PROBACA.COM – Peningkatan jumlah pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong Pemerintah Kota Pekanbaru memperkuat kesiapan layanan kesehatan. Kunjungan pasien yang biasanya sekitar 170 orang sehari disebut meningkat menjadi rata-rata 300-an orang.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan, peningkatan tersebut perlu diikuti kesiapan fasilitas kesehatan dalam memenuhi kebutuhan penanganan pasien.
“Biasanya sehari sekitar 170 pasien, tapi saat ini dalam sehari bisa rata-rata 300-an orang,” ungkap Markarius dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru per 21 September 2026 mencatat 5.587 warga mengalami gangguan kesehatan dalam satu bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.987 merupakan kasus ISPA yang tercatat di 21 puskesmas.
Dengan demikian, ISPA mencakup sekitar 89 persen dari keseluruhan gangguan kesehatan yang dilaporkan. Sisanya meliputi pneumonia, asma, iritasi kulit, hingga mata merah.
Dominasi kasus gangguan pernapasan itu menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah persoalan asap karhutla. Namun, data yang disampaikan belum memerinci seberapa besar kasus tersebut telah dipastikan berkaitan langsung dengan paparan asap.
Pemkot Pekanbaru menginstruksikan seluruh 21 puskesmas untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melengkapi kebutuhan pelayanan, khususnya bagi pasien ISPA.
“Kita sudah minta dinas kesehatan untuk segera mengaktifkan seluruh Puskesmas, untuk melengkapi kebutuhan-kebutuhan terkait penanganan ISPA,” jelas Markarius.
Peningkatan kunjungan harian tersebut menggambarkan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan. Sementara itu, angka 4.987 kasus ISPA merupakan catatan dalam kurun satu bulan. Kedua data ini memiliki rentang waktu berbeda sehingga perlu dibaca sesuai cakupannya.
Persoalan kesehatan di tengah karhutla juga dilaporkan di sejumlah daerah lain. Berdasarkan laporan per 16 September 2026, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota.
Angka nasional tersebut memiliki tanggal pelaporan dan cakupan wilayah berbeda dengan data Pekanbaru per 21 September 2026, sehingga tidak dapat langsung dijumlahkan.
Untuk memperkuat penanganan di wilayah terdampak, Kemenkes menyiagakan 1.898 tenaga kesehatan di tujuh provinsi. Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, langkah itu ditujukan untuk mendekatkan akses pertolongan medis bagi lebih dari 13 juta masyarakat sekaligus mendukung tenaga kesehatan daerah.
Dukungan juga diberikan melalui bantuan logistik berupa 1.927.554 masker, 280 unit konsentrator oksigen atau oxygen concentrator, serta 36 tabung oksigen.
Dalam penanganannya, Kemenkes menempatkan masyarakat yang rentan mengalami gangguan kesehatan sebagai prioritas perlindungan.
“Kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit bawaan, seperti asma dan jantung menjadi prioritas utama,” kata Widyawati dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
“(Hal itu) dalam penanganan dan perlindungan kesehatan selama masa tanggap karhutla ini,” tambahnya.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan konsisten menggunakan masker selama menghadapi paparan asap.
Meski jumlah kasus telah dilaporkan, bahan keterangan tersebut belum memerinci nama tujuh provinsi, periode akumulasi lebih dari 151 ribu kasus ISPA, maupun tingkat keparahan pasien. Rincian itu diperlukan untuk memahami persebaran dan perkembangan gangguan kesehatan, serta menilai kebutuhan pelayanan di setiap wilayah.
***
















































