FLASH NEWS

Empat “Trik” Langit Oktober: Jupiter Menghilang hingga Hujan Meteor

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.COM – Pernah membayangkan Jupiter tiba-tiba lenyap dari langit, lalu muncul lagi seolah sedang bermain petak umpet? Atau melihat “bintang jatuh” yang ternyata membawa jejak komet terkenal? Oktober menghadirkan beberapa pertunjukan langit seperti itu, dan sebagian bisa disaksikan tanpa alat khusus.

NASA menyoroti empat peristiwa langit yang menarik bulan ini: Jupiter bersembunyi di balik Bulan, hujan meteor Draconid dan Orionid, serta Hunter’s Moon yang menerangi langit menjelang Halloween.

Pertunjukan pertama berlangsung sebelum matahari terbit pada 6 Oktober. Di sejumlah wilayah Amerika Utara, Jupiter tampak meluncur ke balik sabit Bulan dan menghilang selama kira-kira satu jam sebelum terlihat kembali.

Astronom menyebut kejadian ini okultasi Bulan. Namanya memang terdengar seperti mantra dalam film fantasi, tetapi maksudnya sederhana: sebuah benda langit bergerak tepat di antara Bumi dan benda yang lebih jauh, sehingga benda di belakangnya untuk sementara tertutup dari pandangan.

Baca Juga

Dalam peristiwa ini, Bulan bertindak seperti tangan yang menutupi lampu di kejauhan. Jupiter bisa dilihat dengan mata telanjang, sementara teropong akan membantu menampilkan detail yang lebih jelas. Dengan peralatan optik, pengamat bahkan berpeluang melihat beberapa satelit Jupiter ikut menghilang di balik tepi Bulan, lalu muncul kembali.

Kesempatan melihatnya bergantung pada lokasi. Okultasi tersebut terlihat dari bagian timur dan tengah Amerika Utara, dengan waktunya berbeda-beda menurut wilayah. Di beberapa tempat, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 4 pagi waktu Eastern Daylight Time.

Belum sempat pulih dari aksi “menghilang” Jupiter, langit menghadirkan hujan meteor Draconid pada malam 8 Oktober hingga dini hari 9 Oktober. Waktu terbaik untuk mulai mengamati diperkirakan sekitar pukul 9 malam waktu setempat.

Draconid punya keistimewaan kecil: banyak hujan meteor justru lebih menarik setelah tengah malam, tetapi Draconid sudah bisa diburu tak lama setelah malam tiba. Jadi, kamu tak perlu menunggu sampai mata hampir terpejam untuk mencari garis-garis cahaya di langit.

Tahun ini, kondisinya cukup mendukung karena Bulan sedang mendekati fase Bulan baru. Artinya, cahaya Bulan yang biasanya membuat meteor redup kalah terlihat akan lebih sedikit. Langit yang lebih gelap memberi meteor-meteor samar kesempatan untuk tampil.

Nama Draconid berasal dari rasi bintang Draco, atau sang naga. Meteor-meteor itu tampak seolah-olah berasal dari wilayah langit tersebut. Namun, jangan berharap langit dipenuhi kembang api kosmis: Draconid biasanya hanya menghasilkan beberapa meteor yang terlihat setiap jam.

Agar peluangnya lebih baik, menjauhlah dari lampu kota, beri waktu bagi mata untuk menyesuaikan diri dengan gelap, lalu sapukan pandangan ke langit terbuka. Meteor hanya muncul sebentar, seperti coretan cahaya yang dibuat terburu-buru di atas kanvas malam.

Pada 21 Oktober, giliran hujan meteor Orionid mencapai puncaknya. Yang membuatnya istimewa bukan hanya kilatan cahayanya, melainkan asal-usulnya: partikel-partikel kecil yang ditinggalkan Komet Halley saat melintas dalam perjalanannya mengitari Tata Surya.

Ketika Bumi menerobos jejak debu kuno itu, serpihan-serpihannya masuk ke atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dan panas membuatnya terbakar, lalu dari permukaan Bumi kita melihatnya sebagai garis cahaya singkat—fenomena yang biasa disebut “bintang jatuh”.

NASA memperkirakan pengamat di daerah pinggiran kota dengan sedikit cahaya buatan dapat melihat sekitar 3 hingga 6 meteor Orionid setiap jam. Dari tempat yang lebih gelap, jumlahnya bisa sedikit lebih banyak.

Orionid mendapat nama dari rasi Orion, sang pemburu, karena meteor-meteornya tampak memancar dari kawasan langit tersebut. Di rasi yang sama terdapat Betelgeuse, bintang maharaksasa merah yang mudah dikenali dari warna kemerahannya. Tapi, demi keamanan kosmis, jangan menyebut namanya tiga kali berturut-turut!

Ada satu pengganggu tahun ini: Bulan berada dalam fase cembung membesar, ketika lebih dari separuh permukaannya yang terlihat diterangi Matahari. Cahaya terang itu bisa membuat meteor yang lebih redup sulit ditangkap.

Kabar baiknya, kondisi membaik setelah Bulan terbenam sekitar pukul 3 pagi waktu setempat. Pada saat yang sama, Orion juga akan berada lebih tinggi di langit. Jadi, jam-jam menjelang matahari terbit bisa menjadi kesempatan yang lebih baik untuk berburu Orionid.

Penutup rangkaian pertunjukan Oktober adalah Hunter’s Moon, yang mencapai fase purnama pada 26 Oktober menurut waktu universal. Di sebagian besar Amerika Utara, Bulan akan tampak penuh sejak malam 25 Oktober.

Nama Hunter’s Moon berasal dari tradisi musim gugur. Setelah panen selesai, ladang menjadi lebih terbuka dan siang hari semakin pendek. Cahaya Bulan purnama membantu para pemburu menemukan serta mengikuti hewan setelah matahari terbenam.

Bulan akan tetap menjadi penghias utama langit pada hari-hari setelah purnama. Mendekati Halloween, bentuknya perlahan berubah menjadi Bulan cembung menyusut, dengan bagian yang terang berkurang sedikit demi sedikit setiap malam.

Nah, langit Oktober ternyata bukan sekadar latar gelap di atas kepala. Ada planet yang bersembunyi, debu Komet Halley yang menyala, dan Bulan yang menerangi malam musim gugur—empat pertunjukan kosmis yang hanya perlu satu hal untuk dinikmati: menengadah.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Disadur dari ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement