Pernah bertanya-tanya mengapa makanan kemasan bisa tetap berwarna, beraroma, dan “segar” jauh lebih lama daripada masakan rumahan? Di balik umur panjang itu, ada bahan tambahan yang bekerja seperti petugas keamanan: menghambat bakteri dan jamur, memperlambat kerusakan, atau mencegah makanan cepat tengik.
Namun, apakah bahan-bahan ini selalu tanpa dampak bagi tubuh? Studi besar dari Prancis menemukan kaitan antara konsumsi sejumlah pengawet makanan dan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi serta penyakit kardiovaskular.
Penelitian ini dipimpin Dr. Mathilde Touvier, direktur riset di INSERM—Institut Nasional Riset Kesehatan dan Kedokteran Prancis—bersama Anaïs Hasenböhler, mahasiswa doktoral. Keduanya berasal dari tim Epidemiologi Gizi di Université Sorbonne Paris Nord dan Université Paris Cité.
Tim memanfaatkan proyek NutriNet-Santé yang melibatkan 112.395 sukarelawan di seluruh Prancis. Setiap enam bulan, para peserta mencatat semua makanan dan minuman yang mereka konsumsi selama tiga hari. Dengan cara ini, peneliti bisa memeriksa bahan-bahan dalam produk yang dimakan, bukan sekadar menebak pola makan secara umum.
Para peserta dipantau rata-rata tujuh sampai delapan tahun. Hasilnya, orang dengan konsumsi pengawet non-antioksidan tertinggi memiliki risiko hipertensi 29 persen lebih tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular 16 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang konsumsinya paling rendah. Untuk pengawet antioksidan, konsumsi tertinggi dikaitkan dengan risiko hipertensi 22 persen lebih tinggi.
Delapan bahan yang secara khusus dikaitkan dengan risiko hipertensi adalah potassium sorbate (E202), potassium metabisulphite (E224), sodium nitrite (E250), ascorbic acid (E300), sodium ascorbate (E301), sodium erythorbate (E316), citric acid (E330), dan ekstrak rosemary (E392). Ascorbic acid atau E300 juga dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular.
Meski begitu, ini bukan berarti satu bahan pengawet pasti menyebabkan hipertensi atau serangan jantung. Studi tersebut bersifat observasional: peneliti menemukan hubungan statistik, bukan membuktikan sebab-akibat secara langsung. Peneliti juga sudah memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi risiko penyakit jantung.
Salah satu dugaan mekanismenya adalah stres oksidatif, yaitu kondisi ketika molekul reaktif menumpuk lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Peneliti juga sedang menyelidiki kemungkinan pengaruh pengawet terhadap pankreas, peradangan, metabolisme, dan mikrobiota usus—komunitas mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan.
Untuk sementara, temuan ini mendukung anjuran yang sudah ada: lebih sering memilih makanan yang tidak atau hanya sedikit diproses, serta menghindari bahan tambahan yang tidak diperlukan. Jadi, persoalannya bukan satu bungkus makanan yang langsung “merusak” jantung. Yang sedang disoroti adalah paparan kecil yang berulang—seperti tetesan air yang terus-menerus mengisi ember.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber ScienceDaily
















































