PROBACA.ID – Bagaimana cara mengetahui bahwa sebuah gua pernah dipakai untuk ritual—bahkan ketika ritual itu berlangsung ribuan tahun lalu? Di Cloggs Cave, Australia, jawabannya ternyata tersembunyi dalam abu, rumput, dan sebuah batu yang berdiri sendirian.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gua ini digunakan untuk kegiatan ritual selama kira-kira 25.000 tahun. Bayangkan seperti tumpukan halaman buku yang terus ditambahkan: setiap kali orang membawa rumput, membakarnya, lalu meninggalkan abu, lapisan baru terbentuk. Sedimen kemudian menutupinya, menyimpan jejak aktivitas itu di bawah lapisan berikutnya.
Tim peneliti dari Australia, Prancis, dan Selandia Baru meneliti phytolith—struktur silika mikroskopis yang terbentuk di dalam jaringan tumbuhan. Saat tumbuhan membusuk, struktur ini bisa bertahan jauh lebih lama daripada daun atau batangnya.
Petunjuk pentingnya ada pada lokasi penemuan. Tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di dalam Cloggs Cave karena gelap. Phytolith yang tidak terbakar mungkin saja terbawa hewan, misalnya melalui bulu atau kotorannya. Namun, phytolith yang setengah terbakar di lapisan abu hampir pasti dibawa manusia, lalu dibakar di dalam gua.
Penggalian pada 2019 dan 2020, yang diminta GunaiKurnai Land and Waters Corporation, menemukan 73 lapisan abu tipis di dua lubang sedalam 1,5 meter dan 2,3 meter. Lapisan-lapisan itu berasal dari sekitar 4.400 hingga 1.600 tahun lalu, berdasarkan penanggalan luminesensi optik dan karbon melalui spektrometri massa akselerator. Di antara lapisan tersebut juga ditemukan batu berdiri setinggi 28 sentimeter, yang sengaja ditempatkan sekitar 2.000 tahun lalu untuk keperluan ritual.
Para peneliti mengidentifikasi 29 jenis phytolith dari rumput, tumbuhan herba, dan tanaman berkayu. Rumput mendominasi hingga 97 persen sampel. Menariknya, masyarakat masa lalu tidak sekadar mengambil tumbuhan secara acak. Mereka memilih jenis rumput tertentu, bahkan membawa seluruh bagian tanaman—batang, daun, bunga, dan akar—termasuk bagian yang tidak bisa dimakan.
Sekitar 18 persen phytolith menunjukkan tanda terbakar atau meleleh. Jejak ini muncul di berbagai lapisan, menandakan pembakaran tumbuhan dilakukan berulang kali selama ribuan tahun.
Dr Elle Grono dari Australian National University dan Profesor Bruno David dari Monash University mengatakan temuan ini sejalan dengan praktik tradisional GunaiKurnai, ketika abu digunakan dalam sihir, ritual, serta untuk melacak jejak orang atau makhluk spiritual yang memasuki gua.
Jadi, Cloggs Cave bukan sekadar tempat berlindung. Abu yang tampak sederhana ternyata adalah arsip ritual—dan setiap lapisannya menyimpan satu halaman dari ingatan manusia.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber ScienceDaily
















































