PROBACA.COM – Bagaimana kalau sebuah lubang di Bulan ternyata bukan sekadar lubang? Dari atas, Marius Hill Pit memang terlihat seperti bukaan besar di permukaan Bulan. Namun, para ilmuwan menduga cekungan ini bisa menjadi pintu masuk menuju ruang bawah tanah atau bahkan terowongan lava raksasa.
Untuk mencari tahu jawabannya, NASA mendanai misi bernama GIMLI—singkatan dari Geophysical Instruments for Marius Lunar pit Investigation. Misi ini akan menyelidiki Marius Hill Pit secara langsung, bukan hanya mengamatinya dari orbit.
GIMLI mendapat pendanaan melalui program NASA bernama PRISM, yang mengirimkan instrumen ilmiah ke permukaan Bulan menggunakan wahana dari penyedia layanan komersial dalam inisiatif CLPS. Instrumen GIMLI akan dibawa oleh pendarat dan penjelajah Bulan.
Proyek ini dipimpin Than Putzig, Associate Director sekaligus Senior Scientist di Planetary Science Institute (PSI). PSI bekerja sama dengan Honeybee Robotics, perusahaan milik Blue Origin yang akan membangun sebagian besar peralatan dan instrumen misi. Norwegian Space Agency juga menjadi mitra dalam proyek ini.
Marius Hill Pit dipilih karena berada di salah satu wilayah Bulan yang punya sejarah vulkanik paling beragam. Para ilmuwan sudah menemukan bukti dari orbit bahwa beberapa lubang di Bulan mungkin terhubung dengan gua dan lava tube—terowongan alami yang terbentuk ketika aliran lava di permukaan mendingin, sementara bagian dalamnya tetap mengalir dan akhirnya meninggalkan rongga.
Bayangkan selang berisi air panas yang bagian luarnya lebih dulu mengeras. Jika cairan di dalamnya terus mengalir, yang tersisa bisa berupa saluran kosong. Pada skala Bulan, proses serupa dapat membentuk terowongan lava di bawah permukaan.
GIMLI akan membawa beberapa jenis alat untuk mengintip bagian dalam Bulan. Ada radar penembus tanah, sensor seismik, dan gravimeter—alat untuk mengukur variasi kecil medan gravitasi. Kamera juga akan memotret permukaan Bulan serta dinding-dinding Marius Hill Pit yang terbuka.
Ketiga metode utama itu akan bekerja seperti tim detektif. Radar membantu memetakan struktur di bawah tanah. Sensor seismik merekam bagaimana getaran merambat melalui material Bulan. Sementara itu, gravimeter dapat membantu menunjukkan adanya ruang kosong karena rongga bawah tanah memengaruhi distribusi massa di sekitarnya.
Dengan menggabungkan hasil pengukuran tersebut, ilmuwan berharap bisa mendeteksi rongga yang memanjang dari Marius Hill Pit. Jika benar ada lava tube, data GIMLI juga dapat membantu memperkirakan ukuran dan bentuknya.
Menariknya, misi ini tetap akan menghasilkan temuan penting meskipun tidak menemukan gua atau terowongan lava. Para peneliti bisa mempelajari bagaimana Marius Hill Pit terbentuk, termasuk material yang berada di sekitar dan di bawahnya.
Dinding lubang itu juga membuka “halaman-halaman” geologi yang biasanya terkubur. Di sana terdapat lapisan regolit—debu dan pecahan batuan permukaan Bulan—serta lapisan aliran lava yang pernah menyebar di wilayah tersebut. Dengan menelitinya, ilmuwan dapat mencari tahu bagaimana lava bergerak melintasi dan menembus lanskap Bulan, serta apakah letusan-letusan vulkanik terjadi berdekatan atau dipisahkan jeda waktu yang panjang.
Menurut Gareth Morgan, Senior Scientist PSI sekaligus Deputy Principal Investigator program GIMLI, penemuan lava tube yang besar akan memberi petunjuk tentang cara kerja vulkanisme di Bulan. Di Bumi, terowongan lava merupakan ciri umum vulkanisme basaltik, yaitu aktivitas vulkanik yang menghasilkan batuan basalt. Karena itu, terowongan serupa di Bulan bisa dipelajari dengan bantuan pengetahuan tentang gua vulkanik di Bumi.
Than Putzig juga ingin menghidupkan kembali metode seismik aktif dalam penelitian planet. Metode ini pada dasarnya membuat getaran secara sengaja, lalu mengamati bagaimana getaran tersebut merambat di bawah permukaan. Teknik semacam ini pernah digunakan dalam survei seismik oleh astronaut Apollo, tetapi sejak itu jarang dilakukan lagi untuk penelitian planet.
Honeybee Robotics akan menangani manajemen proyek dan membangun instrumen untuk sistem seismik aktif, gravimeter, serta kamera. Perusahaan itu juga membantu memasang instrumen ke pendarat dan rover, lalu bersama PSI memimpin pengoperasian instrumen setelah wahana tiba di Bulan.
Tim GIMLI turut melibatkan peneliti dari Boise State University, Johns Hopkins University, Lunar and Planetary Institute, serta University of Oslo. Norwegian Space Agency akan menyediakan radar penembus tanah.
Jika berhasil, Marius Hill Pit bukan hanya menjadi lubang yang difoto dari jauh. Ia bisa berubah menjadi jendela menuju masa lalu vulkanik Bulan—tempat lapisan batuan dan mungkin lorong lava menyimpan cerita tentang bagaimana dunia tandus itu pernah dipahat oleh aliran magma.
Nah, lubang di Bulan itu mungkin bukan akhir dari sebuah cekungan, melainkan awal dari lorong panjang menuju sejarah vulkaniknya. GIMLI akan mencoba mengetuk pintu itu—dengan radar, getaran, dan sedikit rasa penasaran manusia.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily
















































