PROBACA.ID – Bayangkan memegang ponsel yang layarnya seolah tumpah sampai ke setiap sisi bodi. Tidak ada bingkai tebal yang biasanya mengelilingi layar—yang terlihat hanya permukaan kaca dan tampilan dari ujung ke ujung. Itulah kesan pertama saat Tecno Camon Slim bezel-less kembali dipamerkan dalam bentuk yang lebih dekat.
GSMArena mendapat kesempatan melihat langsung perangkat konsep ini di kantor, setelah sebelumnya mencobanya di ajang IFA. Kali ini, bukan ulasan panjang yang ditawarkan, melainkan galeri foto berkualitas tinggi untuk memperlihatkan lebih jelas desainnya yang cukup “asing” di tangan.
Secara nama dan fondasi, ponsel konsep ini masih berangkat dari Tecno Camon Slim 5G. Bahkan, bagian “About phone” pada perangkat menyebut nama tersebut. Spesifikasi dasarnya juga sama, yakni menggunakan chip Dimensity 7300e dan baterai berkapasitas 6.000 mAh.
Namun, desain bezel-less membuat versi konsepnya tidak benar-benar identik dengan Camon Slim 5G biasa. Ponsel konsep ini justru lebih tebal karena harus menampung lapisan kaca ganda serta bagian layar yang membungkus ke area dalam. Di sisi lain, bodinya sedikit lebih pendek dan bezelnya—bingkai di sekeliling layar—jauh lebih tipis.
Hasilnya memang menarik, tetapi pengalaman pemakaiannya belum semulus ponsel yang sudah siap masuk toko. GSMArena mencatat ada masalah cukup besar saat proses pengaturan awal. Setelah itu, perangkat juga sempat melakukan reset secara acak sehingga proses setup harus diulang dari awal.
Jangan berharap bisa langsung memasukkan kartu SIM. Slot SIM pada perangkat ini ternyata hanya pajangan; tidak ada tempat kartu SIM yang benar-benar berfungsi. Wajar saja, sebab perangkat tersebut bukan produk ritel, melainkan bagian dari latihan rekayasa Tecno untuk membuktikan bahwa konsep layar tanpa bezel bisa diwujudkan.
Ponsel konsep seperti ini ibarat purwarupa mobil futuristis: belum tentu diproduksi massal, tetapi penting untuk menguji ide dan memancing perhatian. Tecno Camon Slim bezel-less kemungkinan besar tidak akan berakhir di rak toko. Meski begitu, tampilannya mengingatkan pada era Xiaomi Mi Mix, ketika ponsel dengan bezel supertipis terasa seperti lompatan besar.
Pada akhirnya, daya tarik perangkat ini bukan semata-mata soal spesifikasi. Ia menunjukkan bagaimana produsen bereksperimen menghapus “bingkai” yang selama ini kita anggap wajib ada. Futuristis memang, tetapi untuk sekarang, ponsel ini lebih tepat disebut panggung uji coba daripada calon ponsel harian.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber GSMArena
















































