cdendam\u201d yang baik\u2014dendam seorang anak muda yang dahulu ingin menjadi wartawan Tempo, tetapi gagal mewujudkannya untuk dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Ia kemudian memilih jalan lain. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, ia membayar kegagalan masa lalu itu dengan cara yang indah: menghadirkan kesempatan belajar bagi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Mungkin begitulah sebuah cerita bekerja. Satu mimpi bisa gagal menemukan jalan untuk dirinya sendiri, tetapi justru menemukan jalan untuk menghidupkan mimpi orang lain.<\/p>\n\n\n\n Dan tiga hari bersama Tempo Institute akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar eknik menulis:<\/p>\n\n\n\n \u201cCerita yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu apa yang terjadi. Cerita yang baik membuat pembaca merasa pernah berada di sana\u2014melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan ikut merasakan. Dan mungkin, hari itu, kami semua bukan sekadar korban sebuah dendam lama; kami adalah orang-orang yang dipilih untuk meneruskan cerita yang belum selesai.\u201d<\/p>\n\n\n\n Penulis: Guesman Laeta<\/strong>, peserta training Tempo Institute di Kotamobagu<\/p>\n","post_title":"Balas Dendam Epik Presdir JRBM di Balik Tempo Institute di Totabuan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"balas-dendam-epik-presdir-jrbm-di-balik-tempo-institute-di-totabuan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2026-10-09 12:40:13","post_modified_gmt":"2026-10-09 04:40:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/probaca.com\/?p=5577","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"jnews_block_3"};Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Impian...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n
Rahman...<\/h2>\n\n\n\n
Motampot...<\/h2>\n\n\n\n
Agenda...<\/h2>\n\n\n\n

Impian...<\/h2>\n\n\n\n