Kalau kulit menipis, tulang melemah, dan ingatan mulai menurun, kita biasanya mencari penyebabnya di seluruh tubuh. Namun, bagaimana jika sebagian “pengatur” proses penuaan justru berada di sebuah area kecil dalam otak?
Petunjuknya datang dari hipotalamus, wilayah otak yang membantu mengatur metabolisme dan berbagai fungsi penting. Di dalamnya ada area bernama hipotalamus ventromedial atau VMH. Peneliti dari Xiamen University, China, yang dipimpin Lige Leng, menemukan bahwa kadar protein bernama Menin menurun seiring bertambahnya usia pada neuron tertentu di wilayah ini.
Menin bisa dibayangkan seperti rem pada peradangan. Ketika jumlahnya berkurang, sinyal peradangan di hipotalamus meningkat. Dampaknya ternyata tidak berhenti di otak. Pada tikus muda yang Menin-nya dikurangi secara khusus, muncul sejumlah tanda penuaan: massa tulang menurun, kulit menipis, kemampuan kognitif melemah, dan umur menjadi sedikit lebih pendek.
Menin juga berkaitan dengan zat bernama D-serine. Zat ini membantu mengaktifkan reseptor yang berperan dalam belajar dan mengingat—ibarat membantu jaringan komunikasi antarsel otak menjaga sambungannya tetap kuat. Ketika Menin berkurang, produksi D-serine ikut terganggu.
Lalu, para peneliti mencoba membalikkan keadaan. Mereka memasukkan gen Menin ke hipotalamus tikus berusia 20 bulan, sehingga sel-sel di sana kembali memproduksi lebih banyak protein tersebut. Setelah 30 hari, tikus menunjukkan perbaikan pada ketebalan kulit, massa tulang, kemampuan belajar, kognisi, dan keseimbangan. Kadar D-serine di hipokampus—wilayah otak yang penting untuk memori—juga meningkat. Studi itu bahkan melaporkan perpanjangan umur pada tikus yang mendapat perlakuan.
Ada pula percobaan yang lebih sederhana: tikus diberi D-serine melalui air minum selama tiga minggu. Kemampuan kognitifnya membaik, termasuk pada tikus tua. Tetapi, perlakuan ini tidak menghasilkan perbaikan menyeluruh pada tanda-tanda penuaan fisik seperti yang terlihat setelah Menin dipulihkan.
Di sinilah pentingnya tidak buru-buru menyimpulkan. D-serine bukan berarti sama dengan makan kedelai, telur, ikan, atau kacang. Makanan tersebut mengandung L-serine, bentuk yang berbeda dan dapat diubah tubuh menjadi D-serine—tetapi keduanya tidak bisa disamakan.
Penelitian lanjutan pada 2024 mendukung kemungkinan peran pelindung Menin dalam sel hipokampus, sementara studi lain menunjukkan bahwa komunikasi hipotalamus dengan jaringan lemak juga dapat memengaruhi aktivitas fisik dan umur tikus. Namun, semua temuan ini masih berada pada tahap penelitian hewan atau sel, bukan bukti terapi antipenuaan untuk manusia.
Jadi, “tombol” penuaan mungkin tidak hanya tersebar di seluruh tubuh. Sebagian kendalinya tampaknya berada pada percakapan rumit antara otak, peradangan, dan metabolisme. Menin memberi petunjuk bahwa menjaga percakapan itu tetap seimbang bisa menjadi salah satu kunci untuk memahami penuaan.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber ScienceDaily
















































