Berhenti Ozempic, Mengapa Risiko Jantung Bisa Kembali Naik?

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Kalau seseorang berhenti minum obat setelah merasa kondisinya membaik, apakah manfaatnya otomatis tetap bertahan? Untuk obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic, jawabannya tampaknya tidak sesederhana itu.

Penelitian dari Washington University School of Medicine di St. Louis menemukan bahwa jeda pemakaian GLP-1 selama enam bulan saja sudah berkaitan dengan meningkatnya risiko kejadian kardiovaskular serius. Yang termasuk di dalamnya adalah serangan jantung, stroke, dan kematian.

Para peneliti menelusuri data lebih dari 333.000 veteran Amerika Serikat dengan diabetes tipe 2 selama hingga tiga tahun. Sebanyak 132.551 orang pernah mendapat obat GLP-1, sementara 201.136 lainnya mendapat sulfonilurea, kelompok obat diabetes yang mencakup glipizide, glimepiride, dan glyburide.

Hasilnya, peserta yang terus menggunakan GLP-1 selama tiga tahun memiliki risiko kejadian kardiovaskular 18 persen lebih rendah dibandingkan pengguna sulfonilurea. Sederhananya, dalam setiap 100 orang selama tiga tahun, ada sekitar empat kejadian serius lebih sedikit.

Baca Juga

Namun, perlindungan itu tidak sepenuhnya “terkunci”. Sekitar 26 persen pengguna GLP-1 berhenti total, sedangkan sekitar 23 persen mengalami jeda sedikitnya enam bulan sebelum kembali memakai obat. Dibandingkan mereka yang terus menggunakan obat, orang yang berhenti selama satu tahun memiliki risiko kardiovaskular 14 persen lebih tinggi. Setelah dua tahun, risikonya naik hingga 22 persen.

Menariknya, kembali memakai obat memang membantu memulihkan sebagian perlindungan, tetapi tidak seluruhnya. Pengguna yang sempat berhenti lalu melanjutkan lagi mengalami penurunan risiko rata-rata 12 persen—lebih kecil dibandingkan 18 persen pada pengguna tanpa jeda. Bahkan jeda enam bulan sudah dikaitkan dengan kenaikan risiko 4 hingga 8 persen dibandingkan penggunaan terus-menerus.

Menurut Ziyad Al-Aly, ahli epidemiologi klinis di WashU Medicine dan kepala layanan penelitian serta pengembangan VA Saint Louis Health Care System, masalahnya bukan hanya berat badan yang mungkin kembali naik. Saat terapi dihentikan, peradangan, tekanan darah, dan kolesterol juga dapat kembali memburuk. Berat badan yang naik terlihat jelas; perubahan metabolisme di baliknya sering tidak terlihat.

Studi yang diterbitkan di BMJ Medicine ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa penghentian obat pasti menyebabkan serangan jantung atau stroke pada setiap orang. Tetap saja, pesannya cukup kuat: obat GLP-1 seperti Ozempic, Wegovy, Mounjaro, dan Zepbound tampaknya memberi perlindungan jantung yang perlu dipertahankan secara konsisten. Jangan menghentikan atau mengubah terapi tanpa berdiskusi dengan dokter, terutama karena biaya, efek samping, dan kelangkaan obat bisa menjadi alasan seseorang berhenti.

Manfaat jantungnya mungkin dibangun perlahan, tetapi bisa menyusut jauh lebih cepat. Jadi, GLP-1 bukan sekadar “obat penurun berat badan”; bagi sebagian pasien, kesinambungan pemakaiannya juga menjadi bagian dari perlindungan jantung.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement