Siapa yang Sebenarnya Perlu Pemindaian Kalsium Jantung?

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Kalau dokter menawarkan pemindaian kalsium jantung, apakah itu berarti semua orang sebaiknya langsung menjalaninya? Belum tentu. Pemeriksaan ini memang bisa membantu membaca risiko serangan jantung dan stroke, tetapi penelitian terbaru menunjukkan manfaat tambahannya tidak sama untuk setiap orang.

Temuan dari Northwestern Medicine itu berasal dari pengamatan terhadap lebih dari 6.000 orang dewasa selama 10 tahun. Para peneliti membandingkan dua cara memperkirakan risiko penyakit jantung: kalkulator PREVENT dan pemindaian kalsium pada pembuluh darah koroner.

PREVENT bekerja seperti kalkulator risiko berbasis data sehari-hari. Usia, jenis kelamin, tekanan darah, kolesterol, dan informasi kesehatan lain dimasukkan untuk memperkirakan kemungkinan seseorang mengalami penyakit kardiovaskular dalam 10 atau 30 tahun ke depan.

Sementara itu, pemindaian kalsium menggunakan CT scan untuk mencari plak—tumpukan material yang dapat mengeras dan mengandung kalsium—di dalam pembuluh darah koroner. Hasilnya berupa skor. Secara umum, semakin tinggi skor, semakin besar pula risiko penyakit kardiovaskular di masa depan.

Baca Juga

Namun, ketika skor kalsium ditambahkan ke PREVENT untuk seluruh peserta penelitian, peningkatan ketepatan prediksinya ternyata kecil. Ukuran kemampuan model membedakan orang yang kelak mengalami masalah kardiovaskular dan yang tidak hanya naik dari 0,73 menjadi 0,75. Selama satu dekade, sekitar 6 persen peserta mengalami serangan jantung atau stroke.

Gambarnya berubah pada kelompok dengan risiko “batas” atau menengah. Dalam penelitian ini, mereka adalah orang yang menurut PREVENT memiliki risiko 3 hingga 9 persen mengalami penyakit jantung dalam 10 tahun. Pada kelompok inilah skor kalsium lebih berguna—ibarat meminta petunjuk tambahan ketika hasil kalkulator masih berada di area abu-abu.

“Mengetahui skor kalsium dapat membantu menentukan apakah risiko seseorang sebenarnya lebih rendah atau lebih tinggi dari perkiraan awal,” kata Dr. Nilay Shah, penulis senior sekaligus asisten profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

Menariknya, pemeriksaan ini belum tentu bermanfaat bagi mereka yang risikonya sudah jelas rendah atau tinggi. Pada risiko rendah, pemindaian bisa berarti paparan radiasi, pemeriksaan tambahan, dan biaya tanpa manfaat klinis yang jelas. Pada risiko tinggi, pasien kemungkinan sudah dianjurkan mengonsumsi statin—obat penurun kolesterol—apa pun hasil pemindaiannya.

Studi yang diterbitkan di JAMA pada 26 Agustus itu juga memperkuat bahwa PREVENT sendiri cukup berguna. Meski begitu, penelitian lanjutan masih diperlukan, terutama pada orang yang lebih muda serta kelompok berisiko tinggi seperti keturunan Asia Selatan dan Filipina.

Jadi, pemindaian kalsium jantung bukan “tes wajib untuk semua orang”. Nilai terbaiknya justru muncul ketika keputusan medis masih samar: saat sebuah angka tambahan bisa membantu menentukan apakah pencegahan perlu diperkuat atau tidak.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement