FLASH NEWS

Sel Punca Membantu Tikus Pulih dari Kerusakan Stroke

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Bagaimana kalau bagian otak yang rusak akibat stroke tidak harus menjadi “jalan buntu” selamanya? Selama ini, kerusakan semacam itu dianggap permanen. Sel-sel otak yang mati tidak mudah digantikan, sehingga banyak penyintas stroke harus hidup dengan kelumpuhan atau kesulitan berbicara.

Namun, sebuah penelitian pada tikus membawa kabar yang cukup mengejutkan. Tim dari University of Zurich (UZH), bekerja sama dengan kelompok Ruslan Rust dari University of Southern California, menemukan bahwa sel punca saraf manusia dapat membantu memulihkan gerakan tikus setelah mengalami stroke.

Stroke bisa terjadi ketika aliran oksigen ke bagian otak terhenti, atau ketika pembuluh darah pecah dan menyebabkan perdarahan. Akibatnya, sel-sel otak di area tersebut rusak atau mati. Menurut sumber ScienceDaily, kondisi ini dialami sekitar satu dari empat orang dewasa sepanjang hidup mereka. Sekitar separuh penyintasnya mengalami gangguan jangka panjang.

Dalam penelitian ini, sel punca saraf manusia dibuat dari induced pluripotent stem cells. Sederhananya, sel tubuh biasa “diprogram ulang” agar kembali memiliki kemampuan berkembang menjadi berbagai jenis sel. Para peneliti kemudian menimbulkan stroke permanen pada tikus, dengan pola kerusakan yang dirancang menyerupai sejumlah ciri penting stroke pada manusia.

Baca Juga

Satu minggu kemudian, sel punca tersebut disuntikkan langsung ke area otak yang rusak. Karena sel itu berasal dari manusia, tikus yang digunakan telah dimodifikasi agar sistem kekebalannya tidak menolak transplantasi.

Hasilnya? Sel-sel tersebut bertahan selama lima minggu pengamatan. Sebagian besar berubah menjadi neuron—sel saraf yang bertugas mengirimkan informasi—dan bahkan berkomunikasi dengan sel otak tikus yang sudah ada. Ini penting. Membuat neuron baru saja belum cukup; neuron itu harus bisa “masuk ke jaringan komunikasi” otak, seperti pemain baru yang bukan hanya datang ke lapangan, tetapi juga mampu bekerja sama dengan tim.

Menariknya, perbaikannya ternyata tidak hanya berasal dari neuron baru. Jaringan otak tikus juga menunjukkan pembentukan pembuluh darah baru, peradangan yang lebih ringan, serta pemulihan sebagian penghalang darah-otak. Penghalang ini berfungsi seperti pagar keamanan ketat antara aliran darah dan jaringan otak.

Perubahan biologis itu berjalan seiring dengan membaiknya gerakan tikus. Para peneliti mengukur pola berjalan hewan tersebut, termasuk dengan bantuan analisis berbasis kecerdasan buatan.

Ada satu petunjuk penting lain: transplantasi yang dilakukan satu minggu setelah stroke justru bekerja lebih baik daripada tindakan segera. Jeda ini berpotensi membuat terapi lebih realistis, karena dokter tidak harus menyiapkan sel punca di tengah situasi darurat.

Meski begitu, terapi ini belum siap dicoba secara luas pada manusia. Tim Christian Tackenberg masih berupaya mengurangi risiko pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan mengembangkan “saklar pengaman”. Mereka juga menguji cara pemberian melalui pembuluh darah, yang mungkin lebih praktis daripada operasi langsung ke otak.

Jadi, sel punca bukan sekadar mengganti sel otak yang hilang. Pada tikus, ia tampaknya ikut menyalakan kembali berbagai proses perbaikan—seolah otak mendapat kesempatan untuk membangun ulang jaringan yang rusak.

***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement