PROBACA.COM – Pernah melihat seseorang yang jarang menatap mata lawan bicaranya, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak memperhatikan? Dalam konteks autisme, kesimpulan semacam itu bisa terlalu sederhana. Ternyata, otak sebagian orang autistik memang memproses wajah dengan pola yang berbeda—dan perbedaannya mungkin muncul lebih awal daripada yang selama ini diperkirakan.
Sejumlah orang autistik cenderung lebih jarang melihat wajah atau melakukan kontak mata. Mereka juga bisa mengalami kesulitan mengingat wajah dan menafsirkan ekspresi dibandingkan orang neurotipikal, yaitu orang yang perkembangan otaknya tidak berada dalam spektrum autisme.
Selama puluhan tahun, ilmuwan berusaha mencari tahu aktivitas otak di balik perbedaan tersebut. Pada awal 2000-an, misalnya, peneliti dari Yale melaporkan bahwa area otak yang bertugas memproses wajah menunjukkan aktivitas lebih rendah pada individu autistik dibandingkan orang tanpa autisme.
Kini, James McPartland, PhD, Harris Professor di Child Study Center sekaligus direktur Center for Brain and Mind Health, bersama rekan-rekannya mencoba melihat persoalan ini dengan cara yang lebih menyeluruh. Mereka menggunakan electroencephalography atau EEG—alat yang merekam aktivitas listrik otak—pada sekitar 400 anak autistik.
Penelitian EEG sebelumnya biasanya hanya menyoroti sinyal dari beberapa bagian kepala. Ibarat ingin memahami arus lalu lintas satu kota, tetapi hanya memantau satu jalan di pusat kota. McPartland dan timnya memilih pendekatan yang lebih luas: mereka menganalisis sinyal dari seluruh kulit kepala, seperti mengamati lalu lintas kota lewat citra satelit.
Data penelitian ini berasal dari Autism Biomarkers Consortium for Clinical Trials atau ABC-CT. Di dalamnya terdapat anak-anak autistik dan neurotipikal dari berbagai kelompok usia. Saat eksperimen berlangsung, anak-anak melihat gambar wajah dan benda sehari-hari, sementara EEG merekam aktivitas otak mereka.
Para peneliti menggunakan 128 elektroda yang ditempatkan di sekitar kepala setiap peserta. Setelah itu, mereka menerapkan machine learning—teknik komputer yang mencari pola dalam data—untuk mengetahui apakah aktivitas otak dapat menunjukkan gambar apa yang sedang dilihat oleh seorang anak.
Hasilnya, aktivitas otak memberikan petunjuk yang lebih jelas ketika anak neurotipikal sedang melihat wajah. Pada anak autistik, sinyal listrik yang berkaitan dengan penglihatan wajah lebih sulit dibedakan.
“Aktivitas saraf yang kami ukur dari kulit kepala memang tidak sejelas pada anak autistik,” ujar Jason Griffin, PhD, penulis pertama penelitian sekaligus asisten profesor psikologi di University of Houston. Griffin sebelumnya bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di laboratorium McPartland.
Perbedaan lain muncul ketika para peneliti membandingkan usia peserta. Pada anak neurotipikal, kemampuan menebak apa yang sedang dilihat berdasarkan aktivitas otak meningkat seiring bertambahnya usia. Respons otak terhadap wajah menjadi semakin terspesialisasi—seolah-olah sistem pengenalan wajah perlahan mengasah fokusnya.
Pola perkembangan seperti itu tidak terlihat pada anak autistik. Menurut Griffin, pemrosesan wajah yang spesifik pada mereka tidak mengikuti lintasan perkembangan yang sama.
Temuan ini juga memberi petunjuk bahwa perbedaan tersebut mungkin dimulai lebih awal dari dugaan sebelumnya. Mengenali seseorang tidak terjadi dalam satu kedipan ajaib. Informasi visual masuk melalui mata, lalu diproses bertahap sampai otak akhirnya menyimpulkan, “Oh, ini wajah seseorang.”
Penelitian terdahulu banyak berfokus pada sinyal otak bernama N170. Sinyal ini merupakan perubahan aktivitas listrik yang biasanya muncul sekitar 170 milidetik setelah seseorang melihat wajah. Pada individu autistik, respons N170 cenderung muncul lebih lambat.
Namun, ketika McPartland dan timnya memeriksa rentang waktu aktivitas otak yang lebih panjang, mereka menemukan tanda-tanda bahwa perbedaan pemrosesan wajah sudah muncul sebelum sinyal N170 terlihat. Artinya, perbedaan terkait autisme mungkin terjadi pada tahap pemrosesan visual yang lebih awal daripada yang selama ini diketahui.
“Ketika pemrosesan wajah dilihat dengan pendekatan yang mencakup seluruh rentang waktu informasi, kami melihat bahwa perbedaan pada autisme terjadi bahkan lebih awal,” kata McPartland.
Temuan ini suatu hari nanti bisa memengaruhi cara ilmuwan memikirkan diagnosis autisme dan dukungan bagi anak-anak autistik. Dahulu, beberapa klinisi mencoba mengatasi kesulitan pemrosesan wajah dengan meminta individu autistik mempertahankan kontak mata. Namun, penelitian kemudian menunjukkan bahwa memaksa kontak mata bukanlah solusi yang efektif.
Pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana otak memproses dan mengembangkan kemampuan mengenali wajah dapat membantu peneliti merancang pendekatan yang lebih berguna dan sesuai. Fokusnya bukan memaksa seseorang mengikuti pola tatapan tertentu, melainkan memahami bagaimana otaknya bekerja.
Para peneliti juga menyoroti satu tantangan penting. Dalam studi autisme, tidak selalu mudah membedakan mana perbedaan saraf yang memang berkaitan dengan kondisi autisme, dan mana perubahan yang mungkin terbentuk karena pengalaman hidup seseorang.
Menurut tim peneliti, pola yang ditemukan dalam studi ini mengisyaratkan bahwa perbedaan pemrosesan wajah berkaitan dengan karakteristik perkembangan saraf yang mendasari autisme, bukan sekadar hasil dari pengalaman hidup yang menumpuk.
Nah, cerita tentang kontak mata ternyata bukan cuma soal mau atau tidak mau menatap. Di baliknya ada sistem otak yang berkembang dengan jalur berbeda—dan dengan melihat seluruh “peta lalu lintas” otak, ilmuwan mulai menangkap bagian-bagian yang sebelumnya luput.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily















































