FLASH NEWS

Serat Harian Ini Diam-Diam Membantu Meredakan Nyeri Lutut

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Bayangkan ada cara sederhana untuk membantu meredakan nyeri lutut—cukup menambahkan bubuk serat ke sarapan atau yoghurt. Bukan obat antinyeri, bukan alat olahraga digital, melainkan makanan bagi bakteri baik di dalam usus.

Itulah yang diuji dalam penelitian terbaru terhadap orang dengan osteoartritis lutut. Hasilnya menarik: suplemen serat tersebut tidak hanya membantu mengurangi nyeri, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan kekuatan genggaman dan berkurangnya kepekaan tubuh terhadap rasa sakit.

Osteoartritis lutut terjadi ketika jaringan di dalam sendi, termasuk tulang rawan yang berfungsi seperti bantalan di ujung tulang, perlahan mengalami kerusakan. Akibatnya, lutut bisa terasa nyeri, kaku, dan bengkak. Berjalan atau naik tangga pun dapat menjadi pekerjaan yang melelahkan.

Selama ini, penanganannya biasanya berfokus pada pengurangan gejala dan menjaga kemampuan bergerak. Obat antinyeri dapat membantu, meski bisa menimbulkan efek samping. Sementara itu, fisioterapi dan olahraga membantu fungsi sendi, tetapi tidak selalu mudah dijalani—terutama bagi orang yang sudah lama kesakitan.

Baca Juga

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nutrients ini menawarkan kemungkinan tambahan: memperbaiki kesehatan usus lewat serat prebiotik. Peneliti utamanya, Dr. Afroditi Kouraki dari School of Medicine, University of Nottingham, menyebut perubahan sederhana seperti menambahkan suplemen serat ke sarapan atau yoghurt berpotensi membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi fisik.

Serat yang digunakan bernama inulin. Serat ini secara alami terdapat dalam makanan seperti akar chicory, artichoke Yerusalem, dan beberapa jenis sayuran. Berbeda dari banyak zat gizi lain, inulin tidak dipecah oleh enzim pencernaan di usus halus. Ia melaju ke usus besar, tempat bakteri-bakteri baik menggunakannya sebagai “makanan”.

Di sinilah ceritanya mulai menarik. Komunitas mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan—disebut mikrobioma usus—ternyata tidak hanya berurusan dengan pencernaan. Bakteri-bakteri ini berinteraksi dengan sistem kekebalan, menghasilkan senyawa aktif, dan mungkin ikut memengaruhi cara sistem saraf memproses rasa sakit.

Inulin disebut prebiotik karena tugasnya memberi makan bakteri baik. Ini berbeda dari probiotik, yang langsung membawa mikroorganisme hidup ke dalam tubuh. Ketika bakteri memfermentasi inulin, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek atau SCFA. Salah satunya adalah butirat, senyawa yang membantu menjaga lapisan usus dan dapat memengaruhi peradangan serta jalur biologis yang berkaitan dengan nyeri.

Dalam penelitian ini, peserta yang mengonsumsi inulin memiliki kadar butirat yang lebih tinggi. Ini mengisyaratkan bahwa suplemen tersebut memang mengubah aktivitas mikrobioma usus.

Para peneliti juga menemukan peningkatan kadar glucagon-like peptide-1 atau GLP-1. Hormon yang dilepaskan usus ini membantu mengatur gula darah dan nafsu makan. GLP-1 juga pernah dikaitkan dengan pengaturan nyeri dan kesehatan otot.

Nama GLP-1 mungkin terdengar akrab karena hormon ini menjadi sasaran obat seperti Ozempic dan Wegovy. Namun, penting dicatat: suplemen inulin dalam penelitian ini bukan obat GLP-1. Para peneliti hanya ingin melihat apakah dukungan terhadap bakteri baik di usus dapat memengaruhi produksi alami hormon tersebut oleh tubuh.

Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah hubungan antara kadar GLP-1 yang lebih tinggi dan kekuatan genggaman yang lebih baik. Temuan ini belum membuktikan bahwa GLP-1 secara langsung menyebabkan otot menjadi lebih kuat. Namun, hasilnya memberi petunjuk bahwa perubahan yang berawal dari sistem pencernaan mungkin berkaitan bukan hanya dengan rasa sakit, tetapi juga fungsi otot.

Untuk menguji semua itu, tim peneliti menjalankan uji coba INSPIRE selama enam minggu. Penelitian terkontrol acak ini melibatkan 117 orang dewasa dengan osteoartritis lutut. Mereka dibagi ke dalam empat kelompok: kelompok yang hanya mendapat suplemen inulin harian, kelompok yang hanya menjalani latihan fisioterapi dengan dukungan digital, kelompok yang mendapat keduanya, dan kelompok plasebo.

Hasilnya, inulin dan fisioterapi sama-sama secara mandiri membantu mengurangi nyeri lutut. Namun, peserta yang mengonsumsi inulin juga menunjukkan kekuatan genggaman yang lebih baik dan kepekaan terhadap nyeri yang lebih rendah dibandingkan kondisi tertentu yang diamati dalam penelitian.

Kepekaan terhadap nyeri menggambarkan seberapa kuat sistem saraf merespons rangsangan yang berpotensi menyakitkan. Pada osteoartritis, rasa sakit tidak selalu sebanding dengan kerusakan yang terlihat di sendi. Sistem saraf yang menjadi lebih sensitif juga dapat ikut memperbesar rasa tidak nyaman.

Hal lain yang mencolok adalah tingkat peserta yang bertahan mengikuti program. Hanya 3,6 persen peserta dari kelompok inulin saja yang mengundurkan diri. Pada kelompok fisioterapi saja, angkanya mencapai 21 persen.

Perbedaan ini mengisyaratkan bahwa mengonsumsi suplemen serat setiap hari mungkin lebih mudah dimasukkan ke dalam rutinitas dibandingkan mengikuti program latihan terstruktur. Meski begitu, penelitian ini berlangsung selama enam minggu, sehingga temuan tersebut belum otomatis menjawab dampak jangka panjangnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini membuka hubungan yang menarik antara usus, otak, rasa sakit, dan otot. Bakteri usus bukan sekadar “penumpang” dalam sistem pencernaan. Dengan memberi mereka bahan bakar yang tepat, tubuh mungkin ikut mengubah cara memproses nyeri dan menjaga fungsi fisik.

Nah, yang membuat temuan ini menarik bukan berarti semangkuk yoghurt dan serat bisa menggantikan seluruh perawatan osteoartritis. Pesannya lebih sederhana: kesehatan usus mungkin menjadi salah satu bagian penting dalam teka-teki besar pengelolaan nyeri dan kekuatan tubuh.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement