Zat Jamur Ajaib Bikin Ikan Galak Menurunkan Serangan

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Bagaimana kalau ikan yang terkenal suka berkelahi tiba-tiba memilih mundur—bukan karena kalah, melainkan setelah terkena senyawa dari jamur ajaib? Pertanyaan inilah yang coba dijawab para peneliti di Kanada dengan menguji psilocybin pada ikan rivulus bakau, atau Kryptolebias marmoratus.

Hasilnya cukup mengejutkan. Paparan singkat terhadap psilocybin dosis rendah secara signifikan mengurangi aktivitas dan perilaku menyerang ikan tersebut. Namun, ikan-ikan itu tidak serta-merta menjadi “mati gaya”. Interaksi sosial yang lebih ringan tetap berlangsung.

“Kami menunjukkan bahwa psilocybin dosis rendah yang diberikan secara akut dapat mengurangi aktivitas dan perilaku serangan agresif selama interaksi sosial pada ikan rivulus bakau dewasa,” kata penulis utama Dayna Forsyth, peneliti dan mantan mahasiswa magister di Acadia University, Nova Scotia.

Temuan ini diterbitkan dalam Frontiers in Behavioral Neuroscience. Menurut penulis senior Dr. Suzie Currie dari University of British Columbia, penelitian tersebut menjadi bukti pertama bahwa psilocybin dapat secara selektif mengurangi agresi yang sudah meningkat pada hewan bertulang belakang, tanpa menghilangkan interaksi sosial sepenuhnya.

Baca Juga

Mengapa memakai ikan yang satu ini? Rivulus bakau memang punya reputasi sebagai ikan yang gampang terlibat konflik, terutama ketika bertemu sesama jenisnya. Respons agresif mereka juga mudah diamati dan diukur. Jadi, perubahan kecil dalam perilaku pun bisa tertangkap oleh peneliti.

Ikan ini punya keunikan lain: mereka mampu membuahi dirinya sendiri dan menghasilkan keturunan yang secara genetik identik. Bagi ilmuwan, kondisi ini seperti menggunakan bahan percobaan dengan “resep genetik” yang hampir sama. Variasi bawaan bisa ditekan, sehingga perbedaan perilaku lebih mudah dikaitkan dengan psilocybin, bukan dengan faktor keturunan.

Dalam eksperimen, para peneliti menggunakan tiga garis keturunan ikan yang berbeda secara genetik dan dikembangbiakkan di laboratorium. Satu kelompok menerima psilocybin. Kelompok lain berperan sebagai ikan pemicu interaksi sosial. Sementara kelompok ketiga membantu peneliti mengukur seberapa banyak psilocybin yang masuk dan menumpuk di tubuh ikan.

Sebelum diberi senyawa tersebut, perilaku setiap ikan dicatat lebih dulu sebagai patokan. Seekor ikan ditempatkan di dalam akuarium yang sudah dihuni ikan lain. Keduanya dipisahkan oleh penghalang jaring fiberglass. Penghalang ini mencegah kontak fisik, tetapi tetap memungkinkan ikan saling melihat dan mencium bau satu sama lain.

Di awal, sebuah penutup buram menghalangi pandangan kedua ikan. Setelah lima menit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan bersama, penutup itu diangkat. Para peneliti lalu merekam apa yang terjadi.

Sehari kemudian, ikan yang sama dimasukkan ke dalam air yang sudah dicampur psilocybin. Setelah terpapar selama 20 menit, ikan tersebut dikembalikan ke akuarium bersama ikan yang sama seperti pada pengamatan sebelumnya. Penutup buram kembali diangkat, dan perilakunya diamati lagi.

Perubahannya terlihat jelas. Ikan yang terkena psilocybin bergerak lebih sedikit dan menunjukkan lebih sedikit ledakan gerakan berenang dibandingkan ikan yang tidak diberi senyawa tersebut.

