PUKUL 09.00 Wita, Selasa 15 September 2026 telepon berdering. Di ujung sana suara Fauzi Permata, sahabat sekaligus Humas PT J Resources Bolaang Mongondow (JBRM).
“So di mana. Acara so mulai. Kamari jo?,”
“iyo…iyo…” hanya dua kata itu yang keluar dari mulutku.
Sekira enam hari sebelumnya, dia mengabari kalau saya dalam daftar peserta pelatihan jurnalis dari Tempo Institute.
Dalam hati saya sudah berkata, ini kesempatan emas belajar lagi.
Masalahnya, saya salah mengingat jadwal. Entah karena pengaruh musim kemarau memasuki bulan ke kelima, agenda itu saya kira hari Kamis lusa.
Saya bergegas, semua agenda empat hari kedepan ditunda. Termasuk menengok putriku di Manado.
Di Ruang Paloko Kinalang, Hotel Sutan Raja, disinilah kami belajar dari Selasa hingga Kamis (15–17 September 2026) di kelas Tempo Institute yang diinisiasi PT JBRM.
Judul utamanya: Menggali Cerita, Mengangkat Makna, Teknik Storytelling untuk menulis kisah ESG yang kuat dan berdampak.
Motampot mendesprsikan kukis pisang (nagasari) yang kami taruh di tengah meja. Diding mewakili kelompok mengambil gaya tulisan sastra. Poin tertinggi dibungkus.
Rupanya, Regina tak mau ketinggalan mendeskripsikan kukis pisang dengan gaya puitis. Justru dijiwai saat mempersentasikannya. Diganjar poin tinggi juga.
Sementara, Pak Anang –sapaan kami— ikut mengamati sedari awal materi hingga merasakan atmosfir kelas yang riuh. Sesekali mantan Wakil Presiden Komisaris Kiroyan Partners memberikan tanggapan.
Hari ke tiga, Kamis 17 September 2026. Seharian kelas untuk Redaktur Foto Tempo, Gunawan Wicaksono. Pria dengan gaya khas rambut panjang, kumis dan janggut tumbuh lebat ini banyak menampilkan foto-foto dilayar, membuat kami menikmati saat diulas satu demi satu.
Salah satunya, Faisal Amu (ProBMR) dari kelompok Due’ yang berpengalaman di dunia fotografer begitu serius mengikuti sesi ini.
Pengambilan gambar, kata Mas Gun, adalah penempatan objek utama yang terdiri dari enam zona. Gambar harus bicara. Penulisan caption foto harus memenuhi unsur 5W+1H+1 S yaitu keamanan. Caption bukan hanya keterangan foto, tapi bagian penting utama sebuah karya cepretan.
Sesi praktek lapangan. Setelah diberi waktu 40 menit, foto hasil kelompok dibedah dari berbagai aspek. Pak Anang ikut mengomentari. Persaingan ketat terjadi. Foto kelompok Motampot karya Randi Manangin mengambil objek aktifitas pengeringan padi poin tertinggi. Randi yang menikahi wanita Poyowa Besar inilah menderek motorku yang mogok di hari ketiga pelatihan.
Hal-hal kecil seperti itu ternyata juga menjadi bagian dari cerita pelatihan. Karena storytelling bukan hanya apa yang sengaja kita cari. Kadang ia justru muncul dari sesuatu yang tidak direncanakan.
Tiap malam usai pelatihan, peserta dan mentor makan bersama di tempat berbeda-beda. Ngobrol bebas. Dan karokean. Semua digilir dipandu oleh Fauzi yang memiliki darah anak band.
Tiga malam berturut-turut Pak Anang ikut nimbrung dengan peserta. Diajak diskusi dan bercanda bersama, sesekali membuat kami tertawa lebar.
Di ruang kelas, ia adalah penyelenggara presdir perusahaan tambang emas terbesar di Sulut. Di meja makan, ia menjadi bagian dari cerita.















































