PROBACA.COM – Pernah merasa sulit berhenti mengunyah camilan kemasan, makanan cepat saji, atau minuman manis—meski sebenarnya sudah kenyang? Bukan cuma soal kemauan. Makanan ultra-proses memang dirancang agar terasa nikmat, praktis, dan membuat kita ingin mengambil “satu lagi”.
Namun, mungkinkah kebiasaan makan seperti itu juga berhubungan dengan suasana hati? Sebuah studi pendahuluan yang diterbitkan pada 23 September di JAMA Psychiatry menemukan bahwa ketika peserta mengurangi makanan ultra-proses secara drastis, gejala depresi mereka ikut membaik.
Studi ini hanya melibatkan 20 orang, jadi hasilnya belum bisa dianggap sebagai jawaban final. Meski begitu, para peneliti menyebutnya sebagai studi pertama yang membandingkan gejala depresi pada orang yang sama, sebelum dan sesudah mereka beralih dari pola makan ultra-proses ke makanan yang lebih sehat.
Peserta mengurangi konsumsi makanan ultra-proses lebih dari 85 persen. Setelah perubahan besar itu, mereka menunjukkan perbaikan sedang hingga besar pada tiga ukuran gejala depresi yang berbeda. Skor kecemasan juga membaik, meski dalam tingkat yang lebih sederhana.
Yang dimaksud makanan ultra-proses antara lain camilan kemasan, makanan cepat saji, minuman berpemanis, serta berbagai produk yang dibuat secara industri. Di dalamnya bisa terdapat bahan pengawet, pewarna buatan, penambah rasa, dan pengemulsi—bahan yang membantu mencampur atau menjaga tekstur makanan.
“Mengurangi makanan ultra-proses dalam pola makan bisa menjadi tantangan,” kata Nyasha Chagwedera, MD, PhD, penulis korespondensi sekaligus asisten profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku UCSF. Makanan seperti ini relatif murah, mudah didapat, dan sangat menggugah selera.
Menurut Chagwedera, makanan ultra-proses dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Perusahaan makanan juga bekerja bersama ilmuwan untuk menemukan kombinasi gula, garam, dan lemak yang membuat orang ingin terus makan.
Para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok. Satu kelompok tetap menjalani pola makan biasanya selama empat minggu, sedangkan kelompok lain beralih ke pola makan rendah makanan ultra-proses. Peserta memilih dan membeli makanan mereka sendiri, dengan panduan dari tim penelitian. Setelah empat minggu, kedua kelompok bertukar pola makan.
Rata-rata usia peserta adalah 44 tahun, dan 70 persen di antaranya perempuan. Selain depresi, 14 peserta juga mengalami kecemasan. Semua peserta memiliki indeks massa tubuh tinggi dan setidaknya satu gangguan metabolik, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau kadar kolesterol LDL yang meningkat.
Lalu, apa yang mungkin menghubungkan isi piring dengan kondisi mental? Salah satu kemungkinan yang diajukan Chagwedera berkaitan dengan hubungan usus dan otak. Bayangkan lapisan pelindung usus seperti pagar pembatas. Jika pagar ini terganggu, berbagai masalah dari dalam usus bisa lebih mudah memicu reaksi di seluruh tubuh.
Dalam hipotesis yang disebut “usus bocor” dan tidak seimbang, makanan ultra-proses mungkin merusak lapisan pelindung tersebut. Kerusakan itu diduga dapat memicu peradangan tingkat rendah yang berlangsung lama. Peradangan ini mungkin berperan langsung dalam munculnya depresi, atau membuat seseorang lebih rentan mengalaminya.
Dengan kata lain, dampak makanan yang diproses berlebihan mungkin tidak berhenti di perut. Gangguan di sana bisa merambat seperti efek domino hingga memengaruhi otak. Namun, mekanisme ini masih berupa kemungkinan yang perlu diuji lebih lanjut—bukan kesimpulan pasti dari studi kecil ini.
Andrew Krystal, MD, Ray and Dagmar Dolby Distinguished Professor di departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku serta Neurologi UCSF, mengatakan studi tersebut berhasil menunjukkan bahwa penelitian semacam ini layak dilakukan dalam skala lebih besar.
Tim peneliti kini merencanakan uji yang melibatkan lebih banyak peserta. Perekrutan untuk tahap kedua diperkirakan dimulai pada 2028. Penelitian ini didanai oleh National Institutes of Health melalui National Center for Advancing Translational Sciences, serta sejumlah hibah dari NHLBI, NIMH, dan UCSF Weill Institute of Neurosciences.
Penelitian ini juga melibatkan Eliana Kim, Dorothy T. Chiu, Chengshi Jin, dan Catherine Lee dari UCSF, serta Susannah Tye dari University of Queensland, Mayo Clinic, dan Emory University.
Nah, pesan dari studi ini bukan bahwa mengganti menu otomatis menyembuhkan depresi. Pesannya lebih hati-hati: pola makan mungkin ikut memengaruhi kesehatan mental, dan hubungan antara makanan, usus, serta otak layak diteliti lebih serius—dengan bukti yang lebih besar sebelum kita menarik kesimpulan jauh.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily
















































