PROBACA.ID – Bayangkan seekor kucing berada di dalam kotak tertutup. Dalam eksperimen pikiran terkenal milik fisikawan Erwin Schrödinger, sebelum kotak dibuka, kucing itu secara aneh dianggap berada dalam dua kemungkinan sekaligus: hidup dan mati.
Di dunia sehari-hari, tentu kita tidak pernah melihat kucing, meja, atau manusia berada dalam kondisi seperti itu. Keanehan tersebut biasanya hanya muncul pada dunia partikel-partikel kecil. Ketika perilaku kuantum itu menghilang, fisikawan menyebutnya decoherence—ibarat sinyal radio yang perlahan tertutup suara bising.
Tetapi apa yang membuat “sinyal kuantum” itu lenyap? Salah satu tersangka utamanya adalah gravitasi. Kini, sebuah eksperimen baru di Laboratorium Nasional Gran Sasso milik INFN, Italia, memberi pukulan penting pada salah satu teori yang mengaitkan gravitasi dengan hilangnya superposisi kuantum.
Teori tersebut berakar dari gagasan fisikawan Hungaria, Frigyes Károlyházy, sejak 1960-an. Ia mengusulkan bahwa ruang-waktu—jaringan tempat ruang dan waktu berada—mungkin mengalami perubahan kecil yang tidak bisa dihindari. Perubahan ini, menurut modelnya, secara perlahan dapat mengacaukan keadaan kuantum, terutama pada benda-benda besar.
Masalahnya, perubahan ruang-waktu itu tidak bisa diamati secara langsung. Namun model tersebut membuat ramalan yang bisa diuji: partikel bermuatan akan bergerak dan mengalami percepatan secara acak, lalu memancarkan radiasi elektromagnetik yang sangat lemah.
Untuk mencarinya, tim peneliti bekerja jauh di bawah tanah, terlindung oleh batuan setebal 1,4 kilometer. Lokasi ini membantu menyingkirkan gangguan dari radiasi kosmik. Mereka menggunakan detektor dengan kristal germanium murni seukuran cangkir kopi, yang dilindungi lapisan tembaga dan timbal.
Setelah mengumpulkan data selama 62 hari dan mengurangi radiasi latar yang diperkirakan, hasilnya ternyata sunyi: tidak ada sinyal seperti yang diramalkan model Károlyházy.
Temuan ini, yang dipublikasikan di New Journal of Physics pada Juni 2026, bukan berarti gravitasi pasti tidak berperan dalam decoherence. Eksperimen ini hanya menyingkirkan satu versi penting dari gagasan tersebut.
Menurut Catalina Curceanu, anggota FQxI sekaligus direktur riset dan juru bicara Kolaborasi VIP di INFN-LNF, ketiadaan sinyal itu sendiri merupakan hasil ilmiah besar. Kristian Piscicchia, pemimpin eksperimen, menambahkan bahwa eksperimen presisi kini mulai menguji ide-ide yang dulu hanya hidup di atas kertas.
Jadi, kucing Schrödinger belum “dibunuh” oleh gravitasi—setidaknya bukan oleh model ini. Kadang-kadang, hasil nihil justru mempersempit jalan menuju jawaban: ketika alam tidak memberikan sinyal, ia sedang memberi tahu kita teori mana yang harus ditinggalkan.
***
DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer
Diolah dari sumber ScienceDaily
















































