FLASH NEWS

Ketika Fisikawan Berbeda Pendapat tentang Cara Kerja Alam Semesta

Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily
Sumber ScienceDaily

PROBACA.ID – Kalau para fisikawan berkumpul untuk menjawab pertanyaan tentang alam semesta, kita mungkin membayangkan mereka akan segera mencapai kata sepakat. Nyatanya, tidak sesederhana itu. Untuk banyak teka-teki terbesar dalam fisika, “jawaban standar” justru belum berhasil mendapat dukungan mayoritas.

Salah satu contohnya adalah model kosmologi standar yang dikenal sebagai ΛCDM—singkatan dari Lambda Cold Dark Matter. Model ini selama ini menjadi semacam peta utama untuk menjelaskan isi dan perkembangan alam semesta. Namun, dalam survei yang dibahas ScienceDaily dan diterbitkan di Physics Magazine, model tersebut tidak mendapat dukungan mayoritas responden.

Hasil ini mungkin berkaitan dengan temuan terbaru dari Dark Energy Spectroscopic Instrument atau DESI. Instrumen tersebut mengisyaratkan bahwa energi gelap—komponen misterius yang berkaitan dengan percepatan pemuaian alam semesta—mungkin berubah seiring waktu. Padahal, model ΛCDM menganggap energi gelap bersifat konstan. Ibaratnya, peta lama menganggap jalan selalu memiliki kemiringan yang sama, sementara pengukuran baru memberi tanda bahwa kemiringannya mungkin berubah.

Menariknya, hanya dua pertanyaan dalam survei yang memperoleh dukungan mayoritas. Sebanyak 68 persen fisikawan mengatakan Big Bang tidak selalu berarti awal waktu. Teori Big Bang lebih tepat menggambarkan bagaimana alam semesta berkembang dari keadaan yang sangat panas dan padat. Teori itu sendiri belum menjawab apakah waktu memiliki titik awal mutlak.

Baca Juga

Soal inflasi kosmik—periode pemuaian alam semesta yang sangat cepat di masa awal—hanya mendapat persetujuan 51 persen. Sementara itu, misteri materi gelap masih jauh dari kata selesai. Hanya 17 persen responden yang mendukung gagasan bahwa materi gelap tersusun dari partikel ringan yang belum ditemukan. Sebanyak 12 persen memilih kemungkinan bahwa teori gravitasi perlu diubah, dan kelompok terbesar, 21 persen, mendukung gabungan dari berbagai kemungkinan.

Perbedaan pendapat juga muncul dalam pencarian teori gravitasi kuantum, yaitu teori yang mencoba menjelaskan gravitasi memakai aturan mekanika kuantum. Teori dawai mendapat dukungan terbesar, tetapi hanya 19 persen. Gravitasi kuantum loop memperoleh 12 persen, sedangkan 18 persen menilai gravitasi mungkin memang tidak bisa dikuantisasi.

Niayesh Afshordi dari Perimeter Institute dan University of Waterloo, yang memimpin studi bersama Phil Harper serta Physics Magazine dari American Physical Society, melihat perbedaan ini bukan sebagai tanda fisika kehilangan arah. Justru di situlah peluang penemuan besar berada. Ketika jawaban belum seragam, berarti masih ada ruang bagi data yang lebih baik, teori yang lebih tajam, dan ide yang sama sekali tak terduga.

Jadi, alam semesta bukan sedang memberi kita soal dengan jawaban tunggal yang tinggal dicentang. Retakan dalam pemahaman kita mungkin justru menjadi celah masuk bagi cahaya penemuan berikutnya.

***

DISCLAIMER: Sebagian proses pengolahan artikel ini dibantu oleh teknologi AI. Pembaca disarankan memverifikasi kembali data dan informasi melalui sumber resmi atau sumber primer

Diolah dari sumber ScienceDaily

Facebook
WhatsApp
Print

PILIHAN EDITOR

ARTIKEL TERKAIT

TRENDING

BERITA TERKINI

PILIHAN EDITOR

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Advertisement
Advertisement