Perisai Tak Terlihat Jupiter Ternyata Punya “Senjata” Ekstra

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Bagaimana kalau Bumi tiba-tiba dihantam aliran partikel berenergi tinggi dari Matahari tanpa perlindungan apa pun? Untungnya, planet kita punya semacam “tameng” tak terlihat yang membantu membelokkan sebagian serbuan itu. Jupiter juga punya tameng serupa—tetapi cara kerjanya ternyata jauh lebih rumit.

Temuan terbaru para ilmuwan yang dipimpin University of Iowa mengungkap pengamatan paling detail sejauh ini tentang bow shock Jupiter. Ini adalah batas tak kasatmata tempat partikel dari Matahari bertemu dengan lingkungan magnetik planet.

Matahari terus-menerus menyemburkan aliran partikel bermuatan listrik yang disebut angin surya. Partikel-partikel ini melaju sangat cepat, bahkan sering lebih cepat daripada rambatan gelombang suara di dalam plasma—gas bermuatan yang memenuhi lingkungan antariksa.

Ketika angin surya mendekati planet yang memiliki medan magnet, terbentuklah bow shock, mirip gelombang kejut di depan perahu yang melaju membelah air. Di Bumi, batas ini memperlambat dan memanaskan partikel yang datang, lalu membantu membelokkan sebagian besar angin surya agar melewati sisi planet.

Baca Juga

Proses itu penting. Tanpanya, lebih banyak partikel berbahaya bisa mencapai atmosfer Bumi dan membuat lingkungan planet menjadi kurang ramah bagi kehidupan.

Jupiter juga memiliki bow shock. Namun, planet raksasa ini punya ukuran yang sangat besar, medan magnet yang jauh lebih kuat, serta komposisi berupa gas. Kombinasi tersebut membuat Jupiter menjadi tempat menarik untuk melihat bagaimana sebuah planet menghadapi “hujan” partikel dari Matahari.

Dengan memanfaatkan data wahana NASA Juno, para peneliti menemukan bahwa Jupiter menggunakan gelombang plasma dengan banyak frekuensi untuk memperlambat dan memanaskan partikel angin surya.

Frekuensi tambahan ini disebut harmonik. Bayangkan sebuah alat musik yang hanya memainkan satu nada dibandingkan dengan beberapa nada yang dimainkan bersamaan. Suara yang dihasilkan tentu lebih kaya dan rumit. Begitu pula gelombang plasma Jupiter: banyak frekuensi dapat berinteraksi dengan partikel yang datang melalui cara yang lebih kompleks.

Hasilnya, lebih banyak partikel angin surya bisa menerima energi, menjadi panas, lalu melambat. Sebagai pembanding, bow shock Bumi terutama memakai gelombang plasma yang terkonsentrasi pada satu frekuensi. Susunan yang lebih sederhana itu sudah cukup untuk kondisi di sekitar planet kita.

“Jupiter menemukan caranya sendiri untuk menghadapi angin surya, melalui gelombang plasma yang lebih kuat dan memiliki struktur harmonik yang lebih kaya,” kata Jayasri Joseph, peneliti pascadoktoral di Departemen Fisika dan Astronomi University of Iowa sekaligus penulis korespondensi studi tersebut.

Menurut Joseph, banyaknya frekuensi penting karena memungkinkan lebih banyak partikel dipanaskan dan diperlambat.

Namun, Jupiter ternyata masih punya lapisan pertahanan tambahan. Sebelum mencapai bow shock utama, partikel yang datang dapat bertemu struktur kejut kecil yang disebut shocklet.

Struktur-struktur kecil ini membantu memperlambat angin surya sebelum alirannya tiba di batas kejut utama. Di Bumi, biasanya bow shock utama sudah menjadi wilayah penting tempat angin surya diperlambat dan dibelokkan.

“Bumi tidak perlu mengambil langkah-langkah tambahan ini untuk menghadapi angin surya karena dampaknya tidak sekuat itu,” kata Bill Kurth, ilmuwan riset di Departemen Fisika dan Astronomi University of Iowa serta salah satu penulis studi. Kurth telah terlibat dalam misi Juno sejak wahana tersebut diluncurkan pada 2011.

Menariknya, temuan ini bukan hanya soal bagaimana Jupiter melindungi dirinya. Ia juga bisa membantu ilmuwan memahami peristiwa yang jauh lebih dahsyat di alam semesta, termasuk gelombang kejut yang berkaitan dengan ledakan bintang.

Salah satu contohnya adalah sisa-sisa supernova—awan material yang terus mengembang setelah bintang tertentu meledak saat mengakhiri hidupnya. Gelombang kejut di sana jauh lebih kuat daripada yang dijumpai di sekitar Jupiter.

Meski skalanya berbeda ekstrem, proses fisik yang mengatur perpindahan energi melalui plasma memiliki kemiripan penting. Karena itu, bow shock Jupiter dapat menjadi laboratorium alami yang dekat untuk mempelajari bagaimana energi aliran diubah menjadi panas dan partikel berenergi tinggi.

“Karena gelombang kejut yang lebih kuat terjadi di sekitar objek astrofisika seperti sisa-sisa supernova, bow shock Jupiter menawarkan laboratorium alami terdekat untuk mengeksplorasi dan memahami bagaimana alam mengubah energi aliran yang sangat besar menjadi panas dan partikel berenergi,” ujar Joseph.

Pengamatan ini berasal dari data yang dikumpulkan Juno pada Desember 2024. Wahana NASA tersebut telah mengorbit Jupiter sejak Juli 2016, memberi kesempatan bagi para peneliti untuk mengamati planet raksasa dan lingkungan di sekitarnya secara dekat.

Kunci penting penemuan ini adalah instrumen Juno Waves, yang dirancang dan dibuat oleh para fisikawan di University of Iowa. Instrumen tersebut mengukur aktivitas gelombang listrik dan magnet, sehingga ilmuwan dapat meneliti perilaku plasma di sekitar Jupiter.

Wahana-wahana sebelumnya memang telah mendeteksi keberadaan bow shock di planet-planet luar. Namun, pengukurannya belum cukup detail untuk mengungkap struktur gelombang plasma yang terlibat. Data Juno kini memberikan gambaran yang jauh lebih jelas tentang cara kerja gelombang-gelombang tersebut di Jupiter.

Hasil penelitian ini dipublikasikan secara daring di jurnal Nature Communications pada 31 Juli, dalam studi berjudul “Plasma wave observations from Juno spacecraft at the Jovian …”.

Nah, Jupiter ternyata tidak sekadar memiliki perisai magnetik yang besar. Ia mengolah gelombang plasma dalam banyak “nada” dan bahkan menyiapkan lapisan kejut tambahan—sebuah sistem pertahanan kosmis yang mungkin membantu kita membaca cara kerja ledakan bintang yang jauh lebih dahsyat.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement