PROBACA.COM – Kalau kamu hendak membangun rumah di tempat yang suhunya berubah ekstrem, terus-menerus dihantam serpihan batu dari angkasa, dan nyaris tak punya atmosfer, tentu kamu tidak akan langsung membawa semen dan mulai memasang fondasi. Kamu akan mencari tahu dulu: bagian mana yang paling aman, ada sumber daya apa, dan apa saja yang bisa menghancurkan bangunan.
Kurang lebih seperti itulah pekerjaan rumah NASA sebelum membangun pangkalan manusia pertama di Bulan. Melalui program Payloads and Research Investigations on the Surface of the Moon (PRISM), NASA memilih sejumlah instrumen dan penelitian baru yang akan dikirim ke permukaan Bulan lewat inisiatif Commercial Lunar Payload Services (CLPS), bagian dari Moon Base Program.
Setiap penelitian punya sasaran berbeda. Ada yang akan memantau gempa Bulan dan hantaman benda langit, ada yang mencari kemungkinan gua raksasa di bawah permukaan, dan ada pula yang memburu es air tersembunyi. Semua informasi ini akan membantu misi Artemis dan rencana pembangunan pangkalan Bulan jangka panjang.
“NASA Science sedang membangun panduan bertahan hidup antarplanet yang paling lengkap,” kata Nicky Fox, administrator asosiasi Direktorat Misi Sains NASA di Washington. Menurutnya, sains perlu tiba lebih dulu di Bulan agar para astronaut kelak sudah memiliki informasi, sumber daya, dan langkah keselamatan yang diperlukan untuk menghadapi lingkungan Bulan—termasuk malam Bulan.
Tujuannya jelas: mengurangi risiko bagi astronaut sekaligus menyiapkan pos terdepan manusia sebelum NASA mengirim astronaut ke Mars.
Mendengarkan “denyut nadi” Bulan
Penelitian pertama bernama Lunar Environment Monitoring Station—South Pole, atau LEMS-SP. Misi ini akan mendirikan stasiun otomatis yang memantau kondisi lingkungan dan berbagai ancaman di sekitar kutub selatan Bulan dalam waktu panjang.
Salah satu tugasnya adalah mendeteksi mikrometeoroid—serpihan kecil dari luar angkasa yang menghantam permukaan Bulan. Di Bumi, atmosfer tebal membakar sebagian besar benda semacam ini sebelum mencapai tanah. Bulan tidak memiliki perlindungan serupa, sehingga hantaman kecil sekalipun perlu diperhitungkan ketika manusia mulai memasang peralatan dan habitat.
LEMS-SP juga akan mengukur jumlah volatile, yaitu zat yang mudah berubah menjadi gas, di lapisan gas luar Bulan yang sangat tipis. Data ini dapat membantu ilmuwan melihat bagaimana lingkungan Bulan berubah dari waktu ke waktu.
Instrumen lain di dalamnya adalah seismometer periode pendek. Alat ini berfungsi mendeteksi getaran dan aktivitas seismik, termasuk “gempa Bulan”. Informasi tersebut penting karena struktur di Bulan tidak boleh dirancang seolah-olah tanahnya selalu tenang. Getaran bisa memengaruhi bangunan, peralatan sensitif, dan lokasi pemasangan infrastruktur.
Dengan menggabungkan data tentang hantaman benda langit, aktivitas seismik, dan kondisi sekitar, LEMS-SP diharapkan membantu para insinyur membuat infrastruktur pangkalan Bulan yang lebih aman dan andal. Penelitian ini dipimpin Dr. Mehdi Benna dari University of Maryland, Baltimore County.
Mungkinkah ada “ruang bawah tanah” raksasa?
Penelitian kedua menyasar salah satu kemungkinan paling menarik di Bulan: lorong bawah tanah yang sangat besar dan mungkin bisa menjadi tempat berlindung alami bagi astronaut.
Misi bernama Geophysical Instruments for Marius Lunar pit Investigation, atau GIMLI, akan memeriksa Marius Hills Pit—sebuah bukaan di permukaan Bulan yang diduga terhubung dengan tabung lava bawah tanah.
Tabung lava terbentuk ketika bagian luar aliran lava mendingin dan mengeras, sementara batuan cair masih mengalir di bawahnya. Setelah aliran lava pergi, yang tersisa bisa berupa lorong kosong. Bayangkan seperti saluran panjang yang terbentuk setelah isi cairnya menghilang, tetapi versi ini berada di lanskap vulkanik Bulan.
GIMLI akan menggunakan pengukuran geofisika untuk menyelidiki apa yang ada di bawah lubang tersebut dan apakah lubang itu benar-benar tersambung dengan lorong bawah tanah yang lebih luas. Data ini juga dapat membuka petunjuk baru tentang proses vulkanik yang membentuk permukaan Bulan.
Jika ruang bawah tanah berukuran besar benar-benar ada, manfaatnya bisa sangat besar. Permukaan Bulan mengalami perubahan suhu yang ekstrem, terpapar radiasi pengion yang berbahaya, dan sering dihantam batu-batu kecil dari luar angkasa. Tabung lava berpotensi menawarkan suhu yang lebih stabil sekaligus perlindungan alami dari radiasi dan tumbukan.
Artinya, astronaut di masa depan mungkin tidak harus membangun semua perlindungan dari nol di permukaan. Mereka bisa memanfaatkan “arsitektur” geologi yang sudah tersedia. Kepastian tentang keberadaan dan ukuran lorong-lorong ini bahkan dapat memengaruhi pilihan lokasi habitat serta cara habitat tersebut dirancang.
Peneliti utama GIMLI adalah Dr. Nathaniel Putzig dari Planetary Science Institute.
Mencari es di sudut-sudut yang selalu dingin
Penelitian ketiga mengejar sumber daya yang tidak kalah penting: es air. Payload bernama Depth Imager with Spectral and Color Optics, atau DISCO, dirancang untuk melakukan pengukuran langsung pertama dari permukaan Bulan terhadap es yang tersimpan di wilayah-wilayah kecil dengan suhu luar biasa rendah, yang disebut micro-cold traps.
Wilayah ini bisa tetap sangat dingin karena hanya menerima sedikit cahaya Matahari atau bahkan tidak mendapatkannya secara langsung. Dalam kondisi seperti itu, es dapat bertahan lebih lama.
NASA ingin mengetahui di mana es berada, berapa banyak jumlahnya, dan bagaimana penyebarannya. Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk menentukan apakah es tersebut kelak bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya praktis bagi misi Bulan.
Mengangkut air dari Bumi ke luar angkasa membutuhkan biaya besar. Jika es Bulan dapat diakses, astronaut mungkin bisa memperoleh air secara lokal. Air itu juga berpotensi diolah menjadi oksigen dan hidrogen untuk kebutuhan lain.
DISCO tidak hanya mencari es. Instrumen ini juga akan mempelajari sifat fisik permukaan Bulan. Salah satu persoalannya muncul saat wahana mendarat: semburan mesin roket dapat menerbangkan debu dan material lepas dari tanah, lalu berpotensi mengganggu peralatan atau struktur di dekatnya.
Peneliti juga akan menguji kestabilan medan agar NASA lebih memahami seberapa aman astronaut, kendaraan robotik, dan peralatan lain bergerak di permukaan Bulan. Gabungan data tersebut diharapkan membantu NASA merancang pendaratan dan operasi permukaan yang lebih aman, sekaligus mengembangkan teknologi untuk mengubah es Bulan menjadi sumber daya bagi Moon Base Program.
Jadi, pangkalan Bulan tidak akan dimulai dari sekadar mengirim manusia lalu mendirikan bangunan. NASA sedang menyusun semacam “peta bertahan hidup”: di mana tempat berlindungnya, apa yang bisa dipakai, dan bahaya apa yang mengintai.
Nah, sebelum manusia punya rumah di Bulan, NASA harus lebih dulu memastikan Bulan punya cukup tempat aman untuk ditinggali—atau setidaknya cukup banyak rahasia yang bisa dibuka.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily















