Ledakan gerakan ini bukan sekadar renang cepat biasa. Dalam konteks perilaku ikan, gerakan mendadak berenergi tinggi itu menandakan agresi mulai meningkat menuju serangan, meskipun kedua ikan belum bisa bersentuhan.

Currie menjelaskan bahwa “swimming burst” merupakan perilaku serangan berenergi tinggi yang menunjukkan eskalasi agresi terhadap ikan pemicu. Sebaliknya, perilaku seperti saling berhadapan lebih berfungsi sebagai komunikasi dan penilaian sosial. Perilaku ini tidak membutuhkan energi sebesar serangan langsung.

Di sinilah hasil penelitian menjadi menarik. Psilocybin tidak menekan semua bentuk perilaku sosial dan agresif. Ikan menjadi lebih jarang melakukan serangan intens yang menghabiskan banyak energi, tetapi aksi sosial yang lebih ringan sebagian besar tetap tidak berubah.

Bayangkan dua orang yang sedang bersitegang. Setelah “ditenangkan”, mereka mungkin tidak lagi saling dorong atau mengejar, tetapi masih bisa saling menatap dan membaca gerak-gerik lawannya. Kira-kira seperti itulah pola yang terlihat pada ikan-ikan tersebut.

Menurut Forsyth, efek menenangkan psilocybin tampaknya secara selektif mengurangi perilaku konflik yang sudah meningkat dan mahal secara energi. Senyawa itu tidak mematikan seluruh perilaku, melainkan meredam bagian yang paling ekstrem.

Aktivitas umum ikan juga ikut menurun. Ketika ditempatkan bersama ikan sejenis, ikan yang menerima psilocybin menghabiskan lebih sedikit waktu untuk berenang dibandingkan kelompok kontrol yang tidak diberi senyawa tersebut.

Gabungan hasil itu mengisyaratkan bahwa psilocybin mungkin memengaruhi aspek tertentu dari agresi, bukan sekadar membuat ikan menjadi tidak responsif terhadap lingkungan. Namun, ini baru petunjuk awal dari sebuah eksperimen pada ikan—bukan jawaban final tentang agresi pada hewan, apalagi manusia.

Para peneliti melihat studi semacam ini sebagai cara untuk mengurai bagaimana senyawa psikedelik memengaruhi perilaku. Dengan melihat respons sosial mana yang paling sensitif terhadap psilocybin, ilmuwan mungkin dapat menemukan mekanisme biologis yang sulit diteliti secara langsung pada manusia.

Meski begitu, mereka menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa psilocybin dapat menjadi pengobatan agresi pada manusia. Eksperimen ini dilakukan pada ikan, tidak menguji intervensi klinis, dan tidak bisa memastikan apakah efek serupa akan muncul pada manusia.

Masih ada banyak pertanyaan. Berapa lama efek menenangkan itu bertahan? Apakah perilaku ikan kembali seperti semula setelah beberapa waktu? Apa yang terjadi jika paparan diulang? Apakah ikan akan beradaptasi terhadap senyawa tersebut?

Penelitian ini hanya menguji satu kali dosis dan paparan singkat. Para peneliti belum menilai perubahan perilaku jangka panjang, efek pemberian berulang, atau kemampuan ikan beradaptasi dari waktu ke waktu. Eksperimen tambahan diperlukan untuk mengetahui apakah kemampuan psilocybin dalam mengurangi serangan agresif bisa bertahan lebih lama.

Ke depan, Currie dan tim ingin menelusuri bagaimana psilocybin mengubah sinyal saraf, jalur serotonin mana yang terlibat, serta mengapa sebagian perilaku sosial berubah sementara perilaku lainnya tetap bertahan.

Nah, temuan ini bukan berarti jamur ajaib punya tombol “matikan galak”. Yang terlihat justru lebih menarik: pada ikan rivulus bakau, psilocybin tampaknya menurunkan eskalasi serangan tanpa menghapus seluruh percakapan sosial—seperti mengecilkan volume keributan, bukan mematikan radio sepenuhnya.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement