Kamera Raksasa Roman Mulai Melihat Alam Semesta dari Luar Angkasa

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Bagaimana rasanya memotret langit malam dengan kamera yang bidang pandangnya lebih luas daripada Bulan purnama, tetapi tetap mampu menangkap detail setajam teleskop antariksa? Itulah kemampuan yang sedang disiapkan NASA melalui teleskop Roman.

Pada September 2026, kamera utama Roman yang disebut Wide Field Instrument (WFI) berhasil dinyalakan dan diuji di luar angkasa. Kamera ini memiliki 300 megapiksel—jauh melampaui kamera ponsel biasa—namun kehebatannya bukan sekadar jumlah piksel. WFI dirancang untuk melihat area langit yang sangat luas sekaligus mempertahankan detail yang tajam, seperti menggabungkan kamera panorama dengan lensa telefoto dalam satu perangkat.

Untuk menyalakannya, para teknisi harus lebih dulu “mengeringkan” dan membersihkan instrumen selama 10 hari. Detektornya dijaga pada suhu minus 65 derajat Celsius, lalu didinginkan hingga sekitar minus 143 derajat Celsius sebelum 18 detektor inframerah diaktifkan. Seluruh detektor itu memiliki area peka cahaya kira-kira sebesar layar laptop.

Setelah sistem kalibrasi dinyalakan, tim di Bumi mulai mengirim data uji melalui WFI. Mereka juga menguji roda berisi filter, prisma, dan komponen optik lain. Komponen ini bekerja seperti penyaring warna pada kamera, tetapi untuk memilah panjang gelombang cahaya dari objek-objek kosmik. Mekanisme pemfokusannya pun diuji agar ratusan ribu gambar yang kelak diambil Roman tetap tajam.

Baca Juga

WFI diperkirakan membantu ilmuwan mempelajari planet di luar Tata Surya, menyelidiki misteri energi gelap, dan memetakan bagaimana materi tersebar di seluruh alam semesta. Data yang dihasilkan juga bisa dipakai untuk banyak riset lain yang belum tentu semuanya sudah terbayangkan.

Instrumen lain, yaitu Coronagraph Instrument, juga telah melewati pemeriksaan awal. Alat ini dirancang untuk menghalangi cahaya menyilaukan dari sebuah bintang, sehingga cahaya redup planet yang mengorbit di dekatnya berpeluang terlihat. Ibaratnya, coronagraph mencoba menutup lampu sorot agar cahaya lilin di sampingnya bisa diamati.

Tim di NASA, Caltech/IPAC, Jet Propulsion Laboratory, Goddard Space Flight Center, BAE Systems, dan Teledyne memeriksa komunikasi, perangkat lunak, pengendali suhu, kamera, serta mekanisme bergerak di dalamnya. Coronagraph akan menjalani proses dekontaminasi sekitar 30 hari. Sementara itu, Roman terus bergerak menuju titik L2, sekitar satu juta mil dari Bumi, dan tetap dijadwalkan merilis gambar sains pertamanya pada awal 2027.

Jadi, ini bukan sekadar kamera yang berhasil menyala. Roman sedang dipersiapkan menjadi mesin survei kosmik: memotret langit yang sangat luas, tetapi tetap cukup tajam untuk memburu planet dan mengurai rahasia alam semesta.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement