PROBACA.COM – Kalau dua suplemen sama-sama disebut “vitamin D”, apakah efeknya pasti sama? Ternyata belum tentu. Temuan terbaru menunjukkan bahwa vitamin D2 dan D3 memang sama-sama bisa meningkatkan status vitamin D, tetapi tubuh tidak memperlakukan keduanya dengan cara yang benar-benar identik.
Perbedaannya bukan sekadar soal nama di label kemasan. Bukti yang terus bertambah menunjukkan bahwa vitamin D3 umumnya lebih efektif untuk menaikkan sekaligus mempertahankan bentuk utama vitamin D yang diukur melalui tes darah. Panduan dari National Institutes of Health di Amerika Serikat juga mencatat bahwa D3 cenderung meningkatkan kadar vitamin D lebih tinggi dan membuatnya bertahan lebih lama dibandingkan D2.
Vitamin D sendiri membantu tubuh menyerap kalsium dan menjaga tulang tetap sehat. Vitamin ini juga berperan dalam fungsi otot, saraf, dan sistem kekebalan tubuh. Di Inggris, masyarakat dianjurkan mempertimbangkan konsumsi 10 mikrogram vitamin D setiap hari selama bulan-bulan yang lebih gelap, ketika sinar matahari biasanya terlalu lemah untuk membuat kulit memproduksi cukup vitamin D.
Vitamin D2, yang juga disebut ergokalsiferol, biasanya dibuat dari jamur atau ragi yang terkena sinar ultraviolet. Sementara itu, vitamin D3 atau kolekalsiferol merupakan bentuk vitamin D yang diproduksi kulit manusia setelah terkena radiasi ultraviolet B dari sinar matahari.
Selama ini, vitamin D3 dalam suplemen sering berasal dari lanolin, bahan yang diperoleh dari wol domba. Namun, kini tersedia juga D3 bebas hewan, misalnya yang dibuat dari lumut kerak atau lichen. Pilihan ini penting bagi orang yang menjalani pola makan vegan atau berbasis tumbuhan.
Begitu masuk ke tubuh, vitamin D tidak langsung selesai bekerja. Hati mengolahnya menjadi 25-hidroksivitamin D, bentuk yang biasanya diukur dokter melalui tes darah untuk memperkirakan status vitamin D seseorang. Vitamin D2 menghasilkan 25-hidroksivitamin D2, sedangkan D3 menghasilkan 25-hidroksivitamin D3.
Nah, bentuk yang berasal dari D3 inilah yang menjadi pusat perhatian para peneliti. Mereka menemukan bahwa kadarnya bisa menurun setelah seseorang mengonsumsi vitamin D2.
Studi tahun 2025 yang diterbitkan di Nutrition Reviews mengumpulkan bukti dari berbagai uji terkontrol secara acak. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Surrey, John Innes Centre, dan Quadram Institute Bioscience.
Tim tersebut meninjau 20 penelitian. Sebanyak 11 di antaranya memiliki data yang cukup untuk dimasukkan ke dalam analisis utama. Dibandingkan dengan orang yang tidak menerima vitamin D2, mereka yang mengonsumsi D2 memiliki konsentrasi 25-hidroksivitamin D3 yang secara signifikan lebih rendah.
Bergantung pada cara hasilnya dianalisis, penurunan rata-ratanya berada di kisaran 9 hingga 18 nanomol per liter.
Namun, temuan ini bukan berarti vitamin D2 sekadar “menghapus” vitamin D dari tubuh. Vitamin D2 tetap meningkatkan kadar 25-hidroksivitamin D2 dan dapat berkontribusi pada status vitamin D secara keseluruhan. Kejutannya adalah, ketika satu bentuk vitamin D meningkat, bentuk lainnya tampaknya ikut menurun.
Emily Brown, peneliti pascadoktoral sekaligus peneliti utama dari disiplin Nutrition, Exercise, Chronobiology & Sleep di University of Surrey, mengatakan bahwa suplemen vitamin D tetap penting, terutama antara Oktober dan Maret di Inggris, saat tubuh tidak bisa membuat vitamin D dari sinar matahari secara memadai.
Namun, menurut Brown, penelitian mereka menemukan bahwa suplemen vitamin D2 justru dapat menurunkan kadar vitamin D3 dalam tubuh—efek yang sebelumnya belum diketahui. Dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing orang, vitamin D3 mungkin lebih bermanfaat bagi sebagian besar orang dibandingkan D2.
Lantas, mengapa vitamin D2 bisa berkaitan dengan penurunan vitamin D3? Para ilmuwan belum memiliki jawaban yang pasti.
Salah satu kemungkinan berkaitan dengan cara tubuh mengatur kadar vitamin D. Ketika konsentrasi metabolit vitamin D—senyawa hasil pengolahan vitamin D di dalam tubuh—meningkat, tubuh mungkin mempercepat proses pemecahan dan pembuangannya agar kadarnya tetap terkendali.
Dengan kata lain, peningkatan vitamin D2 mungkin mendorong tubuh membuang lebih banyak 25-hidroksivitamin D3 yang sudah ada. Percobaan terdahulu juga mengisyaratkan bahwa hubungan ini bisa berlangsung dua arah: suplemen D3 kadang-kadang dapat menurunkan metabolit yang berasal dari D2.
Seberapa penting efek “saling mengimbangi” ini bagi kesehatan sehari-hari masih belum jelas. Professor Cathie Martin dari John Innes Centre mengatakan bahwa analisis tersebut menegaskan pentingnya menyediakan vitamin D3 berbasis tumbuhan di Inggris.
Hal itu kini lebih memungkinkan karena sumber D3 bebas hewan sudah tersedia, termasuk vitamin D3 yang berasal dari lichen.
Perbedaan antara D2 dan D3 rupanya tidak berhenti pada kadar vitamin dalam darah. Penelitian lain yang diterbitkan di Frontiers in Immunology, dipimpin Professor Colin Smith dari University of Surrey, mengamati bagaimana suplementasi kedua bentuk vitamin tersebut memengaruhi aktivitas gen dalam darah.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup besar antara respons tubuh terhadap D2 dan D3, termasuk pada aktivitas yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Vitamin D3 tampak merangsang aktivitas yang berhubungan dengan sinyal interferon tipe I, sedangkan vitamin D2 tidak menunjukkan efek yang sama.
Interferon tipe I merupakan protein sinyal yang membantu memperingatkan sel ketika infeksi mulai berkembang. Protein ini menjadi bagian penting dari pertahanan awal tubuh terhadap virus dan patogen lain.
Menurut Professor Colin Smith, vitamin D3—tetapi bukan D2—tampaknya merangsang sistem sinyal interferon tipe I. Sistem ini merupakan salah satu garis pertahanan pertama tubuh terhadap bakteri dan virus. Karena itu, status vitamin D3 yang sehat mungkin membantu mencegah virus dan bakteri mendapatkan pijakan di dalam tubuh.
Tetapi, jangan buru-buru mengartikan temuan ini sebagai bukti bahwa mengonsumsi D3 pasti mencegah infeksi tertentu. Perubahan aktivitas gen dan sinyal kekebalan belum tentu langsung berarti lebih sedikit penyakit. Masih dibutuhkan penelitian klinis yang lebih besar untuk mengetahui arti perbedaan tersebut bagi kesehatan sehari-hari.
Jadi, D2 bukan berarti tidak berguna, dan temuan ini juga bukan alasan untuk mengganti atau menambah suplemen secara sembarangan. Yang terlihat dari penelitian adalah bahwa vitamin D2 dan D3 tidak sepenuhnya dapat diperlakukan sebagai dua versi yang sama persis.
Nah, kesannya sederhana tetapi penting: sama-sama bernama vitamin D, bukan berarti keduanya bekerja dengan cara yang sama. D3 cenderung lebih kuat mempertahankan kadar vitamin D utama dalam darah, dan mungkin memiliki pengaruh berbeda pada sistem kekebalan—meski dampak akhirnya bagi kesehatan masih terus diteliti.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Disadur dari ScienceDaily
















































