FLASH NEWS

Kawah Raksasa Phobos Bisa Mengungkap Asal-Usulnya

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

Kalau sebuah benda langit berukuran kecil memiliki kawah selebar 9 kilometer, bukankah seharusnya ia hancur berkeping-keping? Anehnya, Phobos masih mengorbit Mars sampai sekarang. Justru bekas tumbukan raksasa itu mungkin menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan besar: dari mana sebenarnya bulan kecil ini berasal?

Phobos bukan sekadar “batu yang kebetulan mengorbit”. Diameternya rata-rata hanya 22,2 kilometer, tetapi ia melaju mengelilingi Mars setiap 7 jam 39 menit. Bentuknya tidak beraturan, orbitnya sangat dekat dengan Mars, dan para ilmuwan masih memperdebatkan asal-usulnya.

Ada dua kemungkinan utama. Dalam skenario pertama, sebuah benda raksasa menabrak Mars sekitar 4,2 miliar tahun lalu. Tumbukan itu melontarkan material ke orbit, membentuk cakram debu dan batu yang kemudian menghasilkan Phobos serta Deimos. Skenario kedua menyebut Phobos dulunya asteroid yang ditangkap oleh gravitasi Mars.

Di tengah perdebatan itu berdiri Stickney Crater—kawah terbesar di Phobos. Jika kawah berdiameter 9 kilometer tersebut terbentuk saat tabrakan awal dengan Mars, umurnya mungkin sekitar 4,2 miliar tahun. Namun, jika Phobos adalah asteroid tangkapan, tumbukannya bisa terjadi jauh lebih belakangan, sekitar 2,6 miliar tahun lalu.

Baca Juga

Para peneliti kini mencoba membaca “isi perut” Phobos lewat gravitasi dan gerakannya. Benjamin Haser, mahasiswa doktoral ilmu keplanetan di Universität der Bundeswehr München, bersama Thomas Andert, memodelkan hal ini dalam paper tahun 2026 di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Hasil perkiraan saat ini menggambarkan Phobos sebagai benda yang berpori—mungkin memiliki es air—dengan material yang lebih padat di sekitar wilayah ekuator. Bayangkan spons raksasa dari bongkahan batu: cukup rapuh dan berongga untuk menyerap sebagian energi tumbukan, sehingga tidak langsung remuk.

Tetapi panas dan tekanan dari tumbukan Stickney mungkin telah memadatkan batu di bawah kawah. Wilayah padat itu bisa meninggalkan “sidik jari” kecil pada medan gravitasi Phobos. Bahkan goyangan dan osilasi kecil bulan ini, yang disebut librasi, dapat membantu menunjukkan bagaimana material tersusun di dalamnya.

Bentuk Phobos yang mirip rubble pile asteroid—kumpulan pecahan batu yang direkatkan longgar oleh gravitasi—memang mendukung gagasan bahwa ia adalah asteroid tangkapan. Namun, bentuk, kepadatan, gravitasi, sifat spektral, dan orbitnya harus cocok dalam satu model. Itulah bagian tersulitnya.

Phobos juga sedang menuju akhir kisahnya. Orbitnya perlahan menyusut, sehingga kelak ia diperkirakan pecah atau menabrak Mars. Misi Jepang Martian Moons Exploration (MMX), yang ditargetkan meluncur pada akhir 2026, akan mempelajari Phobos dan membawa sampel permukaannya ke Bumi.

Jadi, Stickney bukan cuma luka lama di permukaan Phobos. Di balik kawah itu mungkin tersembunyi arsip tentang kelahiran sang bulan—sementara orbitnya yang terus menyusut menunjukkan bahwa arsip tersebut masih berubah, bahkan ketika sedang kita baca.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement