Awan Letusan Hunga Tonga Ternyata Bisa Menghancurkan Metana

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Bisakah sebuah letusan gunung api—yang biasanya identik dengan polusi—justru membantu membersihkan salah satu gas pemicu pemanasan global? Pertanyaan ini muncul setelah ilmuwan mengamati awan raksasa dari letusan Hunga Tonga-Hunga Ha’apai.

Dari luar angkasa, satelit menangkap sesuatu yang tidak biasa: konsentrasi formaldehida yang sangat tinggi di dalam awan letusan. Formaldehida adalah senyawa yang hanya bertahan beberapa jam, tetapi muncul sebentar ketika metana di atmosfer sedang diuraikan. Jadi, keberadaannya bisa menjadi semacam “sidik jari” kimia bahwa metana sedang dihancurkan.

“Kami terkejut melihat awan dengan konsentrasi formaldehida tertinggi yang pernah tercatat,” kata Dr. Maarten van Herpen dari Acacia Impact Innovation BV, penulis pertama studi yang diterbitkan di Nature Communications. Timnya melacak awan tersebut selama 10 hari, hingga mencapai Amerika Selatan. Karena formaldehida tidak mungkin bertahan selama itu, awan tersebut diduga terus menghancurkan metana selama lebih dari sepekan.

Letusan itu sendiri diperkirakan melepaskan sekitar 300 gigagram metana—kira-kira setara dengan emisi tahunan lebih dari dua juta sapi. Namun, pada saat yang sama, awan letusan diperkirakan menghilangkan sekitar 900 megagram metana setiap hari. Jumlah harian ini juga sebanding dengan emisi dua juta sapi.

Baca Juga

Bagaimana mungkin? Hunga Tonga meletus di bawah laut, sehingga bukan hanya abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer, tetapi juga air laut asin dalam jumlah besar. Sebagian material itu mencapai stratosfer, lapisan atmosfer di atas tempat terjadinya sebagian besar cuaca.

Para peneliti menduga, perpaduan abu vulkanik, garam laut, dan sinar matahari menghasilkan partikel mikroskopis bernama aerosol garam besi. Ketika terkena cahaya, partikel ini dapat melepaskan atom klorin. Klorin sangat reaktif—ibarat “pemotong” kimia—dan mampu menyerang molekul metana hingga terurai.

Mekanisme serupa sebelumnya ditemukan pada debu Sahara yang bercampur garam laut di atas Samudra Atlantik. Namun, menurut Profesor Matthew Johnson dari Departemen Kimia Universitas Kopenhagen, temuan baru ini mengejutkan karena proses tersebut tampaknya juga terjadi di awan vulkanik stratosfer, dengan kondisi fisik yang sangat berbeda.

Temuan ini penting karena metana menyumbang sekitar sepertiga pemanasan global. Dalam periode 20 tahun, kekuatannya memerangkap panas sekitar 80 kali karbon dioksida, meski biasanya hanya bertahan sekitar 10 tahun di atmosfer. Karena itu, pengurangan metana sering disebut “rem darurat” perubahan iklim.

Para ilmuwan kini punya contoh alami tentang cara mempercepat penghancuran metana. Namun, meniru proses ini secara sengaja masih jauh dari mudah—dan pengurangan metana tetap tidak menggantikan kebutuhan untuk memangkas emisi karbon dioksida.

Jadi, letusan Hunga Tonga bukan sekadar bencana geologi. Ia juga memperlihatkan bahwa atmosfer adalah laboratorium raksasa, tempat abu, air laut, dan sinar matahari bisa bersekutu menghapus sebagian gas pemanas Bumi.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement